Ini perjumpaan yang menarik: sanad bertemu metodologi. Keduanya kadang dipertentangkan secara ceroboh. Seolah yang tradisional pasti tidak ilmiah, sementara yang ilmiah harus membuang tradisi.
Padahal keduanya menjawab pertanyaan berbeda. Sanad terutama menjawab: dari mana pengetahuan ini diterima? Metodologi ilmiah bertanya: bagaimana pengetahuan itu diperiksa, dijelaskan, diklasifikasi, dan memungkinkan orang lain mengujinya?
Kalau keduanya dipertemukan dengan sehat, pesantren tidak kehilangan ruhnya dan universitas tidak kehilangan akalnya.
Dari penelitian itu Kiai Mudrik menyusun Model Pembelajaran Nagham Berbasis Pesantren dengan jenjang nagham ‘aam, nagham khas, hingga nagham khas al-khas.
Pembelajaran tidak berhenti pada kemampuan mengeluarkan suara indah. Ada penguasaan maqamat, modulasi, improvisasi, pemahaman makna ayat, adab tilawah, sampai kesiapan menghadapi MTQ.
Dengan kata lain, murid bukan hanya diajari “belok di sini”, tapi mengapa harus berbelok dan kapan sebaiknya jangan berbelok.
Ini penting karena salah satu penyakit pendidikan seni adalah pemujaan terhadap hasil akhir. Kita melihat qari hebat lalu menyuruh anak menirukannya.
Itu tak ubahnya seperti melihat Lionel Messi menggiring bola kemudian menyuruh murid: “Nah, lakukan begitu.” Persoalannya justru terletak pada kata “begitu”. Ada ribuan jam latihan yang tersembunyi di belakangnya.
Tapi di sini pula penelitian semacam ini perlu terus diuji dan dikembangkan. Sistematisasi membawa manfaat, sekaligus risiko.
Begitu seni dibuat menjadi modul, manusia mudah tergoda mengubah modul menjadi resep.
Bayangkan bila seorang murid kemudian belajar: ayat tentang azab berarti maqam A, ayat tentang surga berarti maqam B, kisah nabi berarti maqam C. Selesai. Tilawah berubah menjadi resep obat: sakit kepala ambil tablet nomor satu, batuk ambil nomor dua.
Musthafa Ismail justru besar karena ia tidak membaca Al-Qur’an seperti mesin vending.
Keindahan bacaannya lahir dari pertemuan banyak hal sekaligus: tajwid, qiraat, pemahaman ayat, kemampuan vokal, maqam, pengalaman, intuisi, bahkan respons terhadap suasana majelis.
Karena itu, sistem pembelajaran yang baik seharusnya bukan menghasilkan seribu fotokopi Musthafa Ismail. Ia harus melahirkan seribu pembaca yang memahami tata bahasa musikal Musthafa Ismail, lalu tumbuh menjadi dirinya sendiri. Di situlah talaqqi tetap tak tergantikan.
Modul dapat mengatakan bahwa nada ini terlalu tinggi. Spektrogram kelak bahkan bisa menunjukkan frekuensinya. Kecerdasan buatan mungkin dapat mengenali maqam dan perpindahannya.
Bahkan riset teknologi pembacaan Al-Qur’an sudah bergerak ke sana. Studi-studi mutakhir mulai membangun dataset audio Al-Qur’an berskala besar dan sistem penilaian pelafalan otomatis.
Dataset Tadabur yang diperkenalkan pada 2026, misalnya, menghimpun lebih dari 1.400 jam rekaman dari lebih 600 qari. Quran-MD menyediakan data teks dan audio sampai tingkat ayat dan kata dari puluhan pembaca.
Mesin akan semakin pandai mendengar. Tapi guru mengatakan sesuatu yang lebih pelik: “Bacaanmu benar, tapi belum terasa.”
Kalimat terakhir itu sulit dimasukkan ke Excel. Karena tilawah memang bukan hanya peristiwa akustik.
Tajwid menjaga agar huruf tidak dizalimi. Qiraat menjaga transmisi bacaan. Maqam membantu suara membawa rasa. Tafsir menolong pembaca memahami ke mana makna bergerak. Adab menjaga agar semua kecakapan itu tidak berubah menjadi pertunjukan ego.
Seorang qari bisa menguasai nada tinggi, tapi Al-Qur’an tidak diturunkan untuk memamerkan bahwa manusia mempunyai pita suara.
Maka nilai penting penelitian Kiai Mudrik mungkin justru terletak di sini: ia membuka pintu agar tradisi nagham Indonesia mulai lebih serius mendokumentasikan dirinya.
Indonesia telah puluhan tahun menjadi negeri MTQ. Kita mempunyai qari, qariah, pelatih, pesantren, LPTQ, perguruan tinggi Al-Qur’an, dan jaringan guru yang luar biasa.
Kita rajin mengadakan perlombaan dari tingkat kelurahan sampai internasional. Panggungnya megah, lampunya terang, pialanya tinggi. Tapi pengetahuan yang membuat para juara itu lahir belum selalu didokumentasikan dengan ketekunan yang sama.
Kita sering hebat menghasilkan maestro, tapi kurang rajin menuliskan bagaimana maestro dibuat.
Karena itu pekerjaan berikutnya tidak boleh berhenti pada satu disertasi. Rekaman qari-qari besar perlu didigitalkan dan dianotasi. Pola maqam dapat dipetakan. Metode para guru senior perlu direkam sebelum mereka wafat.
Perguruan tinggi, pesantren, LPTQ, ahli qiraat, ahli fonetik, bahkan ilmuwan komputer dapat bekerja bersama membangun korpus nagham Indonesia.
Dari sana bisa lahir buku ajar, arsip audio, perangkat latihan interaktif, sampai sistem kecerdasan buatan yang membantu murid mengenali maqam dan mengevaluasi latihan—tentu tanpa sok hendak menggantikan guru.
Teknologi terbaik dalam pendidikan Al-Qur’an bukan teknologi yang mengusir syekh dari ruangan. Ia justru membuat pengetahuan syekh dapat menjangkau lebih banyak murid.
Dan mungkin di situlah Musthafa Ismail tersenyum dari sejarah. Hampir setengah abad setelah ia wafat, lekukan suaranya masih dipelajari ribuan kilometer dari Mesir.
Seorang kiai dari Indralaya membawanya ke ruang doktoral di Malang, membongkar tikungan-tikungan maqamnya, lalu mencoba menggambar petanya agar generasi berikutnya tidak sekadar menjadi peniru.
Sebab warisan terbaik seorang maestro bukanlah suara yang terus ditirukan.
Warisan terbaiknya adalah ilmu yang membuat orang mengerti mengapa suara itu pernah begitu hidup.
Cak AT – Ahmadie Thaha | Kolumnis




