Mungkin benar era pembangunan tidak memerlukan seorang model Sukarno. Lepas dari dia sudah membangun proyek fisik ‘mercu suar’ yang kini pun masih tetap jempolan, lepas dari dia sudah menggagas proyek non-fisik yang membelah dunia ini menjadi pro dan kontra, dia toh tetap tidak jadi perhitungan para pembangun model sekarang. Antara Bung Karno dan pembangunan tidak ada tali penghubungnya, habis perkara.

Dari ukuran bendawi bisa jadi begitu. Atau katakanlah pasti begitu. Siapa pula orang yang sanggup membangun satu negeri yang dari tahun ke tahun dibisingkan oleh tembakan senjata, mulai dari senjata lawan kolonial hingga senjata lawan pemberontakan dalam negeri, pemberontakan kaum separatis, pemberontakan dewan ini- dewan itu yang juga merupakan bagian dari Angkatan Bersenjata? Jangankan membangun, tidur pun barangkali sudah susah payah.

Tetapi, yang sudah pasti, Bung Karno seorang nation and character builder. Itu sudah pasti. Dia belum berkesempatan membangun barang untuk kenikmatannya kaum konsumen. Dia belum berkesempatan mengundang kaum assembler untuk merakit tempat simpan beras Cosmos, apalagi beras itu tidak keberatan untuk disimpan di pendaringan. Dia tahu persis, kemerdekaan politik hanyalah sekedar jembatan—meskipun emas, jembatan tetap jembatan—sedangkan masalah membangun masyarakat yang adil dan makmur justru berada di seberang itu. Dan dia tahu persis, yang utama bin utama yang mesti dibangun lebih dulu adalah sikap jiwa suatu nasion, kedewasaannya, harga dirinya, kepribadiannya, tekad ketidaktergantungannya kepada bangsa lain. Tanpa pondamen macam ini, suatu bangsa akan bergoyang kian kemari bagai sebatang gelagah.

Saat itu awal tahun 1966, jalanan Jakarta penuh dengan demonstran, ada dimana-mana bagaikan alang-alang. Terbayang benar wajah kesepian Bung Karno. Kawan yang hatta terdekat sekalipun sudah enggan menampakkan diri, tabiat turunan bangsa Indonesia, mendekat pembesar yang sedang kuat dan menjauh ketika kegoncangan mulai terasa: sikap realisme yang tidak terhormat.

Sesudah meneguk segumpal pil yang aneka macam warna bagai mozaik, saya ajukan pertanyaan enteng-entang saja kepada Bung Karno. Beban berat tidak perlu ditambah-tambah lagi. Pohon sengon di lapangan antara Istana Merdeka dan Istana Negara seperti enggan bergoyang, jangan-jangan angin sudah berhenti menyentuh karena di luar Istana angin ribut sedang berhembus.

“Apa sebab kelihatannya Bung Karno ngebut selesaikan Monumen Nasional, dan bukannya Mesjid Istiqlal?” tanyaku.

“Kamu tahu apa sebabnya?”

“Tidak”.

“Begini. Kalau Monumen Nasional tidak rampung sementara aku sudah meninggalkan dunia fana ini, apa ada yang meneruskan? Tidak. Tidak ada! Siapa yang ambil pusing dengan Monumen Nasional? Tapi beda dengan Mesjid Istiqlal. Dia milik seluruh umat Islam. Aku ada di dunia atau sudah masuk lubang kubur, pembangunan mesjid itu pasti akan diteruskan. Mana ada Muslim yang baik yang membiarkan mesjidnya terbengkalai? Apalagi mesjid terbesar di dunia. Terbesar kukatakan! Aku tidak mau yang kecil-kecilan! Bangsamu itu bangsa yang besar, bukan bangsa sembarangan! Bukan bangsa cindil!”

“Lantas apa hubungannya dengan Monas?”

“Begini,” kata Bung Karno sambil sinar matanya menyorot tajam menembus langit. “Jika Monas itu bisa rampung, yang lebih tinggi dari tugu Istana Gedung Putih, bukan main hebatnya. Bayangkan! Entah seratus entah dua ratus tahun sesudah aku tiada, pada suatu waktu ada kapal terbang membawa turis asing melayang-layang di atas Jakarta. Penumpang-penumpang melongok ke luar jendela persis di atas Monas dan berkata, ‘Lihatlah bumi di bawah itu, di sana hidup bangsa yang besar!!’’’

