Model Nasionalisme yang Gagal Versi PRN
Terlepas dari visi kebangsaan (yang dapat dibilang cukup baik) yang dicanangkan oleh PRN pada masa awal kelahirannya, visi itu nol besar apabila tidak dijalankan secara konsekuen. Asas PRN yang bertumpu pada demokrasi, nasionalisme, dan gotong royong secara logika hanya dapat dijalankan secara konsekuen apabila didukung oleh kekuatan yang datang dari semua golongan– singkatnya, asas-asas nasionalisme yang mendasari program politik PRN hanya dapat diwujudkan melalui penghimpunan dan pengarahan politik (machtsvorming dan machtsaanwending) massa.
Tetapi yang terjadi dalam kenyataannya malah sebaliknya: ‘nasionalisme’ ala PRN sejak awal merupakan sebuah ‘nasionalisme elite’: landasan partai dikonsepsikan oleh elite pendiri partai tanpa adanya input dari massa, begitu pula kerja politik partai dijalankan oleh elite partai secara sepihak tanpa input massa pula, dan yang paling parah, kepengurusan pimpinan partai dijadikan barang rebutan oleh elite partai tanpa memperhatikan aspirasi massa nasional.
Akibat tidak adanya mekanisme timbal balik antara massa dengan pimpinan partai, ‘nasionalisme elite’ ala PRN menghasilkan sebuah pandangan politik yang murni pragmatis dan berorientasi elitis– seperti yang terjadi dalam kasus korupsi menteri-sekaligus-ketua umum partai Djody Gondokusumo ataupun kelakuan menteri PRN yang aji mumpung mempertahankan jabatannya pada akhir masa jabatan Kabinet Burhanuddin Harahap.
Dalam sistem politik pra-pemilihan umum yang berorientasi pada elite politik, mekanisme seperti ini bisa saja berhasil– toh buktinya PRN dapat menduduki banyak kursi di DPR sebelum pemilihan umum 1955 dan bahkan berhasil mendapat beberapa kursi dalam kabinet. Namun ketika pemilihan umum dilakukan, hasil pemilihan umum langsung memperlihatkan pada bangsa Indonesia betapa gagalnya sistem ‘nasionalisme elite’ yang dibangun oleh PRN.
Mungkin kita dapat membayangkan keadaan masa itu: betapa kagetnya pimpinan partai PRN, yang mana ketua umumnya sedang mendekam di dalam penjara akibat korupsi, ketika partai yang telah dijadikan gelanggang kompetisi elite mereka dipermalukan dan dijungkal melalui pemilihan umum. Namun toh kagetnya mereka itu tidak diikuti oleh proses perenungan dan koreksi diri, sebab tidak lama setelah pemilihan umum, partai itu pecah dua akibat konflik elite. Seterusnya, seperti kata peribahasa, the rest is history.
Apa pelajaran yang dapat dipetik oleh Marhaenis di negeri kita, setelah meninjau sejarah gelap PRN ini? Singkat saja: Massa, massa, massa! Kita telah melihat sendiri bahwa sebuah organisasi politik yang mengaku sebagai organisasi yang berasaskan pada nasionalisme, namun dalam praktiknya sama sekali tidak mendasarkan kekuatannya pada massa nasional, niscaya akan tumbang, hancur, dan sama sekali ditelan oleh sejarah.
Jonathan Siborutorop | Pemuda Marhaenis



