Ilustrasi/ft.com

Terus mengalami pelemahan, nilai mata uang rupiah di kurs tengah Bank Indonesia (BI) pada hari ini. Kamis (30/6) berada di level Rp 14.882 per dolar Amerika Serikat (AS).

Ini berarti rupiah melemah 0,23% dibanding hari sebelumnya yang berada di Rp 14.848 per dolar AS. Ini jadi level terburuk rupiah Jisdor sejak 2 Oktober 2022. Kala itu, rupiah Jisdor berada di Rp 14.890 per dolar AS.

Sebagai informasi, Jisdor merupakan harga spot rupiah terhadap dolar AS, yang disusun berdasarkan kurs transaksi antar bank di pasar valuta asing Indonesia, melalui Sistem Monitoring Transaksi Valuta Asing Terhadap Rupiah (SISMONTAVAR) di Bank Indonesia secara real time.

Posisi rupiah di pasar spot juga anjlok setelah ditutup di level Rp 14.903 per dolar AS. Ini adalah posisi terburuk rupiah sejak Mei 2020.

Hal sebaliknya terjadi dengan mata uang kawasan yang sedang mengalami penguatan. Terpantau, yen Jepang menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melonjak 0,24%. Disusul, peso Filipina yang sudah ditutup naik 0,16%. Begitu pula dengan mata uang yuan Cina, won Korea dan baht Thailand mengalami kenaikan.

Faktor global dan domestik

Rupiah diprediksi kembali melanjutkan pelemahannya pada esok hari, Jumat (30/6), menurut analis keuangan Faisyal. Menurutnya, saat ini pelaku pasar lebih memilih memegang dolar AS seiring dengan pernyataan terbaru The Fed terkait outlook kenaikan suku bunga.

Gubernur The Fed Jerome Powell belum lama ini mengungkapkan bahwa The Fed tidak bisa menjamin perekonomian AS terhindar dari resesi akibat kenaikan suku bunga agresif.

Pernyataan ini sekaligus menyiratkan kebijakan The Fed akan terus agresif agar bisa menurunkan laju inflasi.

“Dua sentimen utama ini pada akhirnya membuat investor lebih memilih memegang dolar AS, sehingga rupiah akan kembali berada dalam tekanan,” kata Faisyal ketika dihubungi Kontan.co.id, Kamis (30/6).

Sementara itu di dalam negeri, ia juga menyebut pasar akan memperhatikan kebijakan pembatasan pembelian bahan bakar di beberapa wilayah. Dia menilai, hal ini dikhawatirkan bisa merembet ke daerah lain dan pada akhirnya berdampak terhadap laju inflasi domestik. [DES]