Setiap tanggal 14 Juli, Amerika Serikat memperingati Hari Peduli Hiu (Shark Awareness Day). Peringatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya hiu sebagai salah satu penghuni utama ekosistem laut. Meski berawal dari Amerika Serikat, semangat Hari Peduli Hiu bersifat universal karena hiu hidup di hampir seluruh lautan dunia dan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
Hari Peduli Hiu hadir untuk mengajak masyarakat melihat hiu dari sudut pandang yang lebih ilmiah, bukan sekadar sebagai predator yang menakutkan. Selama bertahun-tahun, citra hiu banyak dipengaruhi oleh film dan budaya populer yang menggambarkannya sebagai pembunuh ganas. Padahal, sebagian besar spesies hiu tidak berbahaya bagi manusia.
Hiu merupakan salah satu makhluk laut tertua yang masih bertahan hingga sekarang. Menurut National Today, banyak ilmuwan menyebut hiu sebagai “fosil hidup” karena telah menghuni Bumi selama lebih dari 420 juta tahun. Artinya, hiu telah ada jauh sebelum pohon pertama maupun dinosaurus muncul di planet ini. Sebagai perbandingan, dinosaurus baru mulai hidup sekitar 230 juta tahun lalu.
Kehebatan hiu tidak hanya terletak pada usianya. Hewan ini juga berhasil bertahan melewati lima kali peristiwa kepunahan massal yang pernah terjadi sepanjang sejarah Bumi.
Secara biologis, hiu termasuk kelompok ikan bertulang rawan (cartilaginous fish). Sebagian besar kerangkanya tersusun dari tulang rawan sehingga tubuhnya lebih ringan dan lentur dibandingkan ikan bertulang keras. Meski demikian, gigi hiu sangat keras, tajam, dan kuat untuk menangkap serta merobek mangsa.
Tubuh hiu yang ramping membuatnya mampu berenang dengan cepat dan lincah. Umumnya hiu memiliki lima hingga enam celah insang di sisi tubuh serta sirip dada yang tidak menyatu dengan kepala, karakteristik yang membedakannya dari kelompok ikan pari.
Di balik reputasinya sebagai predator laut, hiu justru menjadi salah satu satwa yang menghadapi ancaman serius akibat aktivitas manusia.
Selama puluhan tahun hiu diburu untuk diambil kulit, daging, dan terutama siripnya. Penangkapan ikan secara berlebihan (overfishing) menyebabkan populasi hiu terus menyusut. Berbagai organisasi konservasi pun mendorong pembatasan hingga pelarangan perdagangan produk hiu, namun praktik penangkapan ilegal masih terus terjadi di berbagai wilayah.
Selain perburuan, citra hiu yang dianggap selalu berbahaya juga menyebabkan banyak hiu dibunuh meskipun tidak mengancam manusia.
Berdasarkan berbagai penelitian yang dirangkum National Today, populasi hiu di dunia telah menurun sekitar 71 persen sejak tahun 1970. Penurunan ini menjadi perhatian serius karena hiu merupakan predator puncak yang membantu menjaga keseimbangan rantai makanan di laut.
Sebagai contoh, hiu memangsa penyu laut yang memakan padang lamun. Padang lamun sendiri berperan penting sebagai penyimpan karbon alami. Jika populasi hiu menurun drastis, jumlah penyu dapat meningkat tidak terkendali sehingga mengancam keberadaan padang lamun dan berdampak terhadap kemampuan laut menyerap karbon.
Banyak orang menganggap semua hiu merupakan predator mematikan. Faktanya, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Dari lebih dari 500 spesies hiu yang telah ditemukan, hanya sebagian kecil yang pernah terlibat dalam insiden dengan manusia.
Meski demikian, terdapat beberapa spesies hiu yang memang dikenal lebih agresif dibandingkan spesies lainnya. Indonesia sebagai negara maritim juga menjadi habitat bagi sejumlah hiu tersebut.
Hiu yang Dikenal Ganas di Indonesia
1. Hiu koboi (Carcharhinus longimanus)
Hiu koboi atau oceanic whitetip shark mudah dikenali dari ujung siripnya yang berwarna putih. Spesies ini hidup di perairan tropis di seluruh dunia, termasuk Indonesia, umumnya pada kedalaman sekitar 60 meter.
Hiu koboi dapat tumbuh hingga 3,9 meter dengan berat sekitar 170 kilogram. Meski lebih sering berada di laut lepas, spesies ini memiliki reputasi sebagai salah satu hiu paling berbahaya.
