Rupiah melemah, survei tersenyum. Mengapa pasar gelisah, tetapi rakyat tetap percaya? (Cak AT)

Catatan Cak AT:

Rupiah menembus Rp18.000 per dolar AS. Media asing ramai memberitakannya. Grup-grup WhatsApp pun mendadak berubah fungsi. Yang semula tempat berbagi foto cucu, resep herbal, dan undangan pengajian, mendadak menjelma menjadi kantor cabang IMF. Semua orang menjadi analis. Semua orang punya teori.

Ada yang menyalahkan pemerintah. Ada yang menyalahkan oligarki. Ada yang menyalahkan spekulan asing. Bahkan ada yang yakin bahwa pelemahan rupiah adalah bagian dari perang ekonomi global yang sedang berlangsung diam-diam di belakang panggung. Ada yang main politik: Menteri Keuangan besok diganti.

Lalu, di tengah hiruk-pikuk itu, muncul satu angka yang membuat banyak orang mengernyitkan dahi. Sejumlah survei menunjukkan tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran masih berada di kisaran 74 persen.

Di situlah paradoks itu berdiri. Pasar tampak gelisah. Rupiah melemah. Namun kepercayaan publik seperti diungkap Poltracking justru masih tinggi. Seperti melihat langit mendung pekat, tetapi para penumpang di dalam kapal masih duduk tenang menikmati kopi.

Sebagian orang langsung menganggap survei itu pasti salah. Sebagian lagi menganggap pelemahan rupiah tidak penting. Padahal keduanya bisa sama-sama keliru. Sebab kurs dolar dan kepercayaan publik adalah dua termometer yang mengukur bagian tubuh yang berbeda.

Kurs dolar mengukur kepercayaan pasar. Survei mengukur kepercayaan rakyat. Keduanya sering berjalan seiring, tetapi tidak selalu bergandengan tangan. Kadang mereka berjalan di jalan yang sama. Kadang mereka justru saling membelakangi.

Pasar adalah makhluk yang gelisah. Ia seperti burung liar yang terbang begitu mendengar suara ranting patah. Investor tidak menunggu rumah roboh. Mereka pindah begitu mencium bau asap. Karena itu pasar sering bereaksi terhadap apa yang mungkin terjadi besok.

Rakyat berbeda. Mereka lebih sering menilai apa yang terjadi hari ini. Harga beras berapa. Jalan dibangun atau tidak. Lapangan kerja tersedia atau tidak. Anak bisa sekolah atau tidak. Rakyat menilai dari dapur. Pasar menilai dari layar monitor.

Karena itulah tidak aneh jika kurs dolar dan tingkat kepuasan publik terkadang bergerak ke arah yang berbeda. Yang satu sibuk membaca peta cuaca. Yang lain sibuk memeriksa isi lumbung.

Kasus Turki sering dijadikan contoh. Selama bertahun-tahun nilai Lira terus melemah terhadap dolar sampai jauh sekali. Namun pemerintahan tetap bertahan dan ekonomi tetap tumbuh.