Kenaikan harga Pertamax berdampak pada pola konsumsi bahan bakar masyarakat. (Foto: Sulindo/Ulfa Nurfauziah)

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) kembali menjadi perhatian masyarakat dalam beberapa waktu terakhir. Meski yang mengalami penyesuaian adalah BBM non-subsidi, dampaknya dirasakan oleh berbagai kalangan, terutama masyarakat menengah yang kini mulai mencari alternatif bahan bakar yang lebih terjangkau untuk menghemat pengeluaran.

PT Pertamina (Persero) telah melakukan penyesuaian harga BBM non-subsidi pada 10 Juni 2026. Salah satu yang mengalami kenaikan adalah Pertamax (RON 92). Sebelum penyesuaian, harga Pertamax berada di angka Rp12.300 per liter. Setelah penyesuaian, harganya meningkat menjadi Rp16.250 per liter.

Sementara itu, BBM bersubsidi tidak mengalami perubahan harga. Hingga saat ini, harga Pertalite (RON 90) masih bertahan di angka Rp10.000 per liter, sedangkan BioSolar Subsidi tetap dijual dengan harga Rp6.800 per liter. Harga tersebut sama seperti sebelum penyesuaian harga BBM non-subsidi dilakukan.

Meskipun kenaikan hanya terjadi pada BBM non-subsidi, dampaknya tetap terasa di tengah masyarakat. Selisih harga yang cukup signifikan membuat sebagian pengguna Pertamax mulai beralih ke Pertalite untuk menekan biaya operasional kendaraan sehari-hari. Fenomena ini banyak ditemukan pada kelompok masyarakat menengah yang berusaha menyesuaikan pengeluaran di tengah kondisi ekonomi yang dinamis.

Kenaikan harga BBM non-subsidi sendiri dipengaruhi oleh sejumlah faktor global dan domestik. Salah satu penyebab utama adalah melonjaknya harga minyak mentah dunia. Harga BBM non-subsidi memang bersifat fluktuatif dan secara berkala disesuaikan mengikuti harga rata-rata minyak mentah dunia serta biaya produksi dan distribusi energi.

Selain itu, ketegangan geopolitik di berbagai kawasan dunia, terutama di Timur Tengah, turut memberikan tekanan terhadap pasar energi global. Konflik dan ketidakstabilan di kawasan tersebut memengaruhi rantai pasokan minyak dunia sehingga mendorong kenaikan harga minyak mentah internasional.

Faktor lain yang turut berpengaruh adalah membengkaknya biaya impor energi dan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Kondisi ini menyebabkan biaya pengadaan energi menjadi lebih tinggi, yang pada akhirnya berdampak pada penyesuaian harga BBM non-subsidi di dalam negeri.

Di sisi lain, pemerintah masih mempertahankan harga BBM bersubsidi untuk menjaga daya beli masyarakat. Namun dalam kondisi tertentu, penyesuaian harga BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar juga dapat dilakukan guna menjaga keberlanjutan anggaran subsidi dalam APBN serta memastikan ketersediaan pasokan energi dalam jangka panjang.

Kenaikan harga BBM hampir selalu menimbulkan efek berantai terhadap berbagai sektor. Salah satu dampak yang paling cepat dirasakan adalah meningkatnya biaya distribusi barang. Ketika biaya transportasi naik, harga kebutuhan pokok dan berbagai barang konsumsi lainnya berpotensi ikut mengalami kenaikan.

Sektor transportasi juga menjadi salah satu yang paling terdampak. Ongkos transportasi umum, layanan ojek online, hingga biaya logistik berpeluang mengalami penyesuaian karena meningkatnya biaya operasional kendaraan.

Selain dampak ekonomi, kenaikan harga BBM juga memengaruhi perilaku konsumsi masyarakat. Banyak orang mulai lebih selektif dalam mengatur pengeluaran dan mencari cara untuk menghemat biaya transportasi maupun kebutuhan sehari-hari.

Meski sering dipandang sebagai kabar yang kurang menggembirakan, kenaikan harga BBM juga mendorong sebagian masyarakat untuk beradaptasi. Tidak sedikit yang mulai beralih menggunakan transportasi umum, memilih kendaraan yang lebih hemat bahan bakar, hingga lebih cermat dalam mengelola keuangan rumah tangga.

Perubahan perilaku tersebut menunjukkan bahwa masyarakat berusaha menyesuaikan diri dengan kondisi ekonomi yang terus berubah. Di tengah tantangan kenaikan harga energi, langkah-langkah penghematan dan penggunaan sumber daya yang lebih efisien menjadi pilihan yang semakin banyak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. [UN]