KUNINGAN, koransulindo.com – Lebih dari 900 orang berkumpul di Kompleks Makam Astana Gede Kuningan, Sabtu (23/8/2026). Mereka mengikuti Haul Syekh Maulana Akbar, Maulid Nabi Muhammad SAW, istigasah, doa bersama, dan tabligh akbar dalam rangkaian Hari Jadi ke-528 Kabupaten Kuningan.
Rangkaian kegiatan tersebut menghadirkan Ustadz Sholeh Mahmoed Nasution atau Ustadz Solmed.
Syekh Maulana Akbar adalah ulama yang dalam tradisi sejarah Kuningan dikenal sebagai salah satu tokoh awal penyebaran Islam di wilayah tersebut.
Haul Syekh Maulana Akbar bukan kegiatan yang baru digelar tahun ini. Peringatan tersebut merupakan agenda rutin tahunan dalam rangkaian Hari Jadi Kabupaten Kuningan.

Biografi Syekh Maulana Akbar
Syekh Maulana Akbar diperkirakan lahir sekitar tahun 1400 Masehi di Malaka. Ia merupakan putra Syekh Datuk Ahmad dan Syarifah Mudaim. Sejak kecil, ia bersama kakaknya, Syekh Datuk Kahfi, memperoleh pendidikan agama dari ayahnya.
Syekh Maulana Akbar kemudian menetap di Makkah. Di sana ia disebut menjadi guru, mendirikan madrasah sekaligus menjalani aktivitas sebagai saudagar.
Setelah kembali dari Makkah, ia menemui kakaknya, Syekh Datuk Kahfi atau Syekh Nurjati, di Amparan Jati. Dari pertemuan tersebut, Syekh Maulana Akbar kemudian mengikuti jejak sang kakak untuk menyebarkan Islam.
Dalam Naskah Pangeran Wangsakerta, tokoh tersebut disebut memiliki nama asli Datuk Bayanillah. Nama Syekh Maulana Akbar sendiri lebih dikenal di Kuningan sebagai gelar yang diberikan masyarakat.
Sejumlah sumber sejarah dan tradisi lokal menempatkannya sezaman dengan Syekh Datuk Kahfi di Cirebon dan Syekh Quro atau Syekh Hasannudin di Karawang. Ketiganya dikenal dalam tradisi sejarah Jawa sebagai tokoh yang berperan dalam perkembangan awal Islam di Jawa.
Menurut Naskah Pangeran Wangsakerta, Syekh Maulana Akbar mulai menyebarkan Islam di Kuningan sekitar 1450 Masehi. Desa Sagarahiang, Kecamatan Darma, menjadi salah satu titik awal dakwahnya.
Sagarahiang bukan wilayah sembarangan. Kawasan tersebut merupakan salah satu desa tua di Kuningan dan pernah menjadi pusat pemerintahan pada masa Keraton Saunggalah.
Di sana Syekh Maulana Akbar membangun langgar sebagai pusat dakwah. Langgar tersebut kemudian berkembang menjadi pondok yang dikenal sebagai Pondok Pesantren Pamijen atau Pamijahan.
Dakwahnya dilakukan melalui pendidikan agama sekaligus pendekatan budaya. Ia mengajarkan fikih Mazhab Syafi’i kepada masyarakat setempat. Dari Sagarahiang, dakwah kemudian bergerak ke wilayah lain, termasuk kawasan Kajene yang pada masa itu menjadi sebutan bagi wilayah yang kelak dikenal sebagai Kuningan.
Pola tersebut menunjukkan bahwa penyebaran Islam tidak berlangsung dalam ruang kosong. Ia berhadapan dengan masyarakat yang telah memiliki tradisi, kebudayaan dan tatanan sosial sendiri. Pendekatan budaya menjadi salah satu cara agar ajaran baru dapat diterima dan berinteraksi dengan kehidupan masyarakat.
Perjalanan Syekh Maulana Akbar kemudian berlanjut hingga Sidapurna. Di sana ia disebut menikah dengan Nyi Wandansari, kerabat Kerajaan Pajajaran. Dari pernikahan tersebut lahir Syekh Maulana Arifin yang kemudian meneruskan perjuangan ayahnya melalui Pondok Pesantren Sidapurna.
Syekh Maulana Arifin juga dikenal mengembangkan peternakan, terutama kuda. Tradisi tersebut kemudian dikaitkan dengan kuda yang menjadi salah satu simbol Kabupaten Kuningan.
Syekh Maulana Akbar kemudian wafat dan dimakamkan di kawasan Sidapurna, di Kompleks Makam Astana Gede Kuningan.
Makam tersebut hingga kini menjadi salah satu tujuan ziarah masyarakat dari berbagai daerah. Kunjungan biasanya meningkat pada waktu-waktu tertentu, seperti Jumat Kliwon, bulan Maulid dan hari besar Islam.
Karena itu, haul tahunan yang digelar dalam rangka Hari Jadi Kuningan memiliki makna lebih dari sekadar agenda seremonial. Ia menjadi cara masyarakat merawat hubungan dengan sejarah lokal sekaligus menghidupkan kembali ingatan tentang tokoh yang berperan dalam perjalanan Islam di Kuningan. [UN]


