Kini Spider-Man telah menjelma menjadi salah satu mesin ekonomi kreatif terbesar di dunia. Selain film-filmnya yang menghasilkan puluhan miliar dolar, pendapatan raksasa justru datang dari industri lisensi (licensing). Pemilik Spider-Man tidak perlu membuat sendiri setiap produk; mereka cukup memberikan izin kepada ribuan perusahaan dan menerima royalti.

Dalam industri lisensi karakter dunia bernilai sekitar US$390 miliar (lebih dari Rp6.400 triliun) per tahun, Spider-Man selalu berada di jajaran teratas. Ia adalah aset kebudayaan yang terus menghasilkan nilai ekonomi tanpa pernah berhenti bercerita.

Namun ukuran peradaban tak ditentukan oleh uang semata, melainkan kemampuannya melahirkan kehidupan baru dan menciptakan rantai nilai.

Uang tiket bioskop yang dibeli sebuah keluarga menggerakkan jaringan luas: penulis skenario, animator, pengembang gim, penerbit, pembuat mainan, hingga pedagang kecil di sekitar mall. Seekor laba-laba ternyata mampu menghidupi jauh lebih banyak orang daripada yang pernah dibayangkan oleh penciptanya.

Karya yang sukses berhenti setelah selesai dinikmati, sedangkan peradaban justru baru mulai bekerja setelah karya itu diciptakan.

Sebagaimana Odyssey karya Homer yang terus melahirkan karya baru selama ribuan tahun, Spider-Man membangun jejaring peradaban serupa hanya dalam rentang enam puluh empat tahun melalui media modern. Sebuah cerita besar tidak pernah berhenti pada pengarang pertamanya.

Dua anak kecil yang menirukan gerakan Peter Parker di bioskop sedang berjalan di atas jaring yang ditenun oleh jutaan tangan yang tidak saling mengenal.

Dan muncul satu pertanyaan yang tersisa untuk kita di Indonesia: jika enam belas halaman komik dapat tumbuh menjadi jejaring budaya, ilmu pengetahuan, dan ekonomi yang menghidupi begitu banyak orang di seluruh dunia, cerita mana dari negeri ini yang suatu hari akan kita tenun dengan kesabaran yang sama?

Cak AT – Ahmadie Thaha | Kolumnis