Selama Perang Dingin, Amerika Serikat menghadapi tantangan besar dalam mengumpulkan informasi mengenai kekuatan militer Uni Soviet.
Pesawat pengintai mampu mengambil gambar instalasi strategis dari udara, tetapi jangkauan dan risikonya semakin membatasi operasi tersebut.
Untuk mengatasi masalah itu, CIA mengembangkan Project CORONA, sebuah program satelit pengintai yang memungkinkan AS memotret wilayah Uni Soviet dari orbit.
Program rahasia ini menjadi salah satu sumber utama informasi intelijen mengenai kemampuan militer negara pesaingnya.
Latar Belakang Project CORONA
Persaingan Amerika Serikat dan Uni Soviet setelah Perang Dunia II mendorong kedua negara mengembangkan persenjataan dan teknologi militer secara besar-besaran.
Washington membutuhkan informasi yang dapat diandalkan mengenai perkembangan rudal balistik, pangkalan udara, pesawat pembom, serta fasilitas militer Soviet.
Salah satu metode pengumpulan informasi yang digunakan Amerika Serikat adalah pesawat pengintai U-2.
Pesawat tersebut mampu terbang pada ketinggian ekstrem untuk mengambil foto wilayah lawan.
Namun, penerbangan pengintaian tetap berisiko karena pesawat dapat terdeteksi dan ditembak jatuh.
Pada 1 Mei 1960, pesawat U-2 yang diterbangkan Francis Gary Powers ditembak jatuh di wilayah Uni Soviet.
Insiden tersebut memperburuk hubungan kedua negara dan memperlihatkan risiko operasi pengintaian menggunakan pesawat berawak.
Gagasan pengintaian dari luar angkasa sebenarnya telah dikembangkan sebelum insiden U-2 tersebut.
Pada Oktober 1957, pemerintah AS membentuk President’s Board of Consultants on Foreign Intelligence Activities untuk membahas kebutuhan intelijen negara.
Pada periode yang sama, program satelit pengintai WS-117L mulai dikembangkan oleh Angkatan Udara AS.
Program WS-117L kemudian dipisahkan menjadi beberapa proyek, termasuk pengembangan satelit yang dapat membawa kamera dan mengembalikan hasil foto ke Bumi.
Presiden Dwight D. Eisenhower menyetujui pengembangan program CORONA pada 7 Februari 1958.
CIA dan Angkatan Udara Amerika Serikat Mengembangkan CORONA
Project CORONA merupakan program gabungan Central Intelligence Agency (CIA) dan Angkatan Udara AS.
Pengembangannya melibatkan perusahaan swasta, terutama Lockheed dan Douglas Aircraft Company, yang menangani berbagai bagian dari sistem satelit dan kendaraan peluncurnya.
Richard Bissell Jr., pejabat senior CIA yang berperan dalam pengembangan teknologi pengintaian, menjadi salah satu tokoh penting di balik program tersebut.
Sementara itu, Lockheed mengembangkan wahana satelit dan sistem terkait, sedangkan Douglas terlibat dalam pengembangan kendaraan peluncur serta komponen pendukung.
Untuk menjaga kerahasiaan proyek, peluncuran satelit CORONA diperkenalkan kepada publik melalui program bernama Discoverer.
Nama tersebut digunakan sebagai kedok bagi kegiatan pengembangan dan pengujian satelit pengintai.
Pada 1961, National Reconnaissance Office (NRO) dibentuk untuk mengoordinasikan program pengintaian udara dan luar angkasa AS.
CORONA menjadi salah satu program penting dalam sistem pengintaian nasional tersebut.
Cara Kerja Satelit Mata-Mata CORONA
Berbeda dengan satelit pengintai modern yang dapat mengirimkan citra secara elektronik, CORONA menggunakan kamera berbasis film fotografi.
Satelit membawa gulungan film untuk memotret wilayah sasaran selama berada di orbit.
Satelit CORONA diluncurkan menggunakan roket Thor yang dilengkapi tahap atas Agena.
Setelah mencapai orbit, kamera mengambil gambar permukaan Bumi dan menyimpan hasilnya pada film fotografi di dalam wahana.