Bagaimana pun hati sepi adalah hati sepi. Pikiran Bung Karno menerobos ke masa depan, tetapi sebagai orang yang puluhan tahun bersama massa, kesendirian suatu beban tak tertahankan. Singa gurun terpisah dari kelompoknya! Bagaimana bisa bercengkrama dengan teman-teman? Bagaimana bisa berseloroh? Bagaimana bisa memuntahkan isi hati yang coraknya senantiasa mondial itu?

“Aku kepingin ngobrol sambil makan siang dengan kiai-kiai NU.

Dimanakah mereka itu sekarang? Bagaimana caranya? Kau bisa atur? Dengarkan baik-baik: cuma makan siang, tidak lebih tidak kurang!”

“Di rumah siapa?” tanyaku.

“Siapa saja. Idham boleh, Djamaluddin Malik boleh. Mana saja yang sudi mengundangku makan siang”.

Maka berputar-putarlah saya menawarkan yang teramat sederhana ini. Makan siang! Apakah makan siang di saat sekarang ini begitu sulit? Ternyata memang sulit. Orang mesti berpikir seribu kali ketamuan seorang ‘gergasi’ makan siang di rumahnya! Si polan tidak bersedia. Si Badu berpikir keras, tetapi tak bisa ambil keputusan apa pun. Si Badu keluar keringat dingin mendengar permintaan ini. Di awal tahun 1966 menerima Bung Karno makan siang di rumahnya, sungguh  sesuatu yang tak terbayangkan.

Untung masih ada seorang yang punya nyali besar, semata-mata ingin mengabulkan keinginan sederhana seorang sahabat yang sedang melayang-layang antara bumi dan langit. Orang itu adalah H. Moh. Hassan, bekas Menteri Pendapatan, Pengeluaran dan Penelitian, dan saat itu jadi Menteri Negara entah apa urusannya. Baiklah, katanya. Maka makan siang pun terjadi di rumahnya di Jalan Senopati, Kebayoran Baru. Hanya makan, sesudah itu bubar. Almarhum Kyai Wahab dan Kyai Bisri pun ikut menemani. Jika tidak seluruhnya, sebagian tentu juga ada rasa kesepian terobat.

Siapakah yang bisa membayangkan: seorang penggerak dan pemersatu nasion, seorang musuh nomor satu kolonial, seorang proklamator tanah air yang begini besar, seorang Macan Dunia Ketiga, pada suatu saat menghadapi kesulitan minta makan siang bersama teman-temannya yang biasa memuja dan menempel rapat di punggungnya? Inilah Indonesia, segala sesuatu bisa terjadi tanpa bisa diduga-duga. Malam ini sebantal seketiduran, besok pagi seperti sudah melesat ke Antartika.

Apakah kesendirian ini, apakah kesepian ini, dan bahkan wafatnya yang tragis di tahanan negeri sendiri yang diperjuangkannya berpuluh tahun, adalah akibat kegagalan paham yang dicetuskan? Dari sisi lahiriah perkataan ‘gagal’ itu boleh jadi bisa dipergunakan. Bukankah seorang presiden yang berhenti secara begitu itu, namanya ‘gagal’? Tetapi dari sisi bathiniah, saya lihat persoalannya lain sama sekali. Bung Karno bukan seorang yang ‘gagal’! Dia menghadapi resiko dengan berani dan tabah atas paham-paham yang disusun dan dipertahankan-nya sejak tahun 20-an. Paham pendirian adalah harga diri tertinggi, dan itulah yang jadi taruhan. Dari 100 orang yang punya pembawaan mencla-mencle sejak dari rahim, masak iya tidak ada seorang yang terkecuali?

Satu pertanyaan penting pantas disodorkan: sampai sejauh mana relevansi paham itu bila dikaitkan dengan permasalahan nasional sekarang dan terutama yang akan datang? Di sinilah justru persoalan pokok yang terpenting. Jawab yang tegas diperlukan, dan saya mencoba memberi jawaban yang setegas-tegasnya atas dasar keyakinan.

