Jakarta, 22 Mei 2026 — Suasana hangat dan penuh semangat kebangsaan menyelimuti ballroom Hotel Ambhara, Blok M, Jakarta Selatan, saat seratusan tokoh nasional, aktivis, akademisi, budayawan, dan unsur masyarakat menghadiri peringatan Satu Dekade Pergerakan Indonesia Maju (PIM), Kamis malam (21/5/2026.
Ruang utama hotel tampak elegan dengan meja-meja bundar yang tertata rapi, lengkap dengan sajian khas hotel berbintang. Lampu-lampu kristal besar menggantung di langit-langit ballroom, memantulkan cahaya cerah memberi nuansa khidmat sekaligus hangat pada perhelatan yang menandai sepuluh tahun perjalanan organisasi tersebut.
Di antara para hadirin tampak Ketua Dewan Nasional PIM, Prof. Dr. Din Syamsuddin, mengenakan batik bermotif rangkaian bunga dengan nuansa menyerupai toga akademik. Hadir pula tamu kehormatan mantan Wakil Presiden RI dua periode H. Jusuf Kalla, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Prof. Jimly Asshiddiqie.
Juga tampak hadir sejumlah tokoh nasional dan menteri Kabinet Merah Putih seperti Fadli Zon, Fahri Hamzah, dan Jumhur Hidayat. Budayawan dan seniman nasional Eros Djarot hadir dengan udeng khasnya.
Mereka masing-masing tampil memberikan testimoni dan harapan pada PIM dan kiprahnya ke depan. Mereka terlihat begitu menyatu di tengah para aktivis pergerakan, tokoh lintas agama, akademisi, dan unsur masyarakat sipil yang datang memberikan apresiasi atas kiprah PIM selama satu dekade.
Dalam rangkaian acara, tiga pimpinan PIM — Prof. R. Siti Zuhro, Philip Kuntjoro Widjaja, dan Yohanes Handojo Budhi Sedjati — secara bergantian memaparkan filosofi utama gerakan “3K”: Kemanusiaan, Kemajemukan, dan Kebersamaan.
Prof. R. Siti Zuhro menegaskan bahwa 3K bukan sekadar slogan moral, melainkan prinsip strategis untuk menjaga Indonesia tetap damai dan berkeadaban di tengah tantangan polarisasi sosial, ketimpangan ekonomi, dan krisis etika publik.
Dalam paparannya disebutkan bahwa kemanusiaan harus menjadi dasar keadilan sosial, kemajemukan menjadi fondasi toleransi, dan kebersamaan menjadi energi persatuan nasional.
Ia mengingatkan bahwa pembangunan Indonesia tidak cukup hanya bertumpu pada pertumbuhan ekonomi dan stabilitas politik, tetapi harus berakar pada penghormatan terhadap martabat manusia, pengelolaan kemajemukan secara sehat, dan penguatan solidaritas sosial.
Paparan tersebut juga menyoroti tantangan kebangsaan saat ini, mulai dari polarisasi identitas, penyebaran disinformasi digital, melemahnya budaya dialog, hingga meningkatnya individualisme sosial. Menurutnya, jika tidak dikelola dengan baik, kondisi itu dapat mengancam integrasi nasional dan demokrasi substantif.
Selain Prof. R. Siti Zuhro, dua pimpinan PIM lainnya turut memperkaya pemaknaan filosofi 3K dari sudut pandang yang saling melengkapi. Philip Kuntjoro Widjaja menekankan pentingnya membangun kebersamaan nasional melalui kolaborasi lintas sektor di tengah perubahan dunia yang sangat cepat.
Menurutnya, Indonesia tidak mungkin maju hanya dengan mengandalkan pemerintah semata, tetapi memerlukan keterlibatan dunia usaha, masyarakat sipil, akademisi, generasi muda, dan komunitas lokal secara bersama-sama.
Ia menyoroti pentingnya membangun budaya gotong royong modern yang tidak berhenti pada slogan, melainkan diwujudkan dalam tindakan nyata dan kerja kolaboratif untuk menghadapi tantangan global, krisis ekonomi, serta transformasi teknologi.
Sementara itu, Yohanes Handojo Budhi Sedjati menggarisbawahi bahwa kemajemukan Indonesia harus dipandang sebagai energi pemersatu, bukan sumber perpecahan. Ia mengingatkan bahwa bangsa Indonesia dibangun bukan karena kesamaan identitas, melainkan karena kesediaan untuk hidup berdampingan dalam perbedaan.
Karena itu, menurutnya, budaya saling curiga, saling membenci, dan politik identitas yang memecah belah harus dihentikan. Ia menekankan bahwa kekuatan Indonesia justru terletak pada kemampuannya menjaga rasa hormat antarkelompok, antarsuku, antaragama, dan antargolongan sebagai fondasi persatuan nasional.
Ketiga pidato pimpinan PIM tersebut saling menyatu dalam satu benang merah: bahwa Indonesia yang maju bukan hanya Indonesia yang tumbuh secara ekonomi, tetapi juga Indonesia yang mampu menjaga martabat kemanusiaan, merawat kemajemukan, dan memperkuat kebersamaan sebagai nilai dasar kehidupan berbangsa.




