Menjelang final, data FIFA memperlihatkan kontras menarik antara dua finalis. Argentina datang dengan serangan paling produktif. Sebelum pertandingan puncak, sang juara bertahan telah mencetak 19 gol dengan xG 15,38, tertinggi di turnamen. Spanyol berada tepat di belakang dengan xG 14,96.

Namun, pertahanan La Roja berada pada tingkat berbeda. Mereka hanya kebobolan sekali dalam tujuh pertandingan sebelum final. FIFA juga mencatat 343 forced turnovers, situasi ketika tekanan memaksa lawan kehilangan bola, dibandingkan 297 milik Argentina.

Angka tersebut membantu menjelaskan cara De la Fuente membangun pertahanan. Timnya bukan sekadar sulit ditembus ketika berada di sekitar kotak penalti. Mereka berusaha mencegah serangan berkembang sejak tahap awal dengan menekan pembawa bola dan mempersempit jalur distribusi.

Tekanan atau pressing dalam sepak bola modern memang bukan sebelas orang berlari mengejar bola. Ia merupakan struktur yang mempunyai pemicu, arah gerakan dan pembagian ruang.

Seorang pemain mendekati lawan bukan selalu untuk langsung merebut penguasaan, tetapi dapat pula untuk memaksanya mengirim umpan ke wilayah yang sudah dipersiapkan sebagai perangkap.

Lalu datanglah Argentina dengan persoalan terbesar bernama Lionel Messi. Bagaimana menghentikannya? Jawaban Spanyol tampaknya bukan menugaskan seorang pemain mengikuti sang bintang ke mana pun ia bergerak. Mereka berusaha mengendalikan ekosistem di sekelilingnya.

Seorang genius seperti Messi tetap membutuhkan pasokan bola. Karena itu, salah satu cara mengurangi pengaruhnya adalah dengan mempersempit jalur distribusi bola dan mencegahnya menerima umpan dalam situasi yang memungkinkan ia berbalik menghadap gawang.

Hasil akhirnya luar biasa. Argentina tidak melepaskan satu pun tembakan selama 90 menit waktu normal dan baru memperoleh percobaan pertama sangat terlambat dalam pertandingan.

Sebaliknya, Spanyol terus menghasilkan tekanan, menguasai sekitar 65 persen bola dan melepaskan 20 tembakan sebelum Ferran Torres akhirnya mencetak gol pada menit ke-106.

Gol itu juga memperlihatkan keterbatasan statistik sekaligus kekuatannya. Setelah berjam-jam analisis, latihan posisi, pressing dan pengukuran probabilitas peluang, pertandingan akhirnya ditentukan oleh seorang pemain pengganti yang berada di tempat tepat ketika kesempatan datang.

Sains memang tidak menghapus ketidakpastian dalam sepak bola. Ia hanya membantu meningkatkan probabilitas agar situasi yang menguntungkan lebih sering tercipta.