Perempuan di Garis Depan

Perempuan di Garis Depan

Emmy Saelan

Keterlibatan perempuan dalam revolusi fisik sebagai kombatan juga terjadi di Sulawesi Selatan, bahkan dalam bentuk yang lebih nyata. Kombatan itu bernama Emmy Saelan. Masih berusia 22 tahun ketika ia memutuskan bergabung bersama adik laki-lakinya, Maulwi  Saelan, pada Laskar Pemberontakan Rakyat Indonesia (Lapris), Juli 1946.

Perempuan kelahiran Makassar pada 15 oktober 1924 ini merasakan sulitnya mendapatkan akses pendidikan di HIS karena keluarganya bukan dari kalangan ambtenaar.. Namun, ia beruntung mengenyam pendidikan di Zusterschool Arendsberg dan kemudian melanjutkan ke HBS Makassar pada 1937. Sayangnya ketika masih duduk di kelas 4, Jepang  sudah menduduki Makassar.

Emmy Saelan

Menurut buku Sulawesi yang diterbitkan Kementerian Penerangan (1953), tugas utama Emmy sebetulnya sebagai telik sandi. Dia menciptakan aturan menggunakan sandi untuk mengenal sesama pejuang. Misalnya jika dia memegang rambut dan orang yang ditemui juga memegang rambut, artinya orang itu adalah sesama teman pejuang.

Emmy gugur di Kasikasi, tiga kilometer dari Makassar, dalam pertempuran dengan tentara Belanda pada 23 Januari 1947. Namun, sebelum gugur sebagai kusuma bangsa, Emmy sempat mencabut pin granat yang ia pegang dan membunuh delapan serdadu Belanda.

Maulwi Saelan dalam bukunya, Dari Revolusi 45 sampai Kudeta 66: Kesaksian Wakil Komandan Tjrakrabirawa (2001) menceritakan, Emmy memimpin satu  pasukan yang terdiri dari 40 orang. Namun, yang bersenjata api hanya satu regu, selebihnya memakai senjata tradisional. Pasukan itu sebetulnya di bawah koordinasi Wolter Monginsidi, yang berada dalam sayap terpisah.

Emmy diperintah mundur ke Kasikasi dan dalam gerakan mundur inilah terjadi kontak senjata. Emmy sempat diperintahkan menyerah, tetapi malah melemparkan granat.

Dalam bukunya, Maulwi membenarkan Emmy gugur karena ledakan granat dan menewaskan juga beberapa anggota pasukan Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger (KNIL). Semua anggota pasuka Emmy gugur. Menurut kesaksian Abdullah Hadade, salah seorang anggota yang lolos dalam kontak senjata itu, hanya Emmy yang tersisa sebelum dia melempar granat.

Maulwi juga membenarkan keterlibatan Emmy dalam  Laspri dan juga pasukan khusus yang disebut Harimau Indonesia. Sang kakak disebut duduk sebagai Pemimpin Laskar Wanita/Palang Merah dan wakilnya bernama Sri Mulyati. Emmy sendiri punya nama samaran: Daeng Kebo.