Ketika misi selesai, film dimasukkan ke dalam kapsul khusus yang dirancang untuk kembali memasuki atmosfer.
Kapsul tersebut dilengkapi pelindung panas agar dapat melewati proses masuk kembali ke atmosfer Bumi.
Setelah mencapai ketinggian tertentu, parasut kapsul terbuka untuk memperlambat penurunan.
Pesawat yang telah disiapkan kemudian berusaha menangkap kapsul menggunakan kait khusus ketika kapsul masih berada di udara.
Jika upaya tersebut gagal, kapsul dapat jatuh ke laut dan harus diambil melalui operasi pemulihan.
Kapsul yang berhasil diamankan dibawa untuk diproses.
Film lalu dikembangkan dan dianalisis oleh tenaga intelijen untuk mengidentifikasi fasilitas militer, persenjataan, serta aktivitas strategis di wilayah sasaran.
Sistem pengembalian film menjadi salah satu tantangan teknis terbesar dalam pengembangan CORONA.
Keberhasilan misi tidak hanya bergantung pada kemampuan kamera mengambil gambar, tetapi juga pada kemampuan mengembalikan film ke Bumi dalam kondisi yang dapat dianalisis.
Kegagalan Misi Awal dan Keberhasilan Pertama CORONA
Pengembangan CORONA tidak langsung berjalan mulus.
Sejumlah peluncuran awal mengalami kegagalan teknis sehingga tidak menghasilkan foto yang dapat digunakan untuk kebutuhan intelijen.
Menurut catatan CIA, 13 misi pertama program tersebut gagal mengembalikan citra yang dapat dimanfaatkan.
Catatan NRO menjelaskan bahwa 12 misi gagal akibat berbagai masalah teknis, sementara misi ke-13 berhasil mengembalikan kapsul, tetapi tidak membawa film.
Salah satu percobaan yang dikenal adalah Discoverer XIII pada 12 Agustus 1960.
Kapsulnya berhasil ditemukan setelah kembali ke Bumi, tetapi tidak membawa kamera dan film fotografi.
Keberhasilan pemulihan kapsul tersebut tetap menjadi pencapaian penting karena membuktikan bahwa sistem pengembalian dari orbit dapat dilakukan.
Terobosan berikutnya terjadi melalui Discoverer XIV.
Satelit ini diluncurkan pada 18 Agustus 1960 dan kapsulnya berhasil dipulihkan pada 19 Agustus 1960.
Film yang dibawanya menghasilkan sekitar 3.000 kaki rekaman fotografi dan mencakup sekitar 1,65 juta mil persegi wilayah Uni Soviet.
Keberhasilan tersebut menjadi titik penting dalam sejarah pengintaian satelit AS.
Untuk pertama kalinya, pemerintah AS memperoleh citra fotografi dari wilayah Soviet melalui satelit yang berhasil mengembalikan film ke Bumi.
Perkembangan Kamera Satelit CORONA
Selama masa operasionalnya, CORONA mengalami sejumlah peningkatan teknologi, terutama pada sistem kamera dan kualitas gambar.
Perubahan tersebut memungkinkan satelit mengambil foto dengan resolusi yang semakin baik.
Seri awal CORONA menggunakan kamera KH-1 dengan resolusi terbaik sekitar 40 kaki.
Generasi berikutnya, KH-2, meningkatkan kemampuan kamera hingga sekitar 30 kaki, sedangkan KH-3 mencapai sekitar 25 kaki.
Pengembangan berlanjut ke seri KH-4 dan varian-varian berikutnya.
KH-4 memiliki resolusi terbaik sekitar 25 kaki, KH-4A meningkat menjadi sekitar 9 kaki, dan KH-4B mencapai sekitar 6 kaki.
Pada generasi KH-4, sistem kamera panoramik ganda digunakan untuk menghasilkan cakupan gambar yang lebih luas.
Pengaturan kamera tersebut juga memungkinkan pengambilan citra stereoskopik, yang membantu analis memperkirakan bentuk dan karakteristik objek di permukaan Bumi.
KH-4B menjadi salah satu generasi terakhir sekaligus versi CORONA dengan kemampuan pencitraan terbaik.
