Kisah Kaki Patah Tiga
MENGABAIKAN seragam resminya, puluhan tentara itu cuma mengenakan kaos hitam. Seram dengan mata nyalang dan pentungan yang tergenggam di tangan. Di depannya, demonstran dan langit terik serta keringat membanjir. Mereka tak sabar menggunakan pentungnya. Ketika mereka benar-benar mengamuk, demonstran di seberang gedung Departemen Penerangan, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, yang hanya berjumlah ratusan itu kocar-kacir.

Semsar Siahaan, selain rangkap profesi sebagai seniman dan aktivis, adalah orang yang dikaruniai solidaritas tinggi. Bersama beberapa aktivis, dia ikut berdemonstrasi pada tanggal 27 Juni 1994 itu, menentang pembreidelan majalah Tempo, Editor, dan tabloid Detik.

Ketika unjuk rasa berubah menjadi chaos, Semsar sebenarnya sudah dalam posisi aman. Namun, dia berbalik untuk melindungi seorang teman. Semsar memapah dan menyuruh sang teman berlari kencang menjauh.

Saat sang teman mencoba balik dan mengajak dirinya, Semsar hanya melambaikan tangan tanda mengusir dan menolak ditemani. Sial, kaki yang sejak kecil memang sudah lemah karena penyakit polio itu dihajar tentara. Tempurung lutut dan tulang keringnya patah tiga dihajar tentara. Ironis, karena bapak Semsar juga seorang tentara.

Tak hanya karena solidarita yang tinggi, Semsar dikenal. Banyak yang menyebut, di keningnya ada cap si pembuat gara-gara. Selain pernah membakar patung karya dosennya saat kuliah di ITB, Semsar juga membuat geger ketika memanjat kubah Planetarium di Taman Ismaill Marzuki pada tengah malam. Dia nekat memanjat kubah itu untuk memasang spanduk manifesto politik berkeseniannya. Tentu saja tanpa izin penguasa. [TUS]