Kalau kita menelusuri kembali asal-usul Spider-Man, kita akan menemukan ironi yang hampir selalu menyertai lahirnya karya-karya besar. Ia tidak lahir dari perusahaan yang sedang berada di puncak kejayaan, tidak pula dari proyek yang dipersiapkan dengan keyakinan akan meraih sukses besar.

Sebaliknya, Spider-Man muncul ketika industri komik Amerika sedang kehilangan tenaga, dan penerbit Marvel Comics masih berusaha mencari bentuk agar tetap bertahan hidup.

Pada awal dekade 1960-an, Marvel belum menjadi kerajaan hiburan. Perusahaan itu relatif kecil dibandingkan pesaing utamanya, DC Comics, yang sudah memiliki tokoh-tokoh mapan seperti Superman dan Batman. Komik superhero juga belum dipandang sebagai tambang emas.

Di tengah keadaan itulah Stan Lee mulai mengalami kejenuhan. Bertahun-tahun ia merasa hanya mengulang pola yang sama: menciptakan tokoh baru, menyusun konflik, lalu mengakhirinya dengan kemenangan pahlawan.

Ketika ia berniat berhenti, istrinya, Joan Lee, memberikan saran sederhana namun krusial: sebelum benar-benar keluar, tulislah satu cerita seperti yang benar-benar ingin ia tulis, bukan sekadar apa yang menurut penerbit akan laku.

Stan Lee lalu membayangkan tokoh yang melanggar tradisi superhero masa itu. Tokoh utamanya bukan orang dewasa gagah, melainkan seorang pelajar SMA yang kutu buku, tidak kaya, dan tidak populer.

Bahkan setelah memperoleh kekuatan luar biasa, sang tokoh tetap dibelit persoalan sehari-hari remaja: uang sekolah, pekerjaan sambilan, dan penolakan teman-temannya. Penerbit meragukan apakah pembaca bersedia mengikuti pahlawan yang kikuk dan akrab dengan kegagalan seperti itu.

Kesempatan justru datang dari keadaan yang buruk. Majalah antologi Marvel, Amazing Fantasy, penjualannya merosot dan diputuskan untuk dihentikan pada edisi ke-15. Karena majalah itu akan ditutup, usul Stan Lee akhirnya diterima. Bila gagal, tidak ada lagi yang dirugikan.

Spider-Man memperoleh kesempatan hidup justru karena semua orang mengira ia tidak akan bertahan lama. Pada Agustus 1962, Amazing Fantasy nomor 15 terbit. Kolaborasi Stan Lee dan ilustrator Steve Ditko menghadirkan sosok Peter Parker yang kurus dan canggung, sangat dekat dengan realitas pembaca.

Ceritanya sederhana: Peter mendapatkan kekuatan dari gigitan laba-laba radioaktif. Awalnya ia menggunakan kekuatan itu demi keuntungan pribadi. Ketika membiarkan seorang pencuri melarikan diri, ia tak menduga pencuri yang sama kelak membunuh Paman Ben.

Di situlah lahir kalimat legendaris: “With great power there must also come — great responsibility.”

Stan Lee tak memperkenalkan Peter Parker sebagai pahlawan yang sempurna, melainkan manusia biasa yang belajar memikul akibat dari kesalahannya.

Kepahlawanan bagi Peter Parker adalah proses belajar yang tidak pernah selesai. Di sinilah pahlawan laba-labar ini perlahan berhenti menjadi milik Stan Lee dan Ditko, lalu berubah menjadi milik sebuah kebudayaan.