Gontor tegar dan bertahan melewati pergantian generasi, perubahan negara, pergolakan perang, gegap pesta kemerdekaan, pergantian rezim, kini revolusi teknologi. Dan berkali-kali perubahan mode pendidikan.
Jika dihitung dari 20 September 1926 hingga 20 September 2026, perjalanan itu mencapai 36.525 hari, atau 876.600 jam, 52.596.000 menit, dan 3.155.760.000 detik. Angka terakhir tiga miliar pun tampak seperti nomor rekening negara kecil.
Padahal itu baru hitungan waktu; belum termasuk jumlah doa, pelajaran, pengorbanan harta, waktu dan jiwa. Bahkan tetesan air mata yang mengisi nafasnya di malam-malam yang sungguh hening, di tengah lingkungan pondok modern Gontor yang begitu alami.
Secara resmi, Gontor didirikan pada 20 September 1926, bertepatan dengan 12 Rabiulawal 1345, dalam peringatan Maulid Nabi. Ia memiliki akar pada Gontor Lama yang sebelumnya didirikan oleh Raden Muhammad Hadikusumo Sulaiman Jamaluddin.
Kyai Sulaiman merupakan santri terkemuka di Pondok Tegalsari yang kemudian sang kyai mengambilnya sebagai menantu. Ia lalu mendirikan Pondok Gontor Lama di sebuah kawasan hutan di desa Gontor dengan 40 santri pada awal masa perintisannya.
Sebutan ‘Raden’ Sulaiman merujuk pada silsilah keturunannya dari Keraton Kasepuhan Cirebon, dan silsilahnya yang tersambung dengan Sunan Gunung Jati. Meskipun sempat mengalami kemunduran, pesantrennya ternyata kemudian berhasil dihidupkan kembali.
Apalagi kemudian tampil cucu-cucunya: KH. Ahmad Sahal, KH. Zainuddin Fananie, dan KH. Imam Zarkasyi. Ketiganya, yang kemudian dikenal sebagai Trimurti, berhasil membangkitkan kembali pesantren ini menjadi Pondok Modern Darussalam Gontor.
Dari pengalaman belajar di berbagai lembaga, mereka kembali dengan gagasan bahwa sistem dan kelembagaan pesantren perlu diperbarui dari dalam tanpa kehilangan jati dirinya. Mereka sama sekali tak hendak mengganti pesantren dengan madrasah/sekolah.
Awalnya, mereka membuka Tarbiyatul Athfal. Setelah berhasil merumuskan sistem pesantren ideal, sepuluh tahun kemudian, pada 1936 mereka mendirikan Kulliyatu-l-Mu’allimin al-Islamiyah (KMI), lembaga pendidikan guru dengan masa belajar enam tahun.
Di sinilah Gontor menemukan bentuk sistemnya. Dan inilah yang kemudian dikenal luas: pendidikan berasrama, sistem klasikal, keseimbangan ilmu agama dan pengetahuan umum, serta penggunaan bahasa Arab dan Inggris sebagai bahasa pengajaran dan komunikasi.
Kata “modern” pada papan “Pondok Modern Darussalam Gontor”, karena itu, tidak semata-mata berarti gedung baru, pakaian rapi, atau penggunaan teknologi. Modernitasnya terutama menyangkut cara mengelola pendidikan.
Sistem dan tata kelola pendidikan Gontor itu sistematis, terencana, berjenjang. Ia menggunakan kelas, mengembangkan kurikulum, melatih organisasi, dan mempersiapkan santri menghadapi dunia yang terus berubah.
Gontor tidak menganggap kitab kuning dan ilmu pengetahuan umum sebagai dua kereta yang harus berjalan di rel berbeda. Keduanya ditempatkan dalam satu sistem pendidikan.
Santri belajar agama, juga matematika, ilmu alam, ilmu sosial, bahasa, dan berbagai pengetahuan umum. Mereka belajar di kelas, tapi juga hidup dalam asrama. Mereka membaca buku, tapi juga mengurus organisasi, kebersihan, kegiatan, dan kehidupan bersama.
