Hubungan antar bangsa kerap dibangun di atas kepentingan ekonomi jangka pendek, namun ikatan antara Indonesia dan India berakar jauh pada narasi sejarah, kebudayaan, dan solidaritas perjuangan. Presiden Prabowo baru baru ini berkunjung ke New Delhi dalam rangka menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-18 BRICS. Tak hanya sebatas kunjungan, lawatan ini juga menjadi pengingat hubungan kedua negara yang sudah berlangsung lama.
Interaksi Indonesia dan India telah berlangsung selama berabad-abad sebelum negara modern berdiri. Jejak akulturasi budaya, bahasa, arsitektur, hingga tradisi keagamaan menjadi bukti betapa eratnya pertukaran peradaban di Nusantara dan Asia Selatan.
Namun, dalam ranah politik modern, momentum krusial terjadi pada era mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pada 1946, Republik Indonesia yang masih berusia muda mengirimkan bantuan 500.000 ton beras ke India yang saat itu tengah dilanda kelaparan besar akibat krisis bahan pangan di bawah penjajahan Inggris. Langkah yang dikenal sebagai “Diplomasi Beras” oleh Perdana Menteri Sutan Sjahrir ini bukan semata pertolongan kemanusiaan, melainkan strategi geopolitik cerdas untuk menembus blokade ekonomi Belanda dan mendapatkan pengakuan internasional.
India membalas kebaikan tersebut secara signifikan. Perdana Menteri Jawaharlal Nehru menjadi salah satu pemimpin dunia pertama yang secara terbuka mendukung kemerdekaan Indonesia. India mengirimkan bantuan obat-obatan dan dukungan logistik, bahkan memprakarsai Konferensi Asia tentang Indonesia di New Delhi pada Januari 1949 untuk mengecam Agresi Militer Belanda. Solidaritas persaudaraan kedua bangsa ini kemudian memuncak dalam Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955 di Bandung, yang melahirkan Gerakan Non-Blok (GNB) sebagai kekuatan penyeimbang di tengah Perang Dingin.
Dari Gerakan Non-Blok ke panggung BRICS
Solidaritas kolektif yang dibangun di Bandung pada 1955 menemukan relevansi baru dalam dinamika abad ke-21. Pada Minggu (13/09/2026), Presiden Prabowo Subianto mengikuti rangkaian KTT BRICS ke-18 di New Delhi. Kehadiran Indonesia di forum ini menegaskan kembali semangat dasar politik luar negeri bebas aktif yang diwariskan para pendiri bangsa.
Jika pada pertengahan abad ke-20 Indonesia dan India berjuang melawan kolonialisme fisik, kini kedua negara berdiri bersama dalam wadah penyuaraan kepentingan Global South.
Dalam forum KTT BRICS tersebut, Presiden Prabowo menegaskan pentingnya kemandirian nasional serta ketahanan pangan dan energi—isu yang secara historis pernah menyatukan Indonesia dan India melalui Diplomasi Beras.
Kunjungan kenegaraan ke New Delhi memperlihatkan bahwa diplomasi modern tidak pernah lepas dari pijakan sejarah. Pertemuan bilateral dan partisipasi aktif Indonesia di India menjadi penanda penting bahwa hubungan Jakarta dan New Delhi bukan sekadar persekutuan pragmatis, melainkan kemitraan strategis yang ditopang oleh ikatan emosional dan historis yang mendalam.
Dari diplomasi beras di masa perang kemerdekaan hingga kolaborasi strategis di platform global seperti BRICS, Indonesia dan India terus menunjukkan bahwa solidaritas antarbangsa berkontribusi besar dalam membentuk tatanan dunia yang lebih seimbang. [IQT]





