Pada 4 Juli 1863, salah satu pertempuran paling menentukan dalam sejarah Amerika Serikat resmi berakhir. Setelah tiga hari pertempuran sengit di Gettysburg, Pennsylvania, pasukan Union berhasil memukul mundur pasukan Konfederasi dalam pertempuran terbesar sepanjang Perang Saudara Amerika. Kemenangan tersebut tidak hanya menggagalkan ambisi Konfederasi menguasai wilayah utara, tetapi juga menjadi titik balik yang mengubah arah perang.
Dikutip dari berbagai sumber, termasuk History, Pertempuran Gettysburg berlangsung pada 1–3 Juli 1863 dengan melibatkan sekitar 165.000 prajurit dari kedua belah pihak. Pertempuran ini kemudian dikenang sebagai salah satu konflik paling berdarah dalam sejarah Amerika, sekaligus momentum yang mengakhiri harapan Konfederasi untuk memenangkan perang melalui invasi ke wilayah utara.
Ambisi Robert E. Lee Menginvasi Wilayah Utara
Pertempuran Gettysburg berawal dari keberhasilan Jenderal Konfederasi Robert E. Lee meraih kemenangan dalam Pertempuran Chancellorsville. Keberhasilan itu mendorong Lee melancarkan invasi keduanya ke wilayah Union dalam waktu kurang dari satu tahun.
Lee memimpin sekitar 75.000 prajurit Tentara Virginia Utara menyeberangi Sungai Potomac menuju Maryland dan Pennsylvania. Tujuannya bukan sekadar memenangkan pertempuran, melainkan menghancurkan moral pasukan Union dengan kemenangan besar di wilayah utara.
Lebih jauh lagi, Lee berharap keberhasilan tersebut akan mendorong Inggris atau Prancis memberikan pengakuan diplomatik bahkan dukungan kepada Konfederasi, sesuatu yang selama ini sangat diharapkannya.
Di pihak Union, sekitar 90.000 personel Tentara Potomac bergerak mengejar pasukan Konfederasi. Namun, komandan mereka saat itu, Jenderal Joseph Hooker, masih dibayangi kekalahan telak di Chancellorsville sehingga dinilai kurang agresif mengejar Lee.
Sementara itu, Konfederasi memecah pasukannya untuk mengincar sejumlah sasaran strategis, termasuk Harrisburg, ibu kota Pennsylvania. Melihat perkembangan situasi, Presiden Amerika Serikat Abraham Lincoln mengambil keputusan penting dengan mengganti Hooker dan menunjuk Jenderal George G. Meade sebagai komandan baru Tentara Potomac pada 28 Juni 1863.
Pergantian komando itu segera diikuti pergerakan pasukan Union ke Pennsylvania. Mengetahui hal tersebut, Lee memerintahkan seluruh pasukannya berkumpul di sekitar Gettysburg untuk menghadapi kedatangan pasukan federal. Di sisi lain, Meade juga mengirim sebagian besar pasukannya ke Pennsylvania, meski semula berencana memperkuat pertahanan di Pipe Creek, Maryland.
Baku Tembak yang Memicu Pertempuran Terbesar
Pada pagi 1 Juli 1863, sebuah divisi Konfederasi di bawah pimpinan Jenderal Henry Heath bergerak menuju Gettysburg dengan tujuan mencari dan mengambil persediaan makanan. Namun, mereka justru bertemu tiga brigade kavaleri Union yang menjaga kawasan tersebut.
Kontak senjata pun tak terelakkan dan menjadi awal Pertempuran Gettysburg.
Setelah mendengar kabar baku tembak, baik Lee maupun Meade segera mengirim bala bantuan. Pasukan kavaleri Union bertahan dengan gigih menghadapi jumlah lawan yang jauh lebih besar hingga pasukan federal lainnya tiba.
Menjelang siang, sekitar 19.000 prajurit Union berhadapan dengan 24.000 prajurit Konfederasi. Lee kemudian tiba di medan tempur dan memerintahkan pasukannya melancarkan serangan besar. Tekanan tersebut memaksa pasukan Union mundur ke Cemetery Hill di selatan Gettysburg.
