Ayat ancaman tak diperlakukannya sama dengan ayat rahmat. Kisah tidak selalu diberi warna yang sama dengan perintah. Ketika makna bergerak, suara ikut bergerak.
Musik tidak menyeret Al-Qur’an mengikutinya; musiklah yang diperintah mengikuti Al-Qur’an. Perbedaannya tipis di telinga, tapi sangat besar secara teologis.
Di sinilah penelitian KH Mudrik Qori menjadi menarik. Dari analisis rekaman autentik, praktik pembelajaran, dan jalur transmisi guru, ia mengidentifikasi tiga bentuk variasi yang disebut ma’zul, tahwil, dan takhlith.
Dalam konstruksi penelitiannya, ma’zul berhubungan dengan pengembangan frase nagham yang memungkinkan pergeseran rasa tanpa meninggalkan karakter maqam utama. Tahwil merupakan perpindahan atau modulasi dari satu maqam menuju maqam lain. Sedangkan takhlith memadukan unsur beberapa maqam dalam satu rangkaian tilawah.
Bagi orang awam, mungkin lebih mudah membayangkannya seperti orang mengemudikan mobil di pegunungan.
Ma’zul adalah memainkan kendaraan di jalur yang sama. Tahwil adalah berpindah jalur. Takhlith lebih rumit: beberapa karakter jalan dimanfaatkan dalam satu perjalanan.
Masalahnya, pengemudinya harus sangat mahir. Salah sedikit, mobil bisa masuk kebun orang.
Musthafa Ismail adalah pengemudi yang membuat tikungan berbahaya tampak seperti jalan lurus.
Yang dilakukan Kiai Mudrik pada dasarnya mencoba menggambar peta perjalanan itu.
Selama puluhan tahun, banyak qari belajar Musthafa Ismail dengan cara paling tua dalam peradaban manusia: mendengar dan meniru.
Rekaman diputar. Sebuah frase diulang. Naikannya ditiru. Turunannya dikejar. Kadang berhasil, kadang yang tertangkap hanya kulitnya.
Murid bisa meniru suara, tapi belum tentu memahami logika di belakang suara. Disertasi ini mengajukan pertanyaan penting: mungkinkah logika itu diajarkan?
Pertanyaan tersebut lebih besar dari urusan MTQ. Ia menyentuh persoalan klasik pendidikan tradisional: bagaimana mengubah pengetahuan tersirat menjadi pengetahuan yang dapat diterangkan tanpa merusak tradisinya.
Orang pesantren mengenal persoalan itu. Seorang kiai kadang mampu membaca kitab dengan ketepatan luar biasa, tapi ketika ditanya algoritma berpikirnya, jawabannya sederhana: “Ya begitu.”
Bukan karena ia tidak tahu. Justru pengetahuan itu sudah terlalu menyatu dengan dirinya. Seperti orang berjalan yang tidak lagi menghitung kapan kaki kanan harus maju dan kaki kiri harus menyusul.
Dalam ilmu pengetahuan modern, hal semacam ini sering disebut tacit knowledge: pengetahuan yang kita kuasai, tapi tidak seluruhnya mudah kita uraikan menjadi petunjuk tertulis.
Michael Polanyi merumuskannya dengan kalimat terkenal: kita mengetahui lebih banyak dari yang dapat kita katakan. Pesantren mengenalnya jauh sebelum istilah itu masuk jurnal manajemen pengetahuan. Namanya sederhana: berguru.
Karena itulah sanad Kiai Mudrik penting. Ia tidak mendatangi Musthafa Ismail hanya melalui YouTube. Ia mula-mula belajar kepada ayahnya, KH Ahmad Qori Nuri, kemudian kepada KH Sayyid Muhammad Assirri, guru nagham PTIQ dan IIQ Jakarta yang disebut sebagai murid langsung Syekh Musthafa Ismail.
Ia juga mendapat inspirasi melalui KH Moersjied Qorie Indra yang memiliki jalur pembelajaran kepada murid Musthafa Ismail. Rekaman kemudian dipertemukan dengan transmisi guru.