Dengan kata lain, Gontor tidak hanya mengajarkan mata pelajaran. Ia mengatur ekosistem pendidikan yang holistik. Tak hanya kelas yang mengenal kurikulum. Semua kehidupan pondok punya kurikulum terpadu dan kamil.
Ada yang mungkin bertanya: mengapa lembaga pendidikan Islam menggunakan istilah Trimurti? Mengapa pula dikenal Pancajiwa? Istilah-istilah ini dari Bahasa Sanskerta. _Tri_ berarti tiga, sedangkan _murti_ berkaitan dengan bentuk atau perwujudan.
Dalam tradisi Hindu, istilah ini memiliki konteks teologis tertentu. Namun dalam penggunaan Gontor, Trimurti menunjuk kepada tiga tokoh pendirinya. Ia digunakan sebagai nama kolektif, bukan sebagai pengadopsian doktrin keagamaan Hindu.
Pancajiwa juga menggunakan kosakata yang berakar pada Sanskerta. Panca berarti lima dan jiwa berarti kehidupan batin atau semangat. Jauh sebelum Indonesia merdeka, dan merumuskan Pancasila, Gontor sudah punya Pancajiwa.
Tetapi lima jiwa Gontor memiliki isi yang dirumuskan dalam kerangka pendidikan pesantren: “keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan”. Kelima nilai itu menjadi landasan kehidupan pondok.
Bahasa boleh dipinjam. Makna harus dijelaskan. Dan Gontor memang memiliki kebiasaan menarik: ia tidak alergi terhadap istilah yang berasal dari sumber luar, selama istilah itu dapat diberi makna yang sesuai dengan tujuan pendidikannya.
Sistem Gontor juga tidak lahir dari satu sumber tunggal. Para pendirinya mempelajari berbagai lembaga pendidikan yang dianggap memiliki keunggulan dan relevan bagi cita-cita mereka.
Dalam penjelasan resmi Gontor, sintesa itu merujuk kepada empat sumber: Al-Azhar di Mesir, Aligarh di India, Syanggit di Mauritania, dan Santiniketan di India.
Dari Al-Azhar, mereka melihat kesinambungan tradisi keilmuan Islam dan kekuatan wakaf yang menopang kehidupan pendidikan. Dari Aligarh Muslim University, mereka melihat perhatian terhadap ilmu pengetahuan umum dan agama sekaligus, serta semangat pembaruan umat.
Kemudian, dari Syanggit, mereka mengambil teladan keikhlasan, kedermawanan, dan pengabdian para pengasuh. Dari Santiniketan, lembaga pendidikan yang didirikan Rabindranath Tagore, mereka tertarik pada kesederhanaan, kedamaian, dan suasana pendidikan yang dekat dengan kehidupan.
Tentu, menyebut empat sumber itu tidak berarti Gontor menyalin keempatnya seperti orang memfotokopi empat buku lalu menjilidnya menjadi satu. Sintesa berarti memilih, mengolah, menyesuaikan, dan melahirkan bentuk baru.
Al-Azhar bukan Aligarh. Aligarh bukan Syanggit. Syanggit bukan Santiniketan. Tetapi Gontor mencoba mengambil unsur yang dianggap baik dari masing-masing, lalu mempertemukannya dengan tradisi pesantren Indonesia.
Hasilnya bukan Al-Azhar yang dipindahkan ke Ponorogo, bukan Aligarh yang diberi sarung, dan bukan Santiniketan yang diganti papan namanya. Hasilnya adalah Gontor: sebuah pesantren dengan sistem pendidikan yang memiliki identitas sendiri.
Di sinilah kata sintesa menjadi penting. Ia menunjukkan bahwa pembaruan tak selalu berarti membuang yang lama dan menggantinya dengan yang baru. Kadang-kadang pembaruan justru lahir ketika seseorang cukup percaya diri untuk belajar dari banyak sumber, lalu cukup mandiri untuk tidak menjadi salinan siapa pun.