Malam harinya, sisa pasukan Meade berhasil tiba. Keesokan harinya, Jenderal Winfield Scott Hancock menyusun garis pertahanan Union yang kokoh di sepanjang posisi strategis.
Pada 2 Juli 1863, Jenderal James Longstreet memimpin serangan utama Konfederasi. Meski telah direncanakan sejak pagi, serangan baru benar-benar dimulai sekitar pukul 16.00. Penundaan tersebut memberi keuntungan besar bagi Union karena memiliki cukup waktu memperkuat posisi pertahanannya.
Pertempuran sengit berlangsung sepanjang sore hingga malam hari. Pasukan Union berhasil mempertahankan sejumlah posisi penting meskipun harus membayar mahal dengan jatuhnya korban dalam jumlah besar.
Setelah sekitar tiga jam pertempuran, kedua belah pihak menghentikan serangan. Hingga akhir hari kedua, jumlah korban keseluruhan telah mencapai sekitar 35.000 orang.
Gagal menembus sisi kanan maupun kiri pertahanan Union, Lee memutuskan mengubah strategi pada hari ketiga, 3 Juli 1863.
Ia memerintahkan sekitar 15.000 prajurit di bawah pimpinan Jenderal George Pickett menyerang langsung bagian tengah pertahanan Union di Cemetery Ridge.
Sebelum infanteri bergerak, Konfederasi melancarkan pengeboman artileri besar-besaran terhadap posisi Union. Sekitar 10.000 prajurit federal membalas dengan rentetan tembakan meriam selama lebih dari satu jam sehingga terjadi duel artileri yang sangat dahsyat.
Sekitar pukul 15.00, Pickett memimpin pasukannya melintasi kawasan terbuka sejauh sekitar 1,5 kilometer menuju Cemetery Ridge. Namun, serangan tersebut segera menghadapi kenyataan pahit. Pengeboman artileri yang diperintahkan Lee ternyata gagal melumpuhkan pertahanan Union.
Ketika pasukan Pickett melintasi medan terbuka tanpa perlindungan, artileri Union menghancurkan barisan mereka. Dari sisi lain, infanteri federal menyerang dari kedua sayap sehingga pasukan Konfederasi terjebak dalam kepungan.
Hanya beberapa ratus prajurit yang berhasil mencapai garis pertahanan Union. Sebagian besar dari mereka langsung tewas atau ditangkap.
Dalam waktu kurang dari satu jam, lebih dari 7.000 prajurit Konfederasi tewas atau terluka. Serangan yang kemudian dikenal sebagai Pickett’s Charge itu menjadi salah satu kegagalan paling terkenal dalam sejarah militer Amerika.
Akhir Pertempuran dan Titik Balik Perang
Setelah mengalami kerugian sangat besar, kedua pasukan bertahan di posisi masing-masing hingga malam 4 Juli 1863.
Pada akhirnya, Lee memutuskan menarik mundur sisa pasukannya kembali ke Virginia. Pasukan Union sebenarnya berpeluang mengejar, tetapi Tentara Potomac juga telah mengalami kelelahan luar biasa sehingga tidak mampu melakukan pengejaran besar-besaran.
Penarikan mundur tersebut mengakhiri invasi terakhir Konfederasi ke wilayah utara. Setelah Gettysburg, Lee tidak pernah lagi melancarkan serangan besar ke negara-negara bagian Union.
Karena itulah, banyak sejarawan menganggap Pertempuran Gettysburg sebagai titik balik utama Perang Saudara Amerika.
Korban yang ditimbulkan sangat mengerikan. Di pihak Union, sekitar 23.000 prajurit tewas, terluka, atau hilang. Sementara itu, Konfederasi kehilangan sekitar 25.000 orang, menjadikannya salah satu pertempuran dengan jumlah korban terbesar sepanjang sejarah Amerika Serikat.
Dampak Pertempuran
Dampak pertempuran tidak hanya dirasakan para tentara, tetapi juga ribuan warga sipil di Gettysburg dan kota-kota sekitarnya.
