Spanyol menjuarai Piala Dunia 2026 melalui penguasaan ruang, pressing dan pendekatan berbasis data. Seberapa jauh sains dan AI bekerja di balik taktik La Roja? (Cak AT)

Catatan Cak AT:

Sejarah mencatat, Spanyol menjuarai Piala Dunia 2026 menundukkan Argentina 1:0 di final. Kita tak tahu persis apa yang dilakukan pelatih Spanyol, Luis de la Fuente, sehingga membuat Argentina mati kutu. Saya hanya menduga, barangkali Lionel Messi sudah dipelajari Spanyol jauh sebelum ia menginjak rumput stadion final.

Bukan hanya melalui rekaman bagaimana kaki kiri Messi memperlakukan bola, melainkan juga lewat ribuan informasi. Dipelajari: di ruang mana ia paling sering menerima umpan, ke arah mana tubuhnya menghadap, siapa sasaran operan berikutnya, bagaimana pergerakannya ketika Argentina membangun serangan.

Messi seringkali kehabisan akal, barangkali karena De la Fuente mempelajari persis apa yang terjadi bila jalur distribusi bola kepadanya dipersempit. Saya mengatakan “barangkali”, sebab sampai tulisan ini dibuat belum ada bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.

Saya hanya membayangkan bahwa Luis de la Fuente secara khusus menggunakan kecerdasan buatan untuk merancang strategi menghadapi Argentina. Tapi, itu hanya dugaan. Jangan sampai kita terkena penyakit zaman digital: setiap menemukan sesuatu yang canggih, AI segera dituduh sebagai pelakunya.

Yang sudah jelas, sepak bola modern memang telah memindahkan sebagian pekerjaan pelatih dari lapangan hijau ke ruang analisis. Pertandingan kini tidak hanya dibaca dengan mata dan intuisi, tetapi juga melalui kamera, komputer, statistik, video analysis, tracking pemain, heat map, passing network, expected goals atau xG, serta berbagai perangkat untuk menemukan pola yang sulit ditangkap pengamatan biasa.

Kemenangan Spanyol 1-0 atas Argentina setelah perpanjangan waktu dalam final Piala Dunia 2026 menarik dibaca dari sudut itu. Bukan karena kita tahu komputer atau algoritma apa yang digunakan De la Fuente, melainkan karena perjalanan La Roja memperlihatkan cara sebuah tim mempertahankan prinsip permainan sambil terus menyesuaikan penerapannya terhadap persoalan yang mereka hadapi.

Mereka tidak memainkan taktik yang persis sama kepada setiap lawan. Namun, mereka juga tidak berganti identitas setiap menghadapi musuh baru. Filosofinya tetap, sedangkan metode penerapannya berubah. Itulah yang saya sebut sains taktik.