Pemadaman TPSA Ciniru Kuningan. (Dok BPBD KABUPATEN KUNINGAN)

Kuningan, koransulindo.com – Kebakaran Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) Ciniru, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, akhirnya dinyatakan selesai ditangani setelah berlangsung selama 13 hari.

Berdasarkan rilis akhir Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kuningan, proses penanganan kebakaran yang dimulai pada Rabu, 12 Agustus 2026, berakhir pada Senin, 24 Agustus 2026. Penanganan dilakukan melalui pemadaman dan pendinginan secara bertahap hingga tidak lagi ditemukan api yang menyebar ke luar kawasan TPSA.

Kebakaran diketahui sekitar pukul 04.00 WIB pada 12 Agustus. Saat itu, petugas TPSA mencium bau asap dan melihat api serta kepulan asap dari tumpukan sampah. Setelah diperiksa, api diketahui berasal dari tumpukan sampah dan kemudian menyebar dengan cepat.

Lokasi TPSA yang terbakar berada di Blok Bubulak Titisara, Desa Ciniru, Kecamatan Jalaksana, dan merupakan TPSA yang dikelola UPTD Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kuningan. Dalam laporan awalnya, BPBD mencatat tidak ada korban jiwa akibat kejadian tersebut.

Pada hari pertama, petugas TPSA bersama aparat desa, kecamatan, TNI, Polri, UPT Damkar, BPBD dan unsur terkait langsung melakukan upaya pemadaman. BPBD juga menurunkan tim assessment dan tim penanganan untuk memetakan kondisi di lapangan.

Penanganan kemudian berlangsung secara intensif dari hari ke hari. Pada 13 Agustus, tim gabungan yang berjumlah sekitar 200 orang melakukan pemadaman mulai pagi hingga sore. Saat itu, area yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar lima hektare. Sehari kemudian, luas area terdampak diperkirakan meningkat menjadi sekitar 5,3 hektare.

Upaya pemadaman tidak hanya mengandalkan penyemprotan air. Tim menggunakan citra drone untuk memetakan wilayah kebakaran. Seiring penanganan berlangsung, drone thermal digunakan untuk mendeteksi titik panas dan api yang tidak selalu terlihat secara kasatmata.

Data tersebut menjadi acuan bagi tim gabungan untuk menentukan titik yang harus diprioritaskan dalam proses pemadaman dan pendinginan.

Pada 14 dan 15 Agustus, sekitar 100 personel masih dikerahkan untuk menangani kebakaran. Luasan area terbakar diperkirakan sekitar 5,3 hektare. Memasuki 15 Agustus, laporan BPBD menyebut titik api mulai berkurang dan kepulan asap mulai menipis.

Namun, kondisi belum sepenuhnya aman. Pada 16 Agustus, area terdampak diperkirakan sekitar 5,4 hektare dan masih ditemukan titik api baru di bagian timur. Tim kemudian melakukan pemadaman sekaligus pendinginan di sejumlah titik yang masih mengeluarkan api dan asap.

Memasuki 17 Agustus, jumlah personel gabungan yang terlibat sekitar 50 orang. Penanganan difokuskan pada proses pendinginan di sejumlah titik api dan kepulan asap di bagian timur, selatan, dan utara. BPBD Provinsi Jawa Barat turut menggunakan alat sprinkle tripod untuk membantu proses pendinginan di beberapa titik.

Pada 18 Agustus, tim masih menemukan api yang sempat merembet ke arah kebun bambu milik warga. Kondisi tersebut segera ditangani. Pada saat yang sama, titik api secara umum mulai berkurang dan proses pendinginan terus dilakukan. Pemantauan melalui drone thermal kembali digunakan untuk menjadi dasar penyusunan rencana operasi berikutnya.

Penanganan berlanjut hingga 19, 20 dan 21 Agustus. Pada periode tersebut, api mulai terlokalisir di dalam kawasan TPSA dan tidak lagi menjalar ke lahan warga. Meski demikian, sejumlah titik api kecil masih ditemukan, khususnya di sektor tengah, sehingga proses pendinginan tetap dilakukan.

Pada 20 Agustus, tim mencatat api telah terlokalisir di area TPSA dan tidak terdapat api di lahan warga. Penanganan bahkan dilanjutkan hingga pukul 23.00 WIB sebelum kembali diteruskan pada hari berikutnya.

Sehari kemudian, beberapa titik api kecil masih ditemukan di sektor tengah. Meski jumlah titik api terus berkurang, tim gabungan tetap melakukan pendinginan dan pemantauan menggunakan citra drone thermal. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penanganan kebakaran TPSA tidak berhenti ketika kobaran api besar mulai hilang, tetapi dilanjutkan untuk mencegah munculnya kembali api dari bagian dalam tumpukan sampah.

Pada 22 Agustus, pemadaman dilakukan oleh Damkar Kabupaten Kuningan, sementara BPBD melakukan pemantauan. Api masih terlokalisir di area TPSA dan beberapa titik api kecil tersisa di sektor tengah. Pada 23 Agustus, pemadaman dan pendinginan dilakukan BPBD Kuningan dengan kondisi api tetap terlokalisir di sektor tengah.

Puncak penanganan berlangsung pada Senin, 24 Agustus. BPBD melaporkan titik api dan kepulan asap hanya terlokalisir di area TPSA dan tidak ditemukan penyebaran ke lahan warga. Meski masih terdapat sejumlah kepulan asap yang berpotensi terbakar kembali, tim melakukan pemadaman dan pendinginan hingga pukul 19.30 WIB.

Setelah proses tersebut, BPBD menyatakan penanganan kebakaran TPSA Ciniru selesai. Meski demikian, pemantauan tidak berhenti. BPBD akan melakukan monitoring secara berkala untuk memastikan tidak ada lagi titik api maupun potensi munculnya kembali kebakaran.

Melibatkan Banyak Unsur

Panjanganya proses penanganan membuat kebakaran TPSA Ciniru melibatkan banyak unsur. Dalam rilisnya, BPBD mencatat keterlibatan Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Pekerjaan Umum, TNI, Polri, Yonif TP 839/SA, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Barat, BPBD Provinsi Jawa Barat, BPBD Kabupaten Kuningan, BPBD Kota Cirebon, UPT Damkar Kabupaten Kuningan, DPUTR, PDAM Tirta Kamuning, Dinas Kesehatan, PMI, aparat kecamatan dan desa, relawan serta masyarakat.

Sejumlah kendaraan dan peralatan juga dikerahkan, mulai dari kendaraan operasional Damkar, tangki BPBD, tangki TNI, tangki PDAM, tangki DPUTR dan PMI, hingga excavator milik DLH dan DPUTR. BPBD Provinsi Jawa Barat juga mengerahkan empat unit alat pemadam springkle tripod.

Selain pemadaman, dukungan logistik dan layanan kesehatan diberikan bagi petugas yang berada di lapangan. BPBD Kabupaten Kuningan membuka Dapur Umum Lapangan untuk memenuhi kebutuhan logistik tim gabungan, sementara layanan kesehatan melibatkan Dinas Kesehatan, puskesmas dan rumah sakit.

BPBD mencatat tidak terdapat korban jiwa dalam kebakaran tersebut. Sementara itu, kerugian berupa terbakarnya kawasan TPSA Ciniru belum dapat dihitung secara pasti karena luas kerugian pada laporan awal belum teridentifikasi secara keseluruhan.

Dengan selesainya penanganan pada hari ke-13, perhatian kini bergeser pada tahap pemantauan. [UN]