Catatan Cak AT:
Ada pohon yang hidup seratus tahun. Ada bangunan yang bertahan lima ratus tahun. Tetapi ada karya yang melampaui usia batu, kerajaan, bahkan agama-agama politik. Ia terus berganti wajah, berganti bahasa, berganti medium, tetapi denyut jantungnya tetap sama. Homer adalah salah satunya.
Bayangkan seorang penyair — atau mungkin sekumpulan penyair — yang hidup sekitar abad ke-8 sebelum Masehi. Ia tidak memiliki kamera. Tidak mengenal mesin cetak. Tidak pernah bermimpi tentang bioskop IMAX.
Namun hampir tiga ribu tahun kemudian, seorang sutradara bernama Christopher Nolan menghabiskan sekitar US$250 juta atau setara Rp 4,5 triliun untuk menghidupkan kembali kisah yang pernah dilantunkan di hadapan api unggun.
Itu lebih besar dari anggaran tahunan banyak pemerintah kabupaten/kota di Indonesia. Sebuah ironi yang indah: kisah yang dahulu hanya berpindah dari mulut ke mulut kini memerlukan dana triliunan rupiah untuk dipertontonkan kepada dunia. Mungkin inilah investasi paling mahal dalam sejarah untuk menghidupkan kembali sebuah puisi.
Dari mulut seorang penyair buta — menurut tradisi Yunani — kisah itu kini memenuhi layar raksasa dengan teknologi paling mutakhir yang dimiliki manusia. Itulah keajaiban sebuah masterpiece. Ia tidak sekadar bertahan. Ia bereproduksi.
Pekan ini, film The Odyssey karya Christopher Nolan akhirnya tayang di bioskop-bioskop Indonesia. Sebelum penonton membeli tiket, para kritikus dunia sudah lebih dahulu memberi vonis yang nyaris bulat.
Media besar The Guardian, The Independent, The Telegraph, dan The Times sama-sama menghadiahinya lima bintang. New York Times menyebutnya “adaptasi monumental”. Bahkan Kevin Maher di The Times menyebutnya sederhana namun berat: “A masterpiece in every way.” Sementara Manohla Dargis menulis bahwa Nolan mengajak manusia “berani bermimpi lebih besar”.
Kritik memang tetap ada, terutama soal penyederhanaan karakter perempuan dan beberapa dialog yang terasa modern. Namun secara keseluruhan, film ini dipandang sebagai salah satu pencapaian terbesar Nolan sepanjang kariernya. Jika sambutan awal ini bertahan, ia hampir pasti menjadi kandidat kuat Oscar tahun depan.
Namun sesungguhnya berita terbesar bukanlah Nolan. Berita terbesarnya adalah Homer, penulis yang melahirkan ribuan bait puisi yang bercerita. Sebab film ini hanyalah cucu, bahkan mungkin cicit, dari sebuah karya yang telah melahirkan ribuan keturunan intelektual selama hampir tiga puluh abad.
Siapa sebenarnya Homer? Jawabannya, ironisnya, kita tidak pernah benar-benar tahu. Sebagian ahli meyakini Homer adalah seorang penyair Yunani yang hidup sekitar abad ke-8 SM di wilayah Ionia, pesisir Asia Kecil.