Peningkatan resolusi ini memperbesar kemampuan analis untuk mengenali objek dan fasilitas militer yang sebelumnya sulit diidentifikasi melalui foto satelit.
Target Pengintaian CORONA di Wilayah Uni Soviet
Salah satu tujuan utama Project CORONA adalah memantau perkembangan kekuatan militer Uni Soviet.
Foto-foto yang dihasilkan digunakan untuk memeriksa fasilitas strategis dan aktivitas militer yang tidak mudah dijangkau oleh metode pengintaian konvensional.
Satelit CORONA memotret pangkalan udara, fasilitas produksi senjata, lokasi pengujian rudal, instalasi pertahanan udara, serta berbagai infrastruktur militer.
Foto-foto tersebut juga membantu analis mengidentifikasi pesawat pembom dan fasilitas yang berkaitan dengan pengembangan rudal balistik.
Pengintaian tidak terbatas pada Uni Soviet. CORONA juga mengambil gambar wilayah lain yang memiliki kepentingan strategis bagi AS, termasuk kawasan yang berkaitan dengan aktivitas militer dan perkembangan geopolitik selama Perang Dingin.
Citra satelit tersebut kemudian dibandingkan dengan informasi intelijen dari sumber lain.
Dengan cara ini, pemerintah AS dapat memperbarui penilaian mengenai kemampuan militer Soviet berdasarkan bukti visual yang lebih luas.
Peran CORONA dalam Mengungkap Missile Gap
Salah satu persoalan intelijen penting pada awal Perang Dingin adalah Missile Gap, yaitu kekhawatiran bahwa Uni Soviet memiliki jumlah rudal balistik yang jauh lebih banyak daripada AS.
Kekhawatiran tersebut berkembang karena keterbatasan informasi mengenai kemampuan persenjataan Soviet.
Tanpa data yang memadai, pemerintah AS kesulitan memperkirakan jumlah rudal, lokasi fasilitas peluncuran, dan perkembangan program persenjataan lawannya.
Foto-foto CORONA membantu memperbaiki penilaian tersebut.
Citra satelit memungkinkan analis mengamati fasilitas rudal dan perkembangan infrastruktur militer Soviet secara lebih sistematis.
Hasil pengintaian menunjukkan bahwa perkiraan sebelumnya mengenai jumlah rudal strategis Soviet terlalu tinggi.
Temuan tersebut membantu mengoreksi narasi mengenai Missile Gap dan memberikan dasar informasi yang lebih kuat bagi pengambilan kebijakan pertahanan AS.
CORONA juga berkontribusi dalam mengurangi ketidakpastian mengenai kemampuan pesawat pembom strategis Soviet, yang berkaitan dengan kekhawatiran lain pada masa itu, yaitu Bomber Gap.
Kontribusi CORONA terhadap Perjanjian Pengendalian Senjata
Informasi yang diperoleh melalui satelit pengintai memiliki peran dalam diplomasi pengendalian senjata antara Amerika Serikat dan Uni Soviet.
Perundingan Strategic Arms Limitation Talks (SALT) dimulai pada 1969.
Dalam proses tersebut, kedua negara menghadapi tantangan untuk memantau dan menilai kepatuhan terhadap kesepakatan pembatasan senjata strategis.
Citra satelit CORONA membantu AS memantau fasilitas militer dan perkembangan persenjataan Soviet.
Informasi tersebut menjadi salah satu sumber yang mendukung kemampuan pengawasan dan verifikasi dalam pembahasan pengendalian senjata.
Meski demikian, CORONA bukan satu-satunya sumber verifikasi.
Informasi dari satelit pengintai digunakan bersama sumber intelijen dan metode pemantauan lainnya untuk membangun penilaian yang lebih menyeluruh.
Berakhirnya Program Project CORONA
Setelah beroperasi selama lebih dari satu dekade, program CORONA akhirnya memasuki tahap akhir.
Peluncuran terakhirnya berlangsung pada 25 Mei 1972, yang tercatat sebagai misi ke-145.
Kapsul terakhir berhasil dipulihkan pada 31 Mei 1972.
