Lalu apa sebenarnya yang ditulis Noël van Bemmel? Berbeda dari kesan yang ditimbulkan judulnya, ia tidak menyatakan Indonesia telah bangkrut.
Bemmel menyusun sebuah argumentasi bahwa Indonesia sedang menempuh jalan yang, menurut penilaiannya, dapat membawa pada krisis fiskal bila tidak dikoreksi.
Dengan kata lain, judulnya berupa pertanyaan, sementara isi artikelnya adalah upaya menjelaskan mengapa pertanyaan itu layak diajukan.
Van Bemmel memulai analisanya dengan menggambarkan munculnya kekhawatiran di kalangan ekonom Indonesia sendiri. Ia mengutip berbagai peringatan mengenai pelemahan nilai rupiah, melambatnya penciptaan lapangan kerja, meningkatnya tekanan terhadap anggaran negara, dan menurunnya kepercayaan investor.
Ia juga menyinggung sikap Presiden Prabowo Subianto yang menolak pandangan pesimistis tersebut. Bahkan Presiden menyindir para pengkritiknya sebagai “zwarte Hollanders” atau “Londo Ireng (Belanda Hitam)” — istilah yang digunakan untuk menyebut mereka yang dinilai selalu memandang Indonesia secara negatif.
Menurut Van Bemmel, persoalan utamanya bukan terletak pada satu kebijakan tertentu, melainkan pada keseluruhan arah pembangunan yang kini ditempuh pemerintah. Seluruhnya.
Ia menyebut strategi itu sebagai “Prabowonomics”. Maksudnya, negara menggelontorkan dana besar untuk program makan bergizi gratis, pembangunan tiga juta rumah, pengembangan Ibu Kota Nusantara, penguatan koperasi desa, hilirisasi industri.
Juga, berbagai proyek strategis nasional, serta pembentukan Danantara sebagai kendaraan investasi negara. Keseluruhan agenda tersebut dipandang sangat ambisius, tetapi sekaligus menimbulkan pertanyaan besar mengenai sumber pembiayaannya.
Artikel itu kemudian mempertanyakan apakah pertumbuhan ekonomi sekitar lima persen cukup untuk menopang seluruh agenda tersebut.
Penulis mengemukakan bahwa penerimaan negara belum bertumbuh secepat kebutuhan belanja, sementara investasi swasta belum menunjukkan gairah yang memadai.
Jika kondisi ini terus berlangsung, menurut analisanya, ruang fiskal pemerintah akan semakin sempit dan kepercayaan pasar berpotensi terus melemah.
Dari sinilah ia melontarkan pertanyaan yang dijadikan judul artikel: apakah Indonesia sedang menuju kebangkrutan?




