Daskim, seorang marbot yang mendapat hadiah umroh dari Bupati Kuningan. (Foto: Sulindo/Ulfa Nurfauziah)

KUNINGAN, koransulindo.com – Tidak semua orang yang berjasa berdiri di atas panggung. Sebagian justru bekerja tanpa sorotan, menjalankan perannya setiap hari, dan baru diperhatikan ketika ada yang sengaja mencari cerita mereka.

Semangat itulah yang dibawa Forum Diskusi Waroeng Rakyat melalui Puncak Pangajen Rakyat Pinunjul 2026 di Erion Space, Jalan Baru Awirarangan–Kuningan, Minggu (23/8/2026).

Dalam bahasa Indonesia, Pangajen Rakyat Pinunjul dapat dimaknai sebagai penghargaan masyarakat unggul atau apresiasi rakyat berprestasi. Nama tersebut sekaligus menggambarkan tujuan kegiatan, yakni memberikan penghargaan kepada warga yang memiliki kisah perjuangan dan memberikan manfaat bagi lingkungan, meski tidak selalu dikenal luas.

Penghargaan tersebut tidak diarahkan kepada pejabat, pengusaha besar, atau tokoh yang sudah dikenal publik. Waroeng Rakyat memilih lima kelompok masyarakat yang dinilai memiliki kisah perjuangan dan tetap memberi manfaat bagi lingkungannya, yaitu petani, guru, buruh, marbot, dan pedagang.

Salah satu penerimanya adalah Daskim, warga Desa Dukuhmaja, Kecamatan Luragung. Ia dinobatkan sebagai Marbot Pinunjul 2026.

Ketua Pelaksana Pangajen Rakyat Pinunjul 2026, M. Dzikri Caesar R, mengatakan gagasan tersebut berawal dari kegelisahan melihat banyak masyarakat dengan keterbatasan ekonomi, fisik, maupun akses sosial yang tetap mampu menghidupi keluarga dan memberi manfaat bagi orang lain.

“Umumnya, penghargaan itu kan dilakukan untuk pengusaha, untuk politisi, ataupun pejabat. Tapi kita melihat dalam konteks hari ini, yang layak mendapatkan penghargaan adalah masyarakat-masyarakat kecil yang mempunyai cerita inspiratif,” ujar Dzikri.

Menurutnya, penghargaan itu bukan sekadar mencari siapa yang paling unggul. Yang ingin diangkat adalah cerita perjuangan warga yang selama ini jarang mendapat perhatian.

Kisah Daskim kemudian mendapat perhatian khusus dari Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si. Setelah mendengar pengabdiannya sebagai marbot, Dian secara spontan memberikan hadiah umrah.

“Karena saya mendengar tadi ada marbot masjid yang dapat apresiasi, saya sudah mengecek ada satu lagi slot, saya hadiahkan apresiasi untuk diberikan hadiah umrah,” kata Dian.

Daskim mengaku tidak menyangka mendapatkan hadiah tersebut. Ia merasa penghargaan itu bukan hanya ditujukan kepada dirinya, tetapi juga menjadi bentuk perhatian kepada para marbot yang selama ini menjalankan tugasnya di tengah masyarakat.

“Saya dan teman-teman marbot lainnya merasa sangat dihargai. Terlebih lagi, alhamdulillah, saya diberikan hadiah umrah untuk berangkat ke Tanah Suci,” ujar Daskim.

Selain Daskim, empat warga lainnya menerima penghargaan sebagai Pinunjul 2026. Mereka adalah Amini dari Desa Cikadu sebagai Petani Pinunjul, Dede Eka Ukmana dari Desa Rajadanu sebagai Guru Pinunjul, Abdul Khalim dari Desa Kadatuan sebagai Buruh Pinunjul, dan Nina Setianah dari Desa Maleber sebagai Pedagang Pinunjul.

Masing-masing juara pertama menerima uang tunai, sertifikat, plakat, dan sembako. [UN]