Memaknai Eksil Yap

Kisah kehidupan Yap seakan menjadi sebuah antiklimaks: berbeda dengan eksil-eksil pasca-1965 yang terjebak di luar negeri akibat pergoncangan politik nasional, tidak ada elemen politis yang kentara dalam eksil-nya Yap. Paling tidak, sebagian dari eksil 1965 itu dapat menemukan makna hidup yang baru dalam bentuk perjuangan politik dari luar negeri: ada yang melanjutkan keberadaan PKI, membuat siaran radio, maupun memproduksi tulisan-tulisan yang menentang Orde Baru dari luar negeri.

Walaupun tragis, para eksil pasca-1965 setidaknya dapat memaknai diri mereka sendiri sebagai sekelompok pejuang yang heroik, yang menentang Orde Baru lewat karya dan perbuatan mereka dari luar negeri.

Sebaliknya, ‘eksil’nya Yap tidak memiliki makna perjuangan ataupun makna politis sama sekali: hubungan kepartaiannya dengan PNI langsung putus setelah ia hengkang dari Indonesia, ia tidak pernah lagi berpartisipasi dalam politik domestik dari luar negeri, dan secara garis besar ia tidak pernah lagi berjumpa dengan dunia kenegaraan Indonesia selama seperempat abad tinggal di luar negeri.

Eksil Yap murni bernada tragis: Yap Tjwan Bing, salah satu tokoh yang ‘membidani’ lahirnya negara Indonesia pada tahun 1945, justru dikhianati dan dibuang oleh ‘anaknya’ sendiri melalui Peristiwa 10 Mei 1963.

Sebagian harta Yap memang hilang akibat kerusuhan itu, namun yang lebih parah lagi adalah bahwa akibat kebrutalan massa, rasa aman dirinya dan keluarganya yang semestinya menjadi haknya sebagai warga negara Indonesia telah direnggut secara paksa, dan kehidupannya di Indonesia diisi oleh rasa takut dan teror sehingga ia terpaksa meninggalkan tanah air yang ia cintai. Akhirnya Yap wafat di negeri orang, dilupakan oleh sebagian besar rakyatnya.

Membangun Nasionalisme Inklusif

Pertanyaan yang perlu kita ajukan: ada berapa banyak orang di Indonesia yang mengalami perlakuan yang sama dengan Yap, dalam 53 tahun setelah Yap menjadi ‘eksil pertama’ pada tahun 1963?

Kita mengingat cerita-cerita para eksil pasca-geger 1965. Kita juga mengingat tentang banyaknya saudara-saudara sebangsa kita keturunan Tionghoa yang, sama seperti Yap, dipaksa oleh perbuatan kekerasan dan kesewenang-wenangan massa untuk pergi dari tanah air yang mereka cintai akibat kerusuhan rasial yang menyasar mereka pada bulan Mei 1998.

Pun saya yakin bahwa sebenarnya tidak sedikit orang dari berbagai golongan minoritas etnis, agama, maupun ras yang, akibat insiden-insiden kebencian yang terlalu kecil untuk diliput dalam berita nasional, telah kehilangan rasa aman dan rasa memiliki terhadap tanah air Indonesia dan memilih pindah ke luar negeri.

Sampai kapan keadaan ini akan terjadi? Kapan bangsa Indonesia dapat menemukan sebuah nasionalisme…

…yang sebenar-benarnya inklusif, bukan hanya dalam perkataan namun juga dalam perbuatan,
…yang memberikan rasa aman bagi setiap warga negara tanpa terkecuali,
…yang tidak memandang perbedaan suku, kepercayaan, maupun ras,

Sebagaimana yang diperjuangkan oleh Yap Tjwan Bing seumur hidupnya, sang peretas jalan kemerdekaan yang sekaligus adalah eksil pertama Indonesia?

Jonathan Siborutorop | Pemuda Marhaenis