Pemain pindah klub lebih cepat daripada politisi pindah koalisi. Tetapi Salah bertahan hampir satu dekade. Ia tumbuh bersama kota itu. Ia membesarkan anak-anaknya di sana.
“Kami tetap mendukung Liverpool.” Bayangkan. Rumah tangga Salah sudah seperti cabang resmi supporter club.
Namun di balik seluruh romantisme itu, ada sesuatu yang jauh lebih dalam. Dokumenter itu memperlihatkan bahwa Salah sebenarnya sedang menulis autobiografi tentang cara manusia berdamai dengan waktu.
“Saya punya kedamaian dengan keputusan ini.” Kalimat itu terdengar sangat dewasa. Semua perpisahan besar memang selalu dimulai dari satu hal: menerima bahwa tidak ada kejayaan yang abadi.
Bahkan “Raja Mesir” pun akhirnya harus turun dari singgasana Anfield. Dan mungkin itulah sebabnya lagu “You’ll Never Walk Alone” terdengar lebih menyakitkan hari itu.
Lagu kebanggaan Liverpool itu bukan sekadar nyanyian stadion. Lagu itu sudah seperti doa kolektif yang diwariskan turun-temurun kepada siapa pun yang pernah dicintai Anfield.
Untuk pertama kalinya, jutaan fans Liverpool sadar bahwa mereka tidak sekadar kehilangan pencetak gol. Mereka kehilangan seseorang yang ikut membentuk identitas emosional klub mereka.
Salah bukan cuma pemain. Ia adalah era. Ia adalah masa ketika Liverpool kembali merasa besar.
Ia adalah bukti bahwa anak desa bisa menggetarkan Eropa. Ia adalah pengingat bahwa disiplin bisa mengalahkan bakat malas.
Ia adalah contoh bahwa iman, keluarga, kerja keras, dan ambisi bisa hidup dalam satu tubuh tanpa saling membunuh.
Dan ketika ia menangis, dunia akhirnya mengerti bahwa bahkan “The Egyptian King” tetap manusia biasa: rapuh, sentimental, penuh cinta, dan takut berpisah.
Mungkin itulah pelajaran terbesar dari Muhammad Salah. Hidup bukan tentang seberapa lama kita tinggal di satu tempat. Hidup ditentukan oleh seberapa dalam jejak yang kita tinggalkan ketika kita pergi.
Salah memang meninggalkan Anfield. Tetapi seperti semua legenda sejati, ia tidak benar-benar pergi.
Namanya tinggal di lagu suporter Liverpool. Namanya tinggal di tribun The Kop yang selalu bernyanyi.
Namanya tinggal di anak-anak kecil yang mulai mencintai sepak bola karena melihat seorang muslim kecil dari Mesir bisa menaklukkan dunia.
Namanya juga tinggal di tumpukan rekor yang mungkin membutuhkan generasi baru untuk memecahkannya.
Dan terutama, namanya tinggal di satu kalimat sederhana yang jauh lebih kuat daripada ratusan gol: “Saya memberikan segalanya.” Dan mungkin memang hanya itu definisi legenda yang paling jujur.
Cak AT – Ahmadie Thaha | Kolumnis
