Revolusi Kita:
Beberapa waktu lalu, saat saya sedang menjalankan hobi kesukaan saya: mencari buku bekas berkualitas dengan harga miring di pasar buku bekas Blok M, Jakarta Selatan, saya menemukan sebuah buku otobiografi yang ditulis oleh Hardi dengan judul Api Nasionalisme: Cuplikan Pengalaman (Penerbit Gunung Agung, 1983).
Sebelum saya membaca buku itu, sedikit-sedikit saya sudah menjumpai pribadi Hardi dari perjalanan saya meneliti tentang sejarah Partai Nasional Indonesia (PNI), partai di mana Hardi berkarya seumur hidupnya. Oleh karena itu, saya meniatkan diri saya untuk membaca buku karya Hardi itu, sekaligus menyelami alam pikirnya yang nyata melalui karya dan perbuatannya selama lebih dari tiga dasawarsa aktif dalam politik golongan nasionalis di tanah air.
Hardi dan Orde Lama
Hardi lahir pada tanggal 23 Mei 1918 di Pati, Jawa Tengah. Masa kecilnya ia lalui di Semarang, dan kemudian ia berkuliah di Rechtshogeschool (RHS) di Batavia, namun tidak selesai karena perang. Setelah perang, ia masuk PNI pada tahun 1946 dan menjadi pegawai negeri.
Hardi masuk ke dalam kancah politik pada tahun 1953, ketika ia diangkat sebagai anggota DPRD DKI Jakarta. Belum genap tiga tahun duduk di DPRD Jakarta, Hardi dilantik sebagai anggota DPR pada tahun 1956.
Kemudian, pada tahun itu juga, mengekor berkuasanya faksi Suwiryo yang antikomunis, konservatif, dan ramah terhadap kepentingan elit nasional, Hardi ditunjuk sebagai ketua fraksi PNI dalam parlemen. Belum setahun mengisi jabatan tersebut, Hardi atas usulan PNI dilantik menjadi Wakil Perdana Menteri dalam Kabinet Djuanda– sebuah karir politik yang melesat sangat cepat, dari anggota DPRD sampai Wakil Perdana Menteri hanya dalam waktu empat tahun.




