Jakarta, koransulindo.com — Penyelenggaraan MADFest Merah Putih 2026 Festival Film Pendek Kelas Pekerja telah resmi merampungkan seluruh rangkaian kegiatannya. Sebagai bentuk refleksi menyeluruh atas ajang tersebut, pihak panitia menggelar sesi diskusi terbatas guna mengevaluasi efektivitas pelaksanaan malam puncak penganugerahan sekaligus mematangkan proyeksi penyelenggaraan di tahun mendatang.
Forum diskusi ini menjadi momentum krusial untuk memetakan capaian serta berbagai tantangan teknis maupun artistik yang dihadapi selama agenda berlangsung.
Berbagai masukan strategis dihimpun untuk memastikan kualitas ajang ini terus meningkat di masa depan. Salah satu fokus utama yang dibahas adalah rencana ekspansi cakupan kompetisi untuk MADFest 2027.
Penyelenggara mewacanakan penambahan variasi kategori karya agar mampu merangkul lebih banyak partisipasi dari para pekerja kreatif serta insan film dari beragam sektor.
Penggagas ajang ini yang juga menjabat sebagai Ketua Yayasan Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail (YPPHUI), Sonny Pudjisasono, menegaskan pentingnya sinema sebagai media perjuangan dan ekspresi yang bermakna.
“Karena itu, festival ini mengajak para sineas untuk melihat pekerja bukan dengan rasa iba, melainkan dengan rasa hormat. Film menjadi demo tanpa kekerasan. Sebuah demonstrasi yang diwujudkan melalui gambar bergerak, tata suara, penyuntingan, cahaya, warna, dan emosi. Kamera menggantikan megafon. Layar menggantikan jalanan. Bahasa visual menggantikan slogan,” jelas Sonny.
Beliau juga kembali menggarisbawahi daya gugah yang dimiliki oleh seni film dalam menyampaikan aspirasi masyarakat kelas pekerja.
“Di sinilah kekuatan sinema bekerja: menggerakkan pikiran tanpa memaksa, membangun empati tanpa menggurui, dan menghadirkan kritik sosial tanpa kehilangan nilai artistik,” tegas Sonny.
Ia memungkas pandangannya dengan menyampaikan keyakinan fundamental yang diusung oleh ajang MADFest Merah Putih 2026:
“MAD FEST MERAH PUTIH 2026 percaya bahwa ketika kreativitas bertemu dengan keberanian menyuarakan realitas, lahirlah sinema yang bukan hanya indah untuk ditonton, tetapi juga bermakna untuk dikenang,” tuturnya.
Langkah evaluasi dan gagasan perluasan kategori pada MADFest 2027 diharapkan semakin memperkokoh posisi festival ini sebagai wadah representatif, edukatif, dan inklusif bagi seluruh sineas serta kelas pekerja di Indonesia. [IQT]