Paham dan cita-cita Bung Karno tidak berhenti hanya karena dia sudah berpulang ke alam baka di tempat yang mulia yang disediakan oleh-Nya. Paham itu—teraba atau tidak, tercium atau tidak—masih berada di dalam atmosfir bumi, tidak terpental ke planet lain. Mungkin saja dia akan menampakkan diri jadi pelangi begitu hujan badai baru mereda. Atau jadi bintang penuntun para nelayan, awan gulung-gemulung para petani, angin penyejuk buruh yang kelelahan. Siapa bisa membunuh mati suatu paham sembari menggantungnya hingga lidah terjulur? Siapa bisa mampu membenamkannya ke dalam sungai?

“Kamu bisa membabat mati jasad hingga menjadi cacing, tapi paham dan ideologi tidak. Sama sekali tidak!” kata Bung Karno kepada saya di awal tahun 1966.

“Maksudnya?” tanyaku.

“Pokoknya begitu, kau catat itu baik-baik”.

Tatkala dunia kampus menghangat di tahun 1978 di seputar Sidang Umum MPR, saya baca spanduk terpampang di ITB yang bunyinya: DI CARI CALON PRESIDEN LULUSAN ITB. Apa ini artinya? Tentu seloroh anak-anak muda. Tetapi, apa yang ada di kepala belakang seloroh itu?

Saya kira, sedikitnya ada dua faktor memainkan peranan. Pertama, masalah pencalonan seorang presiden perkara biasa-biasa saja, tidak memerlukan bisikan dari langit. Siapapun juga tidak melakukan tindakan kriminal bilamana dia menghendaki seseorang jadi calon presiden, termasuk dirinya sendiri. Kedua, apakah tidak terselip di dalamnya kerinduan nostalgia kepada seorang bernama Ir. Sukarno, lulusan ITB?

Sudah lumrah adanya suatu generasi yang merindukan kedahsyatan seorang pemimpin yang sudah tiada, semacam pencarian alternatif yang sebetulnya khayali. Khayali tidak khayali, terhampar luas kecamuk batin yang sukar dilukiskan dengan kata-kata. Apa anehnya kampus ITB menilai kembali seorang alumninya?

Bung Karno adalah Bung Karno, dan Hitler adalah Hitler. Antara keduanya tidak ada persamaan esensial. Dia benci benar kepada Naziisme seperti halnya dia benci betul fasisme. Jika dalam buku yang ditulis Cindy Adams, Bung Karno mengutarakan kesenangannya atas konstatasi wartawan Amerika, bahwa “Sukarno itu blasteran Clark Gable dan Hitler”, itu adalah kejengkelan yang meletup dalam bentuk humor tingkat tinggi.

Mumpung menyebut Hitler, saya teringat dongeng teman baik saya, Dr. Midian Sirait –- waktu itu anggota DPR dan waktu artikel ini ditulis Dirjen POM –- tentang kisah nyata tatkala ia masih belajar farmasi di Jerman Barat. Kata Midian, sebuah fakultas sosial politik di Jerman lesunya bukan alang kepalang. Tiap sang mahaguru berdiri di mimbar dan ngoceh, para mahasiswanya loyo seperti karung basah: ada yang tidur pulas, ada yang bengong pikirannya mengembara kian kemari, ada yang baca buku porno. Pokoknya, tak seorang pun tertarik. Silakan beri kuliah sampai pagi!

Bukan mahaguru namanya kalau dia kehilangan akal. Mesti ada caranya membikin mereka tidak tidur pulas. Tetapi apa? Pada suatu hari sang mahaguru tampil di mimbar sambil membaca keras-keras sebuah buku.

Yang pulas tersentak bangun, yang bengong melotot. Semua mata dan kuping terpusat ke mimbar. Mahasiswa seperti melihat setan. Sesudah buku habis terbaca, berkatalah sang profesor, “Tahukah kamu buku apa itu? Mein Kampf-nya Adolf Hitler!”

Sekali-kali kocak juga Midian Sirait yang kalem itu. Yang menarik, apa dibalik dongeng itu? Okey-lah Hitler itu jagal-besar. Okeylah dia itu tak lebih dari demagog besar mulut yang bisanya cuma menggalakkan insting primitif semacam rasialisme. Okey-lah dia bisanya cuma main intel-intelan, main berangus dan main bungkam dan piting leher orang hingga melengkung. Okey-lah. Tetapi bukankah fakta menunjukkan di bawah kepemimpinannyalah Jerman tidak seperti pensiunan terbungkuk-bungkuk, melainkan melangkah tegak membikin berdiri bulu roma orang yang melihatnya? Jerman sekarang boleh modern, boleh menggaruk gatal dengan komputer, tetapi mempunyai keagungan yang mempesona dan diperhitungkan dia tidak. Jerman sekarang adalah Jerman yang santai, bukan Jerman yang bergelora bagai tanur. Dan generasi muda Jerman rupanya bosan dengan Jerman sekarang, merindukan Jerman tempo dulu, merindukan seorang Hitler, paling sedikit mengaguminya tak habis pikir!

