YANG juga menjadi pembicara dalam acara tersebut adalah Wakil Sekretaris Jenderal Gerakan Suluh Kebangsaan Alissa Wahid. Ia mengatakan, sekarang ini banyak politisi menunggangi isu agama untuk kepentingan elektablitas dalam Pemilu 2019. Para politisi itu juga tak takut memainkan isu primordial lain sebagai bahan bakar mesin pendulang suara.

“Saya meyakini para politisi itu tahu betul apa yang bisa menggerakkan orang dan yang bisa menggerakkan orang adalah sentimen primordial, termasuk isu agama,” kata putr Gus Dur itu.

Sebenarnya, lanjutnya, wajar saja isu agama diseret ke ranah politik. Miisalnya Resolusi Jihad yang diinisiasi pendiri Nahdlatul Ulama, K.H. Hasyim Asy’ari, pada awal-awal kemerdekaan dulu. Ini adalah produk politik kebangsaan untuk menyelamatkan negara dari penindasan penjajah.

“Namun, yang terjadi sekarang, ‘kamu berjihad demi agama karena itu pilih saya’. Ini yang parah,” ujarnya.

Mengapa masyarakat gampang dipolitisasi dengan isu agama? Menurut Alissa, penyebabnya adalah pendidikan politik yang masih rendah. “Seolah, pemilu itu hidup-mati, padahal kan tidak,” katanya.

Dialog kebangsaan merupakan bagian dari program “Jelajah Kebangsaan” yang diselenggarakan Gerakan Suluh Kebangsaan. Program ini dilaksanakan di sembilan stasiun kereta api di Jawa, mulai dari Merak di Banten sampai Banyuwangi di Jawa Timur. “Jelajah Kebangsaan”  dilaksanakan mulai 18 Februari 2019 sampai 22 Februari 2019.

Pada acara di Stasiun Tugu-Yogyakarta itu, dialog kebangsaan tersebut dihadiri antara lain oleh Gusti Kanjeng Ratu Mangkubumi, Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga-Yogyakarta K.H. Malik Madan, sejumlah budayawan, dan tokoh lintas agama. “Jelajah Kebangsaan” di Stasiun Tugu Yogyakarta ini merupakan seri kelima dari acara serupa yang telah diselenggarakan. Sebelumnya diadakan di Stasiun Merak, Gambir, Cirebon, dan Purwokerto.

Dalam dialog itu, K.H. Malik Madani mengingatkan, menjadi kewajiban semua warga Indonesia untuk merawat patriotisme, menjaga progresivitas, dan menjaga keutuhan bangsa ini. “Sebagai bentuk rasa syukur,” ujarnya.

Diingatkan pula agar masyarakat menghindari gesekan pada tahun politik ini. “Ini tahun politik, di berbagai media massa, terutama media sosial, gesekan antar-anak bangsa semakin terasa, apalagi setelah debat kemarin. Upaya mengingatkan pentingnya merawat NKRI ini sesuatu yang tidak bisa ditawar lagi,” tutur K.H. Malik Madani.