Perempuan di Garis Depan

Perempuan di Garis Depan

Bali

Pagi hari, 2 Maret 1946, sebuab kapal yang disebut Gajah Merah mendarat di Pantai Sanur, membawa kesatuan alat pemerintahan NICA, komplet dengan persenjataannya. Yang memimpin Letkol Inf. F.H. Ten Mulen.

Pasukan dari Bigade X dan XI ini  menyebar ke seluruh wilayah Bali menggunakan 150 buah truk dan jip. Pada 5 Maret 1946, pasukan Belanda menduduki Singaraja.

Pada perlawanan di Singaraja ini, menurut sebuah makalah penelitian yang dilakukan tim mahasiswa sejarah Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja pada tahun 2013, Qori’ Bayyinaturrosyi dan kawan-kawan, tersebutlah I Gusti Ayu Rija dari Puri Anyar. Memang, keluarga bangsawan Bali di Puri Anyar merupakan kelompok bangsawan yang pro-Republik dan sangat anti-Belanda.

I Gusti Ayu Rija lahir pada tahun 1930 dan pada masanya dikenal sebagai gadis bangsawan yang senang berbaur dengan rakyat kebanyakan. Dia kemudian mengajak rekan-rekannya bergabung dengan badan perjuangan.

Tugasnya mengumpulkan iuran dan logistik berupa beras dan jagung dari banjar (kesatuan desa di Bali). Juga mengawal para pejuang yang hendak turun ke garis depan, sebagai telik sandi.

Pengalamannya dengan pertempuran baru terjadi di Pangkung Bangka  pada Juli 1946. Pada pertempuran dengan tentara NICA ini, sembilan pemuda gugur dan 20 tentara NICA tewas akibat truknya terkena ranjau.

Ketika itu, Ayu Rija sedang bertugas mengantarkan makanan dan logistik. Di sana, ia berkenalan dengan I Gusti Ngurah Wika Ningrat, yang merupakan komandan pasukan Indonesia yang memimpin penghadangan pasukan NICA.

Setelah pertempuran itu, pasukan NICA mengejar para tokoh perlawanan, termasuk Ngurah Wika. Namun setelah Pertempuran Margarana pada November 1946, kontak fisik Belanda dan pejuang berkurang dan ada genjatan senjata.

Di Bali juga ada Dewa Agung Istri Kaniya, yang merupakan Raja Klungkung XIV. Ia merupakan salah satu pemimpin perlawanan terhadap invasi Belanda dalam Perang Kusamba, 24 Mei 1949.

Belanda memang akhirnya berhasil menaklukkan Klungkung. Namun, pasukan Belanda kehilangan Jenderal Michaels—komandan perang yang pernah menaklukan Benteng Bonjol dalam Perang Paderi—seorang perwira, dan tujuh serdadu lainnya.