Dari kiri ke kanan A.F. Dubivko, N.A. Shumkov, V.A. Arkhipov, R.A. Ketov. (Sumber: National Security Archive)

Insiden kapal selam Soviet B-59 pada 27 Oktober 1962 menjadi salah satu peristiwa paling berbahaya dalam sejarah Krisis Rudal Kuba.

Saat ketegangan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet mencapai puncaknya, kapal selam yang membawa torpedo nuklir itu diburu kapal-kapal perang AS di Samudra Atlantik.

Di tengah ledakan peledak isyarat, kondisi awak yang memburuk, dan terputusnya komunikasi dengan komando Soviet, komandan B-59, Valentin Savitsky, dilaporkan mempertimbangkan penggunaan torpedo nuklir.

Perwira senior Vasili Arkhipov turut berperan dalam meredakan situasi yang berpotensi memicu eskalasi militer.

Latar Belakang Insiden Kapal Selam Soviet B-59

Insiden B-59 berlangsung ketika Amerika Serikat dan Uni Soviet terlibat dalam Krisis Rudal Kuba pada Oktober 1962.

Krisis ini bermula setelah AS mengetahui bahwa Uni Soviet menempatkan rudal nuklir di Kuba, yang berada dekat dengan wilayah AS.

Pada 22 Oktober 1962, Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy mengumumkan kebijakan naval quarantine atau karantina laut terhadap Kuba.

Kebijakan tersebut mulai diberlakukan pada 24 Oktober untuk menghambat pengiriman perlengkapan militer ofensif ke pulau itu.

Dalam situasi tersebut, Uni Soviet mengerahkan empat kapal selam diesel-elektrik kelas Foxtrot dari pangkalan di Teluk Kola pada 1 Oktober 1962.

Kapal-kapal ini menjalankan misi militer di Atlantik dalam konteks operasi Soviet yang berkaitan dengan Kuba.

Setiap kapal selam membawa satu torpedo berujung nuklir dengan daya ledak sekitar 15 kiloton.

Angkatan Laut AS tidak mengetahui bahwa kapal-kapal Soviet tersebut membawa senjata nuklir ketika melakukan operasi antikapal selam.

Kapal Selam B-59 dan Persenjataan Nuklir Soviet

B-59 merupakan kapal selam diesel-elektrik kelas Foxtrot milik Angkatan Laut Soviet.

Kapal ini dipimpin Kapten Valentin Savitsky, dengan Vasili Arkhipov berada di dalamnya sebagai kepala staf Brigade Kapal Selam ke-69.

B-59 membawa torpedo konvensional dan satu torpedo berujung nuklir.

Keberadaan senjata tersebut menjadi faktor penting dalam menilai risiko yang muncul selama pengejaran oleh Angkatan Laut AS.

Sebagai kapal selam diesel-elektrik, B-59 menggunakan baterai ketika beroperasi di bawah permukaan laut.

Kapal perlu muncul ke permukaan atau menggunakan snorkel dalam kondisi yang sesuai untuk menjalankan mesin diesel dan mