Ilustrasi: Khofifah Indar Parawansa/nu.or.id

Koran Sulindo – Khofifah Indar Parawansa rajin turun ke daerah, menyapa pengurus dan anggota. Ia bisa mengidentifikasi anggota Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) dari golongan menengah ke bawah.

“Aku bukan tidak bisa beli gelang, tapi sengaja tidak menggunakan agar tidak berbatas dengan mereka. Kalau aku kelihatan bergelang orang enggak berani bersalaman. Cincin aku jarang. Wajahku kebetulan ndeso, itu menguntungkan,” kata Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat NU itu sambil tertawa, di Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Jumat (26/1/2019), seperti dikutip nu.or.id.

Khofifah bercerita pada kegiatan Muslimat NU yang dihadirinya tak jarang punggung tangannya lecet dan tergores-gores.

“(Sambil menunjukkan punggung tangan kanannya) Tercoret-tercoret sudah pasti. Kalau ini, ada coretan ini, adalah sisa 30 Desember. Ini agak dalam,” katanya.

Khofifah sudah memimpin Muslimat NU pada periode keempat ini. Ia menggantikan Nyai Aisyah Hamid Baidlowi pada 2000 lalu.

Salah satu idenya adalah memperkenalkan seragam batik untuk anggota dan pengurus, agar tidak ada jarak di antara keduanya.

“Seragam itu dulu kita berharap akan menjadi sesuatu borderless, tidak ada pembatas. Jangan yang kaya memakai baju apa. Yang tidak punya pakai baju apa. Jadi itu kan kemudian sama,” katanya

Menurut Khofifah, tanpa batas merupakan kunci kepemimpinannya.

Hari ini Muslimat NU merayakan hari lahir ke-73 di GBK Senayan Jakarta. Sekitar 120 ribu anggota sayap NU itu menghijaukan GBK sejak dinihari tadi.

Menurut Khofifah, bangsa Indonesia tercipta dengan berbagai latar belakang suku, bahasa, dan agama, hingga organisasi yang berbeda. Perbedaan itulah yang mesti menjadi spirit berkompetisi dalam kebaikan dengan cara yang baik.

“Berbeda haruslah kita jadikan bagian yang akan menjadikan kita fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan),” kata Khofifah, dalam sambutan saat Harlah ke-73 Muslimat NU di Stadion Utama GBK, Jakarta, Minggu (27/1/2019), seperti dikutip nu.or.id.

Meski begitu banyak perbedaan, Khofifah menegaskan bangsa Indonesia tetap bersatu karena menjunjung toleransi dan moderatisme.

“Toleransi kita bangun. NU mengajarkan kita tawasut moderat,” kata Gubernur Jawa Timur tersebut.

Menteri Sosial dalam Kabinet Kerja Pemrintahan Joko Widodo pada 2014-2017 itu juga mengingatkan warga Muslimat tidak menyebar hoaks, fitnah, dan ghibah. Meskipun bebas berekspresi dan berbicara.

“Hoaks, No!” kata Khofifah, sembari mengepalkan tangan dan membukanya diikuti ratusan ribu Muslimat NU.

Dalam setiap kesempatan, Khofifah menekankan perubahan zaman yang saat ini berjalan dengan cepat. Dakwah tidak hanya cukup dilakukan di panggung dan mimbar, tetapi juga melalui internet, dunia maya.

Khofifah menyebutnya sebagai Dakwah bil IT yang juga harus dilengkapi dengan Dakwah bil Mal dan Dakwah bil Hal. Sebab itu, menurut Khofifah, ibu-ibu Muslimat NU sekarang juga harus memahami dan menguasai teknologi informasi dan media sosial sebagai basis dakwah di era digital. [DAS]