MENURUT Mahfud M.D., Gerakan Suluh Kebangsaan berawal dari gagasan dirinya dengan Alissa Wahid, Beny Susetyo, dan Ajar Budi Kuncoro yang prihatin dengan maraknya potensi perpecahan dari komponen bangsa. Potensi itu antara lain semakin maraknya politk identitas sehingga orang/kelompok menyerang orang/kelompok lain tapi sama-sama mengklaim sebagai penjaga identitas primordial yang sama.

“Melihat situasi itu, kami memandang perlu adanya sebuah gerakan bersama untuk lebih mengedepankan dialog, menjunjung tinggi kebersamaan, dan menghargai kebhinnekaan dalam bingkai NKRI. Kami akan mendorong kebebasan menentukan pilihan secara demokratis tanpa bermusuhan. Kontestasi politik harus diartikan sebagai kepentingan bersama untuk mencari yang terbaik, bukan dilakukan sebagai zero sum game. Itulah gagasan kami terkait Gerakan Suluh Kebangsaan,” kata Mahfud.

Sebelum menggelar dialog kebangsaan di sembilan stasiun tersebut, Gerakan Suluh Kebangsaan juga telah menyelanggarakan bermacam kegiatan. Misalnya sarasehan kebangsaan bersama para tokoh dan media lokal di Yogyakarta pada 9 Januari 2019 lalu, di Surabaya pada 16 Januari, di Makassar pada 24 Januari, di Medan pada 9 Februari 2019, dan di Lombok pada 12 Februari 2019. Sarasehan ini juga akan digelar di berbagai provinsi lain.

“Gerakan Suluh Kebangsaan diharapkan memperkuat rasa nasionalisme, memperkukuh persatuan dan kesatuan untuk kejayaan Indonesia,” ujar Mahfud. [PUR]