Sebagian lain berpendapat “Homer” mungkin bukan satu orang, melainkan nama kolektif tradisi penyair lisan yang selama beberapa generasi menyusun kisah-kisah kepahlawanan Yunani. Perdebatan ini dikenal sebagai Homeric Question, dan sampai hari ini belum pernah selesai.

Tetapi siapa pun dia, dunia mengaitkan karya terbesar kepadanya, yang sering dipecah menjadi dua bagian: Iliad dan Odyssey.

Karya epos puitis Iliad mengambil latar hanya beberapa minggu terakhir dari Perang Troya yang telah berlangsung hampir sepuluh tahun. Namun yang menjadi pusat kisah bukanlah perang itu sendiri, melainkan kemarahan Achilles, prajurit terbesar Yunani, setelah kehormatannya dirampas Raja Agamemnon.

Dari kemarahan itu mengalir rentetan tragedi: kematian sahabatnya Patroclus, duel legendaris melawan pangeran Troya Hector, ratapan Raja Priam yang memohon jenazah putranya, hingga campur tangan para dewa seperti Athena, Apollo, Zeus, dan Aphrodite yang seolah menjadikan perang manusia sebagai panggung pertarungan para penghuni Olympus.

Adapun karya epos kedua, Odyssey, itu dimulai justru ketika perang Troya telah dimenangkan. Tokohnya, Odysseus. Usai perang, ia malah harus menempuh pengembaraan selama sepuluh tahun untuk kembali ke kerajaannya di Ithaca.

Dalam perjalanan kembali itulah ia seolah harus menghadapi peperangan lain: melewati gua raksasa bermata satu Cyclops Polyphemus, godaan penyihir Circe, nyanyian mematikan Sirens, pusaran monster Scylla dan Charybdis, hingga terperangkap bertahun-tahun di pulau nimfa Calypso.

Sementara itu, di rumah, istrinya Penelope tanpa lelah mempertahankan kesetiaan sambil dikepung para pelamar yang ingin merebut takhta. Ia didampingi putranya Telemachus tumbuh mencari jejak sang ayah.

Hampir setiap nama dalam kedua epos ini kemudian menjelma menjadi dunia tersendiri. Achilles melahirkan novel, film, dan komik tentang kepahlawanan; Hector dikenang sebagai lambang kehormatan; Helen menjadi simbol kecantikan yang memicu perang; Penelope menjadi ikon kesetiaan.

Kemudian, Circe menjelma tokoh utama novel laris; Odysseus menjadi metafora manusia pengembara; bahkan Kuda Troya, Sirens, Cyclops, dan Achilles’ heel telah berubah menjadi ungkapan, metafora, permainan video, judul buku, film, komik, hingga istilah dalam keamanan siber.