Peristiwa 10 Mei 1963
Pada tanggal 8 dan 9 Mei 1963, terjadi kerusuhan di Cirebon dan Tegal yang menyasar orang-orang keturunan Tionghoa. Barang-barang milik keturunan Tionghoa dibakar dan toko-toko milik mereka dirusak oleh massa. Yap khawatir kerusuhan ini akan menyebar ke kota tempat tinggalnya, Bandung, dan oleh karena itu ia berkoordinasi dengan sesama warga Tionghoa di Bandung dan juga dengan pemerintah setempat untuk mencegah menyebarnya kerusuhan itu. Namun naas, pada tanggal 10 Mei 1963, kerusuhan akhirnya menyebar ke Bandung (hlm. 76).
‘Peristiwa 10 Mei 1963’ yang pecah di Bandung itu sendiri berawal dari perselisihan kecil antara mahasiswa ‘pribumi’ dengan Tionghoa di Institut Teknologi Bandung (ITB): sebagian mahasiswa ‘pribumi’ merasa jengkel dan iri terhadap sebagian mahasiswa Tionghoa yang memiliki kendaraan bermotor dan dengan begitu dapat mendahului mereka untuk duduk di depan ruang kelas kuliah. Perselisihan itu menyebar dalam internal kampus ITB dengan dilakukannya intimidasi dan kekerasan terhadap mahasiswa-mahasiswa keturunan Tionghoa.

Pada tanggal 10 Mei, kerusuhan akhirnya menyebar ke luar kampus. Pemerintah setempat gagal untuk mengendalikan keadaan, dan warga Tionghoa di Bandung, terutama mereka yang kurang mampu, menjadi target amukan massa. Toko-toko mereka dihancurkan dan penghidupan mereka ludes dalam sesaat.
Yap sendiri, yang tinggal di Jalan Cipaganti yang terbilang elit, memiliki banyak relasi yang dapat melindunginya dari dampak kerusuhan. Dalam Meretas Jalan Kemerdekaan (hlm. 77), Yap menceritakan bahwa kepala polisi Priangan menawarkan kepadanya untuk mengutus anggota polisi untuk mengawal rumah Yap, namun Yap menolak tawarannya itu.
Mengenai alasan mengapa Yap menolak untuk dilindungi oleh aparat, ia sendiri tidak secara gamblang mengatakannya. Di satu sisi mungkin Yap merasa aman, mengingat ia adalah seorang negarawan Sukarnois dan petinggi PNI, sehingga ia mungkin merasa bahwa pengawalan aparat tidak diperlukan. Di sisi lain, mungkin juga Yap bersimpati dengan warga-warga keturunan Tionghoa yang tidak dapat menikmati fasilitas perlindungan aparat seperti yang ia miliki, yang justru menjadi sasaran utama kerusuhan.
Yang Rentan Menjadi Korban
Peristiwa 10 Mei 1963 membuka sebuah luka yang menyakitkan bagi golongan Tionghoa Indonesia, dalam sebuah pola yang kemudian terulang lagi dan lagi dalam sejarah nasional kita: dalam kerusuhan itu, yang disebabkan oleh ketidaksukaan sebagian mahasiswa ‘pribumi’ terhadap segelintir mahasiswa Tionghoa yang dianggap “kaya”, pihak yang menjadi korban utama justru keluarga-keluarga Tionghoa yang tidak berada, yang sedari awal tidak memiliki banyak harta, dan harta mereka yang hanya sedikit itu hangus dihancurkan oleh kebrutalan massa yang tidak mengenal ampun.
Begitu juga, ketika pemimpin-pemimpin golongan Tionghoa dapat menerima pengamanan dari aparat, kemewahan ini jarang atau tidak diberikan pada orang keturunan Tionghoa yang tidak memiliki koneksi politik atau yang tidak memiliki jabatan tinggi.
Padahal dapat dikatakan bahwa orang-orang keturunan Tionghoa yang ‘biasa’ itu justru sama nasionalisnya dengan ‘tokoh’ seperti Yap. Namun, berbeda dengan Yap yang menghidupi nasionalismenya dalam gelanggang politik nasional, orang-orang keturunan Tionghoa yang ‘biasa’ itu menghidupi nasionalisme mereka dalam perbuatan sehari-hari mereka: mereka belajar dan bekerja dengan baik, membayar pajak, dan ikut serta mengisi kehidupan nasional melalui kegiatan sehari-hari. Namun ketika massa mengamuk, merekalah yang paling pertama ditinggalkan oleh aparat negara.
Yap, Sang Eksil Pertama
Dalam Peristiwa 10 Mei 1963, Yap kehilangan sebagian hartanya akibat dibakar oleh massa. Pembakaran itu memang merupakan kehilangan yang tidak kecil, namun dampak yang terbesar bagi Yap dan keluarganya adalah pada keadaan psikis mereka: setelah kerusuhan itu, keluarganya terus hidup dalam ketakutan, terutama karena putra Yap, Siong Hoei, lumpuh dan tidak dapat melarikan diri apabila kerusuhan pecah lagi dan menyasar rumah Yap.
Setelah lama diliputi oleh kebimbangan dan ketakutan, Yap dan keluarganya akhirnya memutuskan untuk pergi dari tanah air.
Dengan sangat berat hati dan demi keselamatan putranya, Yap dan keluarganya meninggalkan Indonesia dan pindah ke Amerika Serikat, di mana mereka hidup sebagai ‘eksil’ sejak tahun 1963.
Istri Yap wafat pada tahun 1983, dan Yap sendiri wafat pada tanggal 26 Januari 1988, hanya selang beberapa hari sebelum otobiografinya Meretas Jalan Kemerdekaan diterbitkan di Indonesia. Sejak terpaksa pergi meninggalkan Indonesia pada tahun 1963, sampai wafatnya Yap tidak pernah kembali mengunjungi tempat kelahirannya.



