Perjalanan Spanyol sebenarnya tidak dimulai dengan sempurna. Pada pertandingan pertama Grup H, mereka ditahan Cabo Verde 0-0. Angka-angkanya terdengar hampir seperti lelucon statistik: La Roja menguasai bola 74,2 persen, melepaskan 27 tembakan dan memperoleh 11 tendangan sudut. Lawannya hanya enam kali menembak. Namun, papan skor yang tidak mengenal teori tetap menulis angka kembar tanpa gol.

Di sinilah informasi pertandingan menjadi berguna. Statistik data pertandingan tidak menjamin kemenangan, tapi membantu pelatih memahami mengapa keunggulan di atas kertas gagal menghasilkan keunggulan di lapangan.

Setelah laga itu, permainan mereka berkembang. Arab Saudi dihantam 4-0, Uruguay dikalahkan 1-0, kemudian Austria disingkirkan 3-0 pada fase gugur. Portugal menyerah 1-0, Belgia 2-1, Prancis 2-0, sebelum akhirnya Argentina akhirnya tumbang melalui gol Ferran Torres di menit ke-106 pada perpanjangan waktu.

Delapan pertandingan menghasilkan tujuh kemenangan dan satu seri, dengan hanya satu gol bersarang di gawang mereka sepanjang turnamen. Catatan itu menunjukkan sebuah sistem yang semakin matang ketika kompetisi berjalan.

Setelah fase grup yang belum sepenuhnya meyakinkan, FIFA mencatat adanya penyesuaian taktis oleh staf kepelatihan Spanyol, terutama untuk memperbaiki pressing, transisi dan kemampuan mengendalikan pertandingan melalui penguasaan bola.

Artinya, De la Fuente tidak membuang fondasi permainan timnya ketika menemukan masalah. Ia memperbaiki bagian yang tidak bekerja. Di sinilah perbedaan antara dogma dan metode ilmiah. Dogma memaksa kenyataan mengikuti keyakinan. Sains justru menggunakan kenyataan untuk menguji keyakinan.