Akomodasi vs Perlawanan
Kisah hidup Hardi juga membawa suatu pertanyaan yang masih perlu dijawab: sampai titik manakah penyelewengan yang dilakukan oleh pemerintah bisa diakomodir, atau setidaknya ditolerir? Di titik manakah seorang Hardi semestinya berdiri dan melawan kebijakan pemerintah Orde Baru, sama seperti Soejoso Poegoeh, atau Pramoedya Ananta Toer, atau Widji Thukul, atau sekian banyaknya manusia yang menjadi penentang sekaligus korban dari kesewenang-wenangan Orde Baru?
Akhir kata, kekurangan Hardi bukanlah bahwa ia kurang nasionalis, atau kurang patriotik– tidak sama sekali. Letak kekurangan Hardi yang sebenarnya adalah bahwa nasionalismenya diombang-ambingkan oleh kekuatan sejarah yang berada di luar dirinya, dan sayangnya ia tak kuasa untuk mengubah keadaan itu. Keterlibatannya sebagai seorang politisi senior dalam lembaga eksekutif dan legislatif dalam pemerintahan Orde Baru, walaupun memang berawal dari sebuah keinginan untuk menyelamatkan arus politik nasionalis dan rumah organisasinya yang adalah PNI, justru malah berakibat melanggengkan jalannya Orde Baru tanpa sama sekali dapat mencegah pemberangusan PNI dan penghancuran Marhaenisme.
Hardi wafat pada hari ini 28 tahun silam, 23 Mei 1998. Andaikata Hardi hidup barang sepuluh tahun lagi, mungkin akhir hidupnya bisa jadi sama seperti Supeni Pudjobuntoro, sesama loyalis PNI zaman Bung Karno yang membangkitkan kembali PNI sebagai partai peserta Pemilihan Umum 1999. Hardi demikian barangkali dapat membangkitkan kembali semangat PNI setelah seperempat abad vakum. Namun sayang, Hardi wafat hanya barang sebulan sebelum Suharto lengser.
Meski demikian, sama seperti judul memoarnya dan setelah mengulas sejarah lebih-kurangnya hidupnya, Api Nasionalisme itu harus tetap berjalan tanpa putus dalam estafet kebangsaan Indonesia.
Revolusi Kita adalah sebuah kolom berkala untuk Koran Suluh Indonesia kontribusi Jonathan Siborutorop.



