Jika Iliad berbicara tentang bagaimana manusia memenangkan perang, maka Odyssey mengajukan pertanyaan yang jauh lebih abadi: bagaimana manusia menemukan jalan pulang setelah perang mengubah dirinya menjadi orang lain.

Pertanyaan itu ternyata jauh lebih abadi dari pedang. Karena itu, hampir setiap zaman merasa perlu menceritakan ulang Homer dengan bahasa zamannya sendiri.

Dalam dunia film, jejak Homer hampir tidak pernah putus. Tahun 1954 muncul Ulysses, dibintangi Kirk Douglas, yang menjadi adaptasi besar pertama Odyssey. Tahun 1997 hadir miniseri televisi The Odyssey karya Andrei Konchalovsky.

Wolfgang Petersen membuat Troy (2004) yang mengadaptasi sebagian besar Iliad dengan Brad Pitt sebagai Achilles. Film Helen of Troy, The Return, The Song of Troy, hingga berbagai serial dokumenter BBC dan PBS terus kembali ke sumber yang sama.

Bahkan film-film yang tampaknya tidak berhubungan, seperti O Brother, Where Art Thou? karya Coen Brothers, sesungguhnya merupakan adaptasi bebas perjalanan Odysseus di Amerika era Depresi Besar. Kini Nolan menambahkan satu cabang baru pada pohon yang sudah sangat tua itu.

Di dunia sastra, anak-anak turunan karya Homer jauh lebih banyak lagi. James Joyce menulis Ulysses (1922), yang dianggap banyak kritikus sebagai novel modern paling berpengaruh abad ke-20. Sehari perjalanan Leopold Bloom di Dublin diparalelkan dengan pengembaraan Odysseus.

Margaret Atwood menulis The Penelopiad, memberi suara kepada Penelope yang selama ribuan tahun lebih sering menjadi tokoh pendukung. Madeline Miller menulis Circe, yang mengangkat penyihir perempuan menjadi tokoh utama. David Gemmell menghadirkan trilogi Troy.Colm Tóibín menulis House of Names. Natalie Haynes, Pat Barker, dan puluhan novelis lain terus menafsirkan kembali dunia Homer dari perspektif yang sama sekali baru.