Iustrasi/CHA
Koran Sulindo – Debat calon presiden dan calon wakil presiden menjelang pencoblosan pada pemilihan presiden (Pilpres) 17 April mendatang, sejatinya  menggambarkan orientasi sosok kepemimpinan nasional.
Sekretaris TKN 01, Hasto Kristiyanto mengatakan bahwa tugas pemimpin menciptakan haluan pembangunan ekonomi yang tidak hanya menyelesaikan masalah kekinia. Namun juga pentingnya visi dan orientasi pemimpin di dalam merebut dan menata kepemimpinan masa depan.
Menurut Hasto, penilaian atas orientasi masa depan ini, antara Jokowi dan Prabowo menghadirkan kesenjangan pemahaman.
“Prabowo nampak selalu menghindar berbicara ekonomi digital. Padahal di mata Jokowi, ekonomi digital tidak hanya berkaitan dengan platform teknologi informasi (IT), namun juga menghadirkan peran strategisnya untuk mengangkat ekonomi kerakyatan,” kata Hasto di Jakarta, Sabtu (13/4/2019).
Diungkapkan Hasto,  kebijakan ekonomi memerlukan topangan kebijakan hulu-hilir. Selain itu, kebijakan industrialisasi Jokowi dan hilirisasi; peningkatan kemampuan ekspor barang jadi dan setengah jadi yang ditopang digitalisasi terbukti mendorong pertumbuhan industri.
“Sehingga kritik deindustrialisasi Prabowo sudah  bisa diatasi. Apalagi dengan progres pembangunan industri petrokimia untuk mengatasi defisit perdagangan. Semua adalah jalan baru ekonomi nasional yang memperkuat daya saing perekonomian nasional,” papar Hasto.
Apalagi, sambung Hasto, Jokowi terbukti konsisten dalam pemahaman ekonomi makro, ekonomi negara, bukan kebijakan ekonomi atas kasus orang per orang sebagaimana diungkap Sandi.
“Ketidakmampuan Pak Prabowo melihat masa depan adalah kartu truft bagi Pak  Jokowi. Bangsa ini harus bergerak maju, bukan mundur pada gambaran masa lalu suram,” ujar Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan itu. [CHA/DAS]