Toyota Kijang Super - GridOto
Toyota Kijang Super - GridOto

AWAL mula kisah Toyota Kijang sendiri tidak dapat dipisahkan dari dorongan pemerintah untuk mengembangkan Kendaraan Bermotor Niaga Sederhana (KBNS) pada era 70-an. KBNS merupakan kendaraan serbaguna dengan harga yang bisa dijangkau seluruh lapisan masyarakat.

Sebagai Mobil Era Baru

Kemunculan nama binatang pada kendaraan niaga ini dipicu oleh Filipina yang lebih dahulu menggunakan nama “Tamaraw” yang berarti kerbau. Kemudian, Indonesia memilih nama “Kijang” untuk menggambarkan kelincahan. Namun tidak sedikit juga yang mengartikan bahwa Kijang merupakan sebuah singkatan yang artinya Kerjasama Indonesia-Jepang. 

Toyota Kijang pun bertransformasi dari kendaraan niaga menjadi kendaraan MPV (Multi Purpose Vehicle atau kendaraan serba guna). Selama 40 tahun eksis, setidaknya produk ini sudah memiliki 6 generasi yang berbeda. 

Toyota Kijang Buaya (1977-1981). Toyota Kijang Buaya diluncurkan pada Pekan Raya Jakarta 1977. Mobil ini menjadi pesaing dari Mitsubishi Colt yang menjadi kendaraan yang mendominasi pasar mobil minibus di Indonesia pada saat itu. Model ini sering dijuluki “Kijang Buaya” karena model buka-tutup kap mesin depan pada hidung mobil (bonnet) yang mirip dengan mulut buaya apabila kap mesin depan sedang dibuka. 

Toyota Kijang Doyok (1981-1985). Toyota Kijang KF20 alias “Kijang Doyok” ini mulai dijual pada tahun 1981. Sebutan itu diambil lantaran sosoknya yang kotak-kotak kerempeng identik dengan tokoh kartun Doyok di koran Pos Kota. Mesin yang dipakai berganti menggunakan 1.3 liter 4K yang kemudian turut dikembangkan kembali pada tahun 1985 sehingga menjadi 1.5 liter 5K. Pada saat itu, hanya disediakan transmisi 4 percepatan manual. Pada tahun 1984, inovasi kembali dilakukan dimana Kijang ‘Doyok’ mengalami perubahan pada grille dan bumper. Dibanding dengan pendahulunya, Kijang Doyok juga sudah dengan jendela kaca dan bukaan pintunya lebih nyaman.

Toyota Kijang Super (1968-1996). Seiring dengan perkembangan teknologi, Toyota Kijang mendapat beragam pengembangan dari sisi produksi. Hal ini terwujud dalam pada generasi ketiga yakni Kijang Super yang diluncurkan pada tahun 1986. Mobil ini menggunakan teknologi full pressed body yang merupakan teknologi canggih pada masanya yang dapat mengurangi 2-5 kg dempul per mobil. Kijang Generasi 3 ini berhasil mencetak sejarah pada tahun 1989 dimana terdapat peluncuran Kijang ke 200.000 unit yang bertepatan dengan produksi Toyota ke 500.000 unit. 

Toyota Kijang Kapsul (1997-2004). Toyota Kijang generasi keempat atau yang lebih sering dikenal dengan Kijang Kapsul meluncur pada tahun 1997. Bentuknya dibuat lebih aerodinamis dengan lekukan yang lebih halus. Untuk pertama kalinya, model ini hadir dalam varian diesel dan transmisi otomatis. Kemudian, pada tahun 2000, Toyota juga mulai memproduksi Kijang dengan sistem pengabutan bahan bakar menggunakan injeksi.

Toyota Kijang Innova (2004-2015). Pada tahun 2004 merupakan milestone penting karena Kijang bergabung dengan proyek global IMV bersama Hilux dan Fortuner. Tampilan dari Kijang Innova juga sudah menjelma menjadi MPV sesungguhnya. Mobil ini sudah dibekali sejumlah teknologi khas abad ke-21 seperti mesin berteknologi VVT-i, diesel common rail, hingga multi information display dan airbag. 

All New Kijang Innova (2015-Sekarang). All New Kijang Innova meluncur pada 23 November 2015 di Jakarta. Kijang generasi keenam ini dipasarkan dengan 3 varian utama, yaitu G sebagai varian paling murah, V sebagai varian menengah, dan Q sebagai varian tertinggi, dan Venturer sebagai varian sport. Meski menghilangkan emblem Kijang yang merupakan ciri khas dari mobil ini, namun digantikan dengan logo Venturer serta warna merah yang tidak bisa ditemukan di Kijang biasa.

Cerita Kelahiran Si Kijang

James Luhulima dalam bukunya Sejarah Mobil & Kisah Kehadiran Mobil di Negeri Ini (2012:119) menceritakan awal-awal kelahiran Toyota Kijang. Sebelum Kijang diluncurkan pada 9 Juni 1977, ada dua jenis mobil lain yang didatangkan Toyota Motor Corporation—prinsipal Jepang yang jadi mitra Astra di Indonesia—langsung dari Jepang. 

Namun, Soeharto kala itu sedang mendorong pertumbuhan industri dalam negeri yang dicanangkan oleh departemen perindustrian, sehingga kedua mobil itu tak jadi dipajang di arena Pekan Raya Jakarta. Soeharto menerapkan larangan impor mobil secara utuh khususnya sedan. Sebagai imbalan nya, Soeharto memberikan insentif untuk mobil niaga ditetapkan dengan mengembangkan industri mobil kendaraan niaga berbasis lokal dengan harga terjangkau atau basic utility vehicle (BUV), atau kalau saat ini disebut “mobil murah”.

Kebijakan Soeharto ini ditangkap oleh William Soeryadjaya sang pendiri Astra. Kelahiran Toyota Kijang sebagai jawabannya. Teguh Sri Pambudi dan Harmanto Edy dalam Man of Honor: Kehidupan, Semangat dan dan Kearifan William Soeryadjaya (2012:142) menceritakan William sebagai sosok pebisnis ulet mulai berpikir bukan sekadar berdagang atau merakit, tapi menjadi industrialis. William ingin punya mobil dan sepeda motor nasional.

Toyota Kijang memang tidak dengan mudah menaklukkan hati konsumen di Indonesia yang sebelum era 1960-1970-an sudah lebih dulu akrab dengan mobil-mobil Eropa yang terkenal tangguh. Awalnya mobil-mobil keluaran Jepang sering dapat cibiran sebagai “kaleng kerupuk”, walaupun pada akhirnya mampu menaklukan hati para peminat di Indonesia. Dengan jargonnya Made for Indonesia by Indonesian People. [S21]