Revolusi Kita #2:
Dalam perjalanan saya mempelajari sejarah bangsa kita lewat potret-potret kepribadian para pemimpin bangsa kita dari zaman ke zaman, saya menemukan sebuah buku yang berjudul Meretas Jalan Kemerdekaan: Otobiografi Seorang Pejuang Kemerdekaan (diterbitkan oleh Penerbit Gramedia, 1988). Buku ini ditulis oleh Yap Tjwan Bing, seorang anggota PPKI, negarawan PNI, dan pelopor pergerakan politik Tionghoa-Indonesia.
Yap Seorang Nasionalis
Yap Tjwan Bing lahir di Solo pada tanggal 31 Oktober 1910. Pada tahun 1932 sampai 1939, Yap berkuliah di Amsterdam, Belanda, mempelajari ilmu farmasi. Semasa berkuliah, Yap berjumpa dengan mahasiswa-mahasiswa asal Indonesia yang berhaluan nasionalis.
Setelah pulang ke Indonesia, Yap bekerja sebagai seorang apoteker di Bandung. Melalui salah satu rekanannya di Bandung, Raden Mas Sartono– salah seorang pendiri PNI– Yap menjalin persahabatan dengan Bung Karno dan Bung Hatta, dan mulai menjadi bagian dari perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Pada akhir masa pendudukan Jepang, pada tanggal 7 Agustus 1945, Yap ditunjuk sebagai salah satu anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Dalam badan PPKI, Yap adalah satu-satunya perwakilan bangsa peranakan (‘non-pribumi’).
Namun, seperti yang kita ketahui, pekerjaan PPKI tidak berjalan lama– para pemuda mendorong Sukarno dan Hatta untuk menyatakan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, tanpa melalui struktur PPKI.
PPKI (dan Yap sebagai salah seorang anggotanya) baru bersidang pada tanggal 18 Agustus, ketika PPKI memilih Sukarno dan Hatta sebagai pasangan presiden dan wakil presiden serta mengesahkan Undang-Undang Dasar 1945. Selama hari-hari awal Republik, Yap sebagai anggota PPKI, satu-satunya lembaga negara, menjalankan roda pemerintahan: menjaga ketertiban, membentuk pemerintahan daerah, dan menciptakan lembaga-lembaga negara praktis dari nol (hlm. 27–28). Semua ini dikerjakan oleh Yap dengan penuh rasa cinta terhadap tanah airnya Indonesia.