Pengembangan teknologi pengintaian satelit berlanjut melalui program lain, termasuk GAMBIT dan HEXAGON.
Program-program tersebut membawa kemampuan pengintaian AS ke tahap berikutnya dengan sistem kamera dan wahana yang lebih maju.
Meskipun CORONA telah berhenti beroperasi, hasil pengumpulan citranya tetap memiliki nilai penting bagi sejarah intelijen dan penelitian ilmiah.
Declassified: Arsip Foto CORONA Dibuka untuk Publik
Selama puluhan tahun, keberadaan dan hasil operasi CORONA dirahasiakan oleh pemerintah AS.
Perubahan terjadi pada 1995 ketika Presiden Bill Clinton menandatangani Executive Order 12951 pada 22 Februari 1995.
Pada 24 Februari 1995, Wakil Presiden Al Gore mengumumkan keputusan pemerintah untuk membuka arsip sejumlah program satelit pengintai lama, termasuk CORONA, ARGON, dan LANYARD.
Proses deklasifikasi tersebut membuat ratusan ribu citra satelit yang sebelumnya dirahasiakan dapat diakses untuk kepentingan publik.
Arsip tersebut mencakup lebih dari 800.000 gambar yang kemudian menjadi sumber dokumentasi sejarah dan penelitian.
Dokumen serta citra hasil pengintaian disimpan dan dikelola melalui lembaga pemerintah, termasuk National Archives and Records Administration (NARA) dan United States Geological Survey (USGS).
Pemanfaatan Foto CORONA untuk Penelitian Modern
Setelah dibuka untuk publik, citra CORONA tidak lagi hanya digunakan untuk memahami sejarah intelijen militer.
Foto-foto tersebut juga dimanfaatkan dalam berbagai penelitian mengenai perubahan permukaan Bumi.
Peneliti dapat membandingkan citra lama dengan gambar satelit modern untuk mengamati perkembangan kota, perubahan penggunaan lahan, perluasan kawasan permukiman, serta perubahan lingkungan dalam rentang waktu puluhan tahun.
Arsip CORONA juga memiliki nilai bagi penelitian arkeologi.
Foto udara dari dekade 1960-an dan 1970-an dapat memperlihatkan jejak situs bersejarah, struktur permukiman, atau lanskap yang berubah akibat pembangunan dan aktivitas manusia.
Dalam konteks ini, citra satelit yang awalnya dikumpulkan untuk kepentingan militer menjadi sumber data historis yang berguna bagi ilmu geografi, arkeologi, dan penginderaan jauh.
Perbedaan CORONA, ARGON, dan LANYARD
CORONA bukan satu-satunya program satelit pengintai Amerika Serikat yang dibuka melalui proses deklasifikasi pada 1995.
Pemerintah juga mengungkap informasi mengenai ARGON dan LANYARD, dua program yang memiliki tujuan serta karakteristik kamera berbeda.
ARGON dikenal sebagai program satelit pemetaan dengan kamera KH-5.
Program ini beroperasi dari Mei 1962 hingga Agustus 1964 dan memiliki resolusi terbaik sekitar 460 kaki.
Kemampuan utamanya berkaitan dengan pengumpulan citra untuk kebutuhan pemetaan wilayah.
Sementara itu, LANYARD menggunakan kamera KH-6 yang dirancang untuk menghasilkan citra beresolusi lebih tinggi.
Program ini hanya memiliki satu misi yang berhasil, berlangsung pada Juli hingga Agustus 1963, dengan resolusi terbaik sekitar 6 kaki.
Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa program satelit pengintai AS dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan intelijen dan pemetaan yang beragam.
CORONA berfokus pada pengintaian fotografi strategis, ARGON mendukung pemetaan, sedangkan LANYARD dikembangkan untuk memperoleh citra beresolusi tinggi. [BP]
Ingin mengetahui lebih banyak kisah operasi rahasia, strategi intelijen, dan peristiwa penting yang membentuk sejarah dunia? Follow channel WhatsApp Koran Suluh Indonesia dan temukan berbagai informasi menarik lainnya langsung di ponsel Anda!
https://whatsapp.com/channel/0029VbByPYj3WHTNpxLmO93I




