Pertemuan Presiden Prabowo dengan perwakilan diplomatik Emirat Islam Afganistan (Taliban). (Sumber: Embassy of the Islamic Emirates of Afghanistan)

Lima tahun silam, pada tanggal 15 Agustus 2021, hanya dua hari sebelum peringatan kemerdekaan Indonesia yang ke-76, Republik Islam Afganistan lenyap dari muka bumi. Dalam jangka waktu hanya tiga bulan setelah Amerika Serikat, pelindung utama Republik Islam Afganistan, menarik pasukan dan dukungan militernya keluar dari Afganistan, kelompok Taliban melancarkan serangan yang terkoordinir dari segala arah demi menghancurkan Republik Islam Afganistan.

Akhirnya, pada tanggal 15 Agustus 2021, Presiden Republik Islam Afganistan Ashraf Ghani melarikan diri dari ibu kota negara Kabul (ada yang menuduh bahwa ia kabur membawa berkoper-koper uang negara), dan pemerintah Afganistan menyerah pada kelompok Taliban. Sejak saat itu, kekuasaan de facto di Afganistan berada dalam tangan kelompok Taliban.

Geger Diplomatik Melanda Afganistan

Menyerahnya pemerintah Afghanistan kepada kelompok Taliban menyebabkan terjadinya dualisme kenegaraan: di satu sisi, Taliban secara de facto menguasai seluruh wilayah Afganistan dan membentuk pemerintahannya sendiri dengan nama Emirat Islam Afganistan. Namun, di sisi lain, masih terdapat banyak duta besar Republik Islam Afganistan yang berkedudukan di luar negeri, yang secara de jure berdasarkan hukum internasional masih mewakili Republik Islam Afganistan.

Di mata hukum internasional, Emirat Islam Afganistan yang didirikan oleh kelompok Taliban itu merupakan sebuah pemerintah yang tidak (atau setidaknya belum) sah, sedangkan Republik Islam Afganistan yang secara nyata sudah wafat (pejabatnya sudah tidak ada, pemerintahnya sudah dibubarkan, dan presidennya lari ke luar negeri dengan diduga membawa kabur kas negara) masih dinilai sebagai penguasa yang sah.

Demikianlah, pasca-15 Agustus 2021 telah terjadi sebuah peristiwa geger diplomatik: para diplomat Afganistan yang terjebak di luar Afganistan dan tidak bisa pulang tidak tahu harus berbuat apa atau mewakili pemerintah yang mana. Sebagian dari mereka pun tidak sudi mengakui kelompok Taliban sebagai pemerintah yang sah.

Akhirnya, setelah lima tahun terjadinya dualisme kepemimpinan antara Republik Islam Afganistan dengan Emirat Islam Afganistan, kebijakan komunitas diplomatik Afganistan di luar negeri terbelah: ada yang akhirnya mau ikut masuk ke dalam Emirat Islam Afganistan dengan cara membaiat pada Taliban, ada yang perlahan digusur oleh diplomat baru yang ditunjuk oleh rezim emirat Taliban, ada pula yang sampai detik ini masih berkeras menolak mengakui Taliban sebagai pemerintah yang sah dan mengaku masih menjadi (satu-satunya) perwakilan yang sah dari Republik Islam Afganistan yang sebenarnya sudah wafat itu.