Hiu koboi termasuk dalam daftar lima hiu paling mematikan. Reputasi tersebut muncul karena hiu ini sering menjadi predator pertama yang mendatangi lokasi kapal karam, terutama pada masa peperangan ketika banyak korban jatuh ke laut.
2. Hiu terumbu abu-abu (Carcharhinus amblyrhynchos)
Mengutip Animal Diversity Web, hiu terumbu abu-abu tersebar di Samudra Hindia, Samudra Pasifik hingga Laut Merah. Habitatnya berada di sekitar terumbu karang, mulai dari dekat permukaan hingga kedalaman sekitar 280 meter.
Spesies ini memiliki panjang maksimum sekitar 255 sentimeter dengan berat mencapai 33,7 kilogram.
Dalam kondisi normal, hiu terumbu abu-abu berenang dengan tenang. Namun ketika menemukan makanan atau merasa wilayahnya terganggu, perilakunya dapat berubah menjadi sangat agresif. Hiu ini dikenal sebagai spesies yang memiliki sifat teritorial sehingga tidak segan menyerang hiu lain maupun manusia yang dianggap memasuki wilayahnya.
Beberapa kasus gigitan terhadap penyelam pernah tercatat. Umumnya serangan tersebut terjadi karena hiu mengira manusia adalah mangsa atau sebagai bentuk pertahanan diri.
3. Hiu sirip hitam (Carcharhinus limbatus)
Hiu sirip hitam merupakan salah satu spesies yang relatif lebih sering bertemu manusia karena hidup di perairan hangat dan dangkal dekat pantai dengan kedalaman kurang dari 30 meter.
Spesies ini dapat tumbuh hingga 2,4 meter dengan berat sekitar 100 kilogram. Ciri khasnya adalah ujung sirip berwarna hitam serta kebiasaan melompat keluar dari air, mirip lumba-lumba.
Karena habitatnya berdekatan dengan aktivitas manusia, beberapa insiden gigitan pernah terjadi. Meski demikian, kasus tersebut tergolong jarang dan umumnya tidak dipicu oleh perilaku berburu manusia, melainkan karena hiu salah mengenali objek di sekitarnya.
4. Hiu macan (Galeocerdo cuvier)
Indonesia juga menjadi salah satu wilayah persebaran hiu macan, salah satu predator laut paling terkenal di dunia.
Mengutip National Geographic, hiu macan mampu mencapai panjang sekitar 7,6 meter dengan berat hingga 860 kilogram. Nama “hiu macan” berasal dari corak belang gelap pada tubuhnya yang menyerupai pola harimau.
Selain ukurannya yang sangat besar, hiu macan dikenal memiliki pola makan yang sangat beragam dan sifat yang agresif. Berdasarkan catatan internasional, hiu ini menjadi spesies dengan jumlah serangan terhadap manusia terbanyak kedua setelah hiu putih besar.
Meski demikian, hiu macan lebih sering berada di perairan yang lebih dalam sehingga pertemuan dengan manusia sebenarnya tidak terlalu sering.
5. Hiu banteng (Carcharhinus leucas)
Menurut National Geographic, hiu banteng sering disebut sebagai salah satu hiu paling berbahaya di dunia.
Berbeda dengan banyak spesies hiu lainnya, hiu banteng mampu hidup tidak hanya di laut, tetapi juga di perairan payau bahkan sungai air tawar. Kemampuan ini membuatnya lebih sering berada di kawasan yang juga digunakan manusia untuk berenang atau beraktivitas.
Kasus gigitan hiu banteng terhadap manusia justru lebih banyak terjadi di sungai dibandingkan di laut. Sebagian besar insiden tersebut diyakini terjadi karena hiu salah mengira manusia sebagai mangsa.
Hiu banteng memiliki ukuran yang cukup besar, yakni dapat mencapai panjang 3,5 meter dengan berat sekitar 315 kilogram. Oleh karena itu, meskipun serangannya tidak disengaja, gigitannya tetap dapat menimbulkan cedera serius.
Hiu yang Dikenal Tidak Berbahaya
Di balik citranya sebagai predator, ternyata banyak spesies hiu samasekali tidak membahayakan manusia. Mengutip Treehugger, dari lebih dari 500 spesies hiu yang telah ditemukan, sebagian besar tidak pernah tercatat menyerang manusia. Bahkan beberapa di antaranya dikenal sangat jinak.
1. Hiu paus (Rhincodon typus)
Hiu paus merupakan spesies hiu terbesar sekaligus ikan terbesar di dunia.