Soal Jerman akhirnya kalah dan terpesiang, itu betul. Dan soal Jerman pernah jadi harimau jantan yang disegani, itu pun betul.

Saya akan segera menjawab permasalahan yang diajukan oleh pihak penerbit, sesudah segala rupa jurus kembangan itu: Cita-cita Bung Karno untuk masa sekarang dan masa depan. Pendapat saya akan terang benderang. Wangi cita-cita itu akan tercium terus selama nasion Indonesia ini ada! Begitu pula ajaran-ajarannya, paham-pahamnya, yang karena sifat ilmiahnya tentu siap meningkahi masyarakat yang senantiasa bergerak panta rei. Penyatuan nasion suatu cita-cita tak terguncangkan. Penggalian Pancasila suatu kreasi pemikiran seorang manusia besar yang punya cakupan historis teramat jauh ke depan.

Anjuran punya harga diri jangan jadi bangsa kelas kambing mesti tetap jadi lagu wajib dari satu generasi ke generasi lain, karena hanya jiwa budak yang coba mengikisnya. Jadi mercu suar yang bisa jadi penyuluh dunia, apa salahnya? Mendingan punya selera jadi mercua suar ketimbang selera lampu tempel!

Kekeliruannya? Hanya mereka yang tak berani melakukan hal-hal besar yang ‘tak pernah keliru’, karena dari pabriknya dia sudah keliru, Bung Karno itu, menjadi tugas sejarahwan yang tulen memeriksa dan mencatatnya, dan bukan ‘sejarahwan’ pesanan yang bekerja atas order. Sejarah tidak bisa diputarbalik dan dipalsukan. Cepat atau lambat, belang yang sesungguhnya akan terungkap jua. Penulisan sejarah itu suatu kerja subyektif? Baiklah. Tetapi, antara subyektif dan manipulatif ada jarak yang patut diperhatikan. Meja adalah meja dan tempayan adalah tempayan.

Satu hal lagi: Cita-cita, paham, pendapat, sikap tindakan Bung Karno adalah bagai buku yang terbuka. Setiap makhluk hidup, berasal dari generasi mana pun berhak membacanya tanpa harus terganggu.

Berikanlah kesempatan mereka melakukan telaah dengan akal sehat dan kalbu lempang. Dari sana baru akan datang kesimpulan seberapa jauhkah cita-cita Bung Karno itu punya kebenaran historis dan bagian-bagian mana yang punya daya cekam untuk diterapkan.

Biarkan generasi baru yang tidak sempat melihat adanya seorang Sukarno di dunia membaca semua tulisan-tulisannya, mendengar atau membaca semua pidato-pidatonya dimana pun pidato itu diucapkan. Tanpa mempelajari masa lalu, bagaimana tahu arah melangkah ke depan? Adakah hak-hak asasi generasi baru untuk melakukan penilaian dan kata putus.

Nyaris tulisan ini saya tutup, datang hadiah dari Pustaka Sinar Harapan novel sejarah Kuantar Ke Gerbang karangan teman baik saya Ramadhan K.H. Ini memang roman (buku sejarah) sekitar kisah cinta antara Ibu Inggit dengan Bung Karno. Ramadhan K.H. memang orang yang paling patut menulis roman kisah ini.

Di sana ada ‘Sekapur Sirih’ dari S.I. Poeradisastra yang menarik perhatian saya. Antara lain kalimat yang berbunyi…”Apa pun kekurangan Soekarno sebagai manusia, apa pun segi negatifnya, ia seorang pejuang yang berjasa bagi bangsa dan tanah airnya. Benci dan cinta, lawan dan kawan, tak mengubah fakta bahwa ia salah seorang Indonesia terbesar sepanjang sejarah, lebih besar dari semua musuh-musuhnya…”

Itu betul. Sekali lagi, betul.

Oleh: Mahbub Djunaedi

Tulisan ini pernah dimuat dalam buku “80 Tahun Bung Karno”, Aristides Katoppo (ed), Pustaka Sinar Harapan,  1990.