Saat pasukan Konfederasi memasuki Pennsylvania, sekitar 2.400 penduduk Gettysburg hidup dalam ketakutan. Warga kulit putih khawatir kehilangan nyawa dan harta benda, sedangkan warga Afrika-Amerika menghadapi ancaman yang jauh lebih besar, yakni kemungkinan ditangkap dan diperbudak.
Banyak keluarga kulit putih bersembunyi di ruang bawah tanah. Sebaliknya, banyak warga kulit hitam memilih melarikan diri meninggalkan kota.
Abraham Brian, seorang pria kulit hitam merdeka yang memiliki pertanian kecil di dekat Cemetery Ridge, mengungsi bersama keluarganya. Basil Biggs, seorang dokter hewan, serta Owen Robinson, seorang penjual tiram, juga meninggalkan Gettysburg demi menyelamatkan diri.
Di Chambersburg, sejumlah mantan budak yang sebelumnya mencari perlindungan kepada pasukan Union justru diculik oleh unit kavaleri Konfederasi.
Meskipun Proklamasi Emansipasi menyatakan bahwa budak yang melarikan diri dari wilayah pemberontakan tidak boleh diperbudak kembali, pasukan Konfederasi tetap berusaha menangkap mereka. Tentara Konfederasi bahkan mengancam membakar rumah warga kulit putih yang memberikan perlindungan kepada para budak yang melarikan diri. Dalam banyak kasus, orang kulit hitam yang sebenarnya telah merdeka tetap dianggap sebagai budak hanya karena warna kulit mereka.
Usai pertempuran, Gettysburg berubah total. Kota kecil yang sebelumnya tenang dengan aktivitas pertanian dan pendidikan mendadak dipenuhi kematian.
Darah mengalir di jalan-jalan. Ribuan jenazah menumpuk di berbagai sudut medan perang. Bangkai kuda dan hewan lainnya membusuk di bawah terik matahari. Ladang-ladang pertanian hangus dan tidak lagi dapat ditanami.
Para petani kehilangan sumber penghidupan sehingga harus bergantung pada bantuan tentara maupun pemerintah untuk memperoleh makanan.
Di sisi lain, ribuan prajurit yang terluka terbaring tanpa daya menunggu perawatan medis.
Untuk menangani situasi tersebut, didirikan Camp Letterman, rumah sakit lapangan besar di sebelah timur Gettysburg. Di tempat itu, para korban menjalani proses triase sebelum dipindahkan ke rumah sakit permanen di Philadelphia, Baltimore, maupun Washington.
Perawat dari United States Sanitary Commission, organisasi bantuan Union yang sebagian besar anggotanya perempuan, memainkan peranan penting dalam merawat korban luka sekaligus memberikan dukungan moral kepada para tentara.
Lahirnya Pemakaman Nasional Gettysburg
Penduduk Gettysburg kemudian bergotong royong menguburkan ribuan korban di pemakaman sementara. Namun, tokoh-tokoh masyarakat segera mengusulkan pembangunan kompleks pemakaman permanen di medan perang sebagai bentuk penghormatan kepada para prajurit Union yang gugur.
Usulan tersebut melahirkan Pemakaman Nasional Prajurit Gettysburg (Soldiers’ National Cemetery) yang diresmikan pada November 1863, meski pembangunannya baru benar-benar selesai beberapa waktu kemudian.
Korban luka terakhir dipulangkan pada Januari 1864 bersama para tenaga medis. Setelah itu, tenda-tenda rumah sakit lapangan dibongkar dan Gettysburg perlahan mulai pulih.
Meski demikian, bekas-bekas pertempuran tetap dipertahankan sebagai monumen sejarah. Hingga kini, medan perang Gettysburg masih menjadi saksi bisu peristiwa 1–3 Juli 1863, sebuah pertempuran yang tidak hanya menentukan nasib Perang Saudara Amerika, tetapi juga membentuk perjalanan sejarah Amerika Serikat di masa berikutnya. [UN]


