Lalu siapa perempuan anggota Laswi yang gugur itu? Sayangnya, Antara edisi 9 dan 10 Agustus 1946 yang memuat berita peristiwa itu tidak mencantumkan namanya.

Ny. H.S.Y. Arudji Kartawinata dalam sebuah artikelnya yang bertajuk “Peranan Laswi dalam Perjuangan Kemerdekaan 1945-1950” membenarkan peristiwa bombardemen di Majalaya tersebut. Dia mengatakan, akibat insiden itu, empat anggota Laswi gugur dan sepuluh luka-luka.  Hal yang sama diungkap Sugiarta Sribawa dalam novel sejarah berdasarkan wawancara dengan Yati Aruji, berjudul  Laskar Wanita Indonesia, yang dietrbitkan Balai Pustaka pada tahun 1985.

Pasukan Laswi

Yang gugur antara lain Siti Fatimah, kemudian dimakamkan di Taman Pahlawan Yogyakarta; Siti Muwarni dari Madiun, kemudian dimakamkan di Madiun; Ida Mursida dari Bandung,  dan; seorang lagi berasal dari Garut, bernama Lala,  dimakamkan di Taman Pahlawan Cikutra, Bandung.

Kalau menyimak kedua sumber itu, besar kemungkian syair “Halo-Halo Bandung” ada di kantung Ida Mursida. Artikel dan buku kecil itu membenarkan anggota Laswi mundur ke Ciparay dan kemudian bertugas di bagian dapur umum setelah Peristiwa Bandung Lautan pada April 24 Maret 1946.

Laswi sendiri memang dibentuk di Bandung pada 12 November 1945. Awalnya bermarkas di Jalan Pangeran Sumedang Nomor 91.

Laswi diketuai oleh Yati Aruji Kartawinata, dengan wakilnya Djuheni Maskun. Yang menjadi sekretaris satunya adalah Eja Teja Setiah dan sekretaris duanya Kusmartinah. Bendahara satunya Maemunah dan bendahara duanya Siti Sabariah. Yang berugas sebagai ajudan adalah Nani Pramani dan Suati.

PasukanLaswi dilatih oleh mantan tentara Pembela Tanah Air (Peta), setiap hari sejak pukul 09.00 pagi hingga 12.00. Berlatih baris-berbaris, bela diri, mempergunakan senjata, hingga taktik kemiliteran.

Annisa Mardiani dalam artikelnya yang bertajuk “Perempuan dalam Perang Kemerdekaan” dan dimuat Historia pada 24 Maret 2015 mengungkapkan,  anggota Laswi beragam, dari gadis, janda, hingga perempuan bersuami. Umumnya berusia 18 tahun ke atas. Sementara itu, Sugiarta menulis, kebanyakan anggota Laswi adalah pelajar SMP, sekolah guru, dan sekolah menengah teknik.

Para perempuan yang bergabung dalam Laswi umumnya—seperti disinggung dalam buku yang ditulis Saskia Eleonara Weringga, Penghancuran Gerakan Perempuan: Politik Seksual di Indonesia PascaKejatuhan PKI (2010)—mendapatkan tugas merawat tentara yang luka-luka, mengatur dapur umum di garis depan, menjahit pakaian seragam, mengajar kelas pemberantasan buta huruf,  hingga menjadi kurir dan mata-mata. Kecuali yang terakhir, kebanyakan tugas mereka adalah tugas domestik.

H.S.Y.  Arudji (sebuah sumber menyebut namanya adalah Sumarsih Suniyati, dipanggil Yati Aruji) juga menyingung, pada Januari 1946, dua anggota Laswi bernama Nani Sumarni dan Siti Sabariah beserta empat pemuda dari Tentara Republik Indonesia Pelajar ditangkap tentara Gurkha (pasukan Sekutu) ketika ditugaskan melakukan penyelidikan di Bandung Utara. Mereka ditawan selama dua pekan dan bebas setelah pertukaran tawanan.

H.S.Y.  Arudji disebutkan sebagai  Komandan Laswi. Kendati secara “resmi” tugas Laswi lebih banyak ke urusan domestik, kenyataannya pasukan ini kerap terlibat dalam kontak senjata.

Selama kedatangan Sekutu di Bandung ada kejadian yang menggemparkan: dua anggota Laswi bernama Willy dan Susilowati terlibat kontak senjata dengan tentara Gurkha.  Willy berhasil menembak mati seorang Gurkha dalam pertempuran dekat Ciroyom. Dengan pedang gunto,  ia tebas kepala Gurkha itu. Potongan kepala Gurkha diserahkan Willy ke Komandan Laswi, Arudji.

Susilowati (ada sumber yang menyebutnya sebagai juga anggota Tentara Keamanan Rakyat) agak lebih ekstrem. Setelah memenggal kepala seorang Gurkha.  kepala jasad itu ditengteng Susilowati sambil menyusuri Jalan Raya Barat, melalui Cibadak, sampai ke Markas Divisi III di Regentsweg.

Dari sana, potongan kepala dikirimkan ke Markas Tentara Republik Indonesia di Yogya. Untuk apa? Sebagai bukti bahwa Pemuda Bandung tidak pernah berhenti melawan dan bertempur.

Cerita ini dibenarkan sejarawan asal Amerika Serikat, Theodore Friend, dalam bukunya yang bertajuk Indonesian Destiny (2003), yang bersumber dari hasil wawancaranya dengan A.H. Nasution, Panglima Siliwangi masa itu. “Suatu pagi seorang wanita pejuang muda menghentikan kudanya di depan pintu, turun, dan menempatkan kepala terputus dari petugas Gurkha di depan saya di atas meja bersama-sama dengan pitanya. Aku merasa kasihan pada perempuan yang telah menjadi korban pergolakan political jauh dari rumah dan yang tidak mempedulikan dirinya. Wanita itu dipanggil Susilowati dan dia kadang ikut dalam mobilku.

Kiprah Laswi lainnya terjadi menjelang akhir 1945 ketika Rumah Sakit Godog menghadapi serangan pasukan Netherlands Indies Civil Administration (NICA). Pada waktu itu, sejumlah anggota Laswi dilatih oleh Dokter Pusponegoro untuk merawat prajurit yang terluka. Ketika terjadi serangan, gadis-gadis Laswi dengan tangkas mengemasi alat-alat kedokteran tanpa menghiraukan desingan peluru.