Emir Moeis dan Alexey Volin

Koran Sulindo – “Rusia adalah negara yang memiliki teknologi yang sangat hebat, luar biasa, terutama alat utama sistem pertahanannya. Harganya pun relatif murah. Rusia juga tidak akan melakukan embargo, seperti dilakukan Amerika Serikat. Kalau membeli senjata ke Amerika Serikat kan semuanya harus bergantung pada mereka.Kalau hubungan sedang baik, enggak ada masalah. Tapi, kalau kemudian ada masalah, Amerika Serikat akan mengembargo, seperti pernah dilakukan terhadap Indonesia dan banyak negara lain. Tahun 1995 sampai 2005 kan Amerika Serikat melakukan embargo militer terhadap Indonesia. Mereka menyetop penjualan senjata ke Indonesia, termasuk tak mau memberikan suku cadang yang diperlukan Indonesia untuk meremajakan pesawat-pesawat TNI yang dibeli dari Amerika Serikat,” ungkap Pendiri dan Pemimpin Umum Koran Suluh Indonesia (koransulindo.com), Emir Moeis.

Dijelaskan Emir, dirinya baru saja melakukan kunjungan pribadi ke Rusia pada akhir Juni sampai awal Juli 2017 lalu. “Saya ingin membantu menjaga hubungan baik Indonesia dan Rusia, menjalin persahabatan antar-bangsa agar lebih baik lagi dan menjajaki kerja sama di berbagai bidang,” kata politisi senior PDI Perjuangan ini.

Pada pertengahan Mei 2017 lalu, Emir oleh Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri memang diamanahkan untuk menjadi Eksekutif Perencanaan Kebijakan PDI Perjuangan. Posisinya tersebut masuk dalam Dewan Pimpinan Pusat PDI Perjuangan, meski tidak masuk dalam struktur kepengurusan. Tugas utamanya antara lain menjalin hubungan internasional serta penggalangan negara-negara The New Emerging Forces (Nefos) sebagaimana digagas dan dijalankan Presiden Soekarno dulu—yang merupakan gagasan terakhir Presiden Soekarno yang tak sempat terwujud, walau gedungnya sempat selesai dan kemudian dijadikan gedung MPR/DPR/DPD sekarang, karena Bung Karno keburu dijatuhkan oleh kaum imperialis.

Di Rusia, Emir bertemu dengan Wakil Menteri Komunikasi dan Media Massa (Minkomsvyaz) Republik Federasi Rusia, Alexey Volin. Keduanya berdiskusi tentang banyak hal, terutama soal teknologi informatika dan perkembangan media massa. “Dia juga mengungkapkan bagaimana Rusia menangkal berita palsu, hoax, dan melawan propaganda Barat yang menyudutkan negaranya,” tutur Emir.

Volin sendiri pernah tinggal di Jakarta, dari tahun 1990 sampai 1991. Pada rentang waktu itu, sejarawan lulusan Studi Asia dan Afrika dari Universitas Lomonosov, Moskwa, itu menjadi wakil manajer di Departemen Informasi Kedutaan Besar Uni Soviet. Ia juga menjadi wartawan dan dikenal sebagai penerjemah utama bahasa Rusia-Indonesia.

Emir Moeis, Alexey Volin, serta staf Kementerian Komunikasi Republik Rusia dan staf Kedutaan Besar Indonesia di Moskow
Emir Moeis, Alexey Volin, serta staf Kementerian Komunikasi Republik Rusia dan staf Kedutaan Besar Indonesia di Moskow

Sementara itu, selain sebagai Pendiri dan Pemimpin Umum Koran Suluh Indonesia dan politisi senior PDI Perjuangan, Emir Moeis adalah seorang akademisi. Ia pernah mengajar hampir 30 tahun di Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Gelar insinyur teknik industri dan master lingkungan hidup Emir Moeis diperoleh dari  Institut Teknologi Bandung, Universitas Indonesia, dan dari Massachusetts Institute of Technology, Amerika Serikat.

Sebagai politisi, Emir pernah menjadi anggota DPR selama tiga periode. Di parlemen, ia antara lain menjadi Ketua Komisi IX DPR RI dan Ketua Panitia Anggaran DPR RI (yang sekarang namanya menjadi Badan Anggaran). [PUR]