Komik pun ikut merayakannya. Marvel Comics berkali-kali menghadirkan Achilles, Hector, dan dewa-dewa Olympus ke dalam semestanya. DC Comics melakukan hal serupa lewat Wonder Woman yang berakar pada mitologi Yunani.

Di Eropa, berbagai adaptasi grafis The Iliad dan The Odyssey diterbitkan oleh penerbit besar seperti Glénat, SelfMadeHero, dan Penguin Graphic Classics. Manga Jepang bahkan meminjam struktur kepahlawanan Homer untuk berbagai serial fantasi modern.

Di ranah filsafat dan teori budaya, pengaruh Homer jauh lebih dalam lagi. Sulit menemukan filsuf besar Barat yang sama sekali tidak bersentuhan dengan Homer.

Plato berkali-kali berdialog sekaligus berdebat dengannya dalam Republic dan Ion. Aristoteles menjadikan Homer contoh utama dalam Poetics. Hegel membaca Homer sebagai cermin kesadaran awal bangsa Yunani. Nietzsche mengagumi vitalitas dunia Homer dalam The Birth of Tragedy.

Simone Weil menulis esai terkenal The Iliad, or the Poem of Force, yang hingga kini dianggap salah satu pembacaan paling tajam terhadap kekerasan dalam perang. Martha Nussbaum, Bernard Williams, Alasdair MacIntyre, hingga Jonathan Lear terus menggunakan Homer untuk membahas etika, kepemimpinan, keutamaan, identitas, dan tragedi manusia.

Dengan kata lain, Homer bukan sekadar penulis puisi. Ia adalah mata air. Dari satu mata air lahir sungai sastra, filsafat, psikologi, politik, bahkan perfilman modern.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Di sinilah ironi itu muncul. Nama Homer memang dikenal di kampus-kampus sastra, filsafat, sejarah, dan studi klasik. Terjemahan Iliad maupun Odyssey tersedia dalam bahasa Indonesia, meski sebagian besar diterbitkan dalam jumlah relatif terbatas.

Beberapa penerbit seperti Basabasi dan Bentang pernah menerbitkan adaptasi maupun terjemahan karya-karya klasik Yunani. Namun dibandingkan Shakespeare, Tolstoy, atau bahkan Kahlil Gibran, pembaca Homer di Indonesia masih sangat sedikit.

Tidak ada survei nasional yang secara khusus menghitung jumlah pembaca Homer. Tetapi indikator pasar buku memperlihatkan bahwa karya klasik Yunani berada pada ceruk pembaca yang sempit, umumnya kalangan akademisi, mahasiswa humaniora, atau pembaca sastra serius.

Di toko buku besar, novel-novel populer bisa dicetak puluhan ribu eksemplar, sedangkan karya klasik Yunani sering kali hanya dicetak beberapa ribu eksemplar dan beredar dalam waktu lama.

Anehnya, jutaan orang Indonesia sesungguhnya sudah menikmati Homer tanpa pernah membaca Homer. Mereka menonton Troy. Mereka memainkan gim Assassin’s Creed Odyssey. Mereka menikmati serial tentang dewa-dewa Olympus. Mereka mengenal Achilles, Trojan Horse, Cyclops, sirene, dan kuda Troya tanpa pernah membuka satu halaman pun Odyssey.

Mereka meminum air dari mata air tanpa mengetahui sumbernya. Fenomena inilah yang sebenarnya menarik. Kita sering mengira sebuah karya besar hidup karena dipelajari di sekolah. Padahal karya besar bertahan justru karena terus diciptakan ulang.

Shakespeare hidup bukan hanya melalui naskah drama, tetapi juga melalui film, musikal, anime, hingga meme internet. Demikian pula Homer. Ia berpindah dari syair lisan menjadi manuskrip, dari manuskrip menjadi novel, dari novel menjadi komik, dari komik menjadi gim, dari gim menjadi film IMAX.

Masterpiece tidak menuntut kesetiaan pada bentuk. Ia hanya meminta agar jantung ceritanya tetap berdetak. Dalam hal ini, Nolan tampaknya memahami sesuatu yang sering dilupakan para penjaga “kemurnian”. Ia tidak membuat museum. Ia membuat film.

Sebagian filolog mungkin kecewa karena ada tokoh yang dihilangkan, perempuan yang dipersempit perannya, atau dialog yang terdengar terlalu modern. Kritik itu sah. Namun justru di situlah paradoks karya klasik bekerja. Setiap generasi selalu menulis ulang masa lalu sesuai kegelisahannya sendiri.

Kalau semua adaptasi harus identik dengan teks asli, mungkin Homer sudah lama menjadi fosil. Yang membuatnya tetap hidup justru keberanian setiap zaman untuk berdialog dengannya, bahkan sesekali membantahnya.

Di situlah pelajaran terbesar bagi dunia pendidikan kita. Kita terlalu sering memperlakukan karya besar sebagai benda keramat yang harus dihafalkan. Padahal karya besar tidak meminta untuk dihafal. Ia meminta untuk diajak bercakap-cakap.

Anak-anak Indonesia mungkin tidak akan langsung membaca 12.000 baris Odyssey. Tetapi mereka bisa mulai dari film Nolan. Dari sana mereka bertanya, siapa Odysseus? Mengapa ia begitu penting? Mengapa kisah ini bertahan tiga ribu tahun?

Pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih berharga daripada sekadar menghafal nama tokohnya. Sebab pada akhirnya, ukuran sebuah masterpiece bukanlah berapa banyak penghargaan yang ia menangkan.

Melainkan berapa lama ia tetap mampu melahirkan karya baru setelah penciptanya sendiri telah menjadi debu.

Homer mungkin telah meninggal hampir tiga ribu tahun lalu. Tetapi minggu ini, di sebuah bioskop di Jakarta, Surabaya, Makassar, atau Medan, lampu kembali dipadamkan. Layar menyala. Musik mulai menggelegar. Penonton menahan napas.

Dan seorang penyair tua dari Yunani, entah benar-benar pernah ada atau tidak, sekali lagi mulai bercerita.

Cak AT – Ahmadie Thaha | Kolumnis