Hardi (sebelah kanan Presiden Sukarno) pada acara pelantikan Kabinet Djuanda, 9 April 1957. (Wikimedia)

Revolusi Kita: 

Dalam edisi Revolusi Kita sebelumnya, kita telah mengulas tentang riwayat hidup Hardi dan karier politiknya. Dalam edisi kali ini, kita akan mengulas tentang pemikiran dan perbuatan politik Hardi, terutama pemikirannya tentang nasionalisme Indonesia dan berbagai prakarsanya dalam transisi dari Orde Lama ke Orde Baru.

Nasionalisme a’la Hardi

Ada sebuah ungkapan yang cukup terkenal: seseorang dapat mati muda sebagai pahlawan, atau hidup cukup lama untuk berubah menjadi penjahat. Hardi masuk ke dalam kategori yang ketiga: ia hidup cukup lama untuk melihat karyanya tidak berarti menjadi apa-apa– sama seperti kata-katanya sendiri dalam memoarnya (hlm. 165), seluruh karya politiknya seakan “bagaikan garam ditelan samudera”.

Bagian pertama dari memoar Hardi adalah sebuah refleksi ideologis tentang nasionalisme dari sudut pandang seorang negarawan senior di usianya yang ke-65, setelah karya hidupnya selesai dan memasuki masa pensiun. Subbab pertamanya, Nasionalisme menentang kapitalisme, merupakan sebuah pledoi dari prinsip-prinsip dasar nasionalisme Indonesia: nasionalisme sebagai sebuah metode perjuangan menentang rasisme dan penjajahan, nasionalisme sebagai sebuah paham politik yang menempatkan bangsa dalam kedudukan yang lebih tinggi daripada kekuatan modal, dan nasionalisme sebagai sebuah ideologi yang pada hakikatnya bersifat antikapitalis (hlm. 12). So far, so good.

Namun analisis ini kemudian diikuti oleh subbab yang kedua: Gejala naik turunnya kadar Nasionalisme. Dalam subbab itu, Hardi seakan membandingkan antara nasionalisme dalam generasinya, Angkatan 45, dengan nasionalisme yang dimiliki oleh pemuda di dasawarsa 1980-an, yang menurutnya ‘dijangkiti’ individualisme dan globalisme (hlm. 16). Nampaknya nasionalisme, demikian sirat Hardi, pada akhirnya bukanlah ‘pisau analitika’, bukan pula sebuah ideologi ilmiah yang bisa dipelajari, dibedah, dan dihadapkan pada keadaan masa kini– tidak.

Sebaliknya, nasionalisme a’la Hardi diibaratkan sebagai suatu kadar– sebuah kadar yang terus tergerus dan akan terus merosot menuju nol seiring berjalannya waktu, dan tidak ada yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kadar nasionalisme ini kembali ke tingkat awalnya. Singkatnya, nasionalisme menurut Hardi adalah entropi. Tentu, ini merupakan sebuah pandangan yang tidak konstruktif, karena dengan demikian satu-satunya cara yang bisa dilakukan oleh bangsa ini agar nasionalisme bisa kembali tumbuh (dalam pandangan tersirat Hardi) tidak lain tidak bukan hanyalah dengan cara memutar balikkan waktu kembali ke tahun 1945.