Menurut Britannica, panjang tubuhnya dapat mencapai 18 meter dengan berat sekitar 15 ton. Meski ukurannya sangat besar, hiu paus tidak memiliki gigi tajam untuk memangsa hewan besar.
Makanan utamanya adalah plankton dan ikan-ikan kecil yang disaring menggunakan insangnya. Hiu paus juga dikenal sangat jinak. Di sejumlah lokasi wisata bahari, penyelam bahkan dapat berenang di dekatnya tanpa gangguan.
Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki populasi hiu paus, seperti di Teluk Cenderawasih, Gorontalo, hingga beberapa wilayah Nusa Tenggara.
2. Hiu raksasa (Cetorhinus maximus)
Hiu raksasa atau basking shark merupakan spesies hiu terbesar kedua di dunia. Panjang tubuhnya dapat mencapai 15 meter dengan berat sekitar 4,5 ton.
Sama seperti hiu paus, hiu raksasa merupakan penyaring makanan (filter feeder). Hewan ini memakan plankton sehingga sama sekali tidak memiliki kebiasaan menyerang manusia.
Ironisnya, justru manusialah yang menjadi ancaman terbesar bagi spesies ini. Selama ratusan tahun hiu raksasa diburu sehingga populasinya mengalami penurunan tajam. Kini berbagai negara telah melarang perburuan spesies tersebut sebagai bagian dari upaya konservasi.
3. Hiu mulut besar (Megachasma pelagios)
Hiu mulut besar atau megamouth shark merupakan salah satu spesies hiu paling langka di dunia.
Sesuai namanya, hiu ini memiliki bukaan mulut yang sangat lebar dan dapat tumbuh hingga 5 meter dengan berat sekitar 1,2 ton.
Seperti hiu paus dan hiu raksasa, spesies ini juga memperoleh makanan dengan cara menyaring plankton. Hiu mulut besar hidup di kedalaman hingga sekitar 4.600 meter dan biasanya baru naik mendekati permukaan pada malam hari.
Karena sangat jarang terlihat, para ilmuwan masih terus mempelajari kehidupan spesies ini dan informasi mengenai populasinya pun masih terbatas.
4. Hiu Greenland (Somniosus microcephalus)
Hiu Greenland hidup di perairan dingin sekitar Pulau Greenland dan dikenal sebagai salah satu vertebrata dengan usia terpanjang di dunia.
Penelitian memperkirakan spesies ini mampu hidup lebih dari 500 tahun.
Hiu Greenland dapat mencapai panjang sekitar 7 meter dengan berat hingga 1 ton. Meski memiliki gigi tajam dan termasuk karnivora, spesies ini hampir tidak pernah membahayakan manusia.
Hal tersebut disebabkan habitatnya berada di wilayah yang sangat dingin dan jarang dikunjungi manusia. Selain itu, hiu Greenland juga berenang sangat lambat sehingga lebih sering memangsa hewan yang sedang tidur atau bergerak lamban.
5. Hiu leopard (Triakis semifasciata)
Hiu leopard memiliki pola tubuh menyerupai tutul macan tutul sehingga mudah dikenali.
Menurut San Diego Zoo, hiu ini rata-rata memiliki panjang sekitar 1,5 meter, meski beberapa individu dapat tumbuh hingga 2 meter dengan berat sekitar 18 kilogram.
Hiu leopard hidup di dasar perairan dangkal dan memperoleh makanan dengan cara mengisap menggunakan mulut yang menghadap ke bawah. Bentuk giginya lebih cocok untuk menghancurkan cangkang kepiting, kerang, dan hewan dasar laut lainnya dibandingkan merobek daging mangsa besar.
Hingga kini tidak ada laporan serangan fatal hiu leopard terhadap manusia sehingga spesies ini dikategorikan sebagai hiu yang tidak berbahaya.
Hari Peduli Hiu menjadi pengingat bahwa hiu bukan hanya predator laut, tetapi juga penjaga keseimbangan ekosistem. Meski beberapa spesies memang memiliki sifat agresif dan perlu diwaspadai, sebagian besar hiu hidup jauh dari manusia dan tidak menimbulkan ancaman.
Di sisi lain, penurunan populasi hiu akibat penangkapan berlebihan justru menjadi ancaman nyata bagi kesehatan laut. Karena itu, upaya konservasi dan edukasi kepada masyarakat menjadi langkah penting agar keberadaan hiu tetap terjaga, sehingga ekosistem laut dunia dapat terus berfungsi dengan baik bagi kehidupan di masa depan. [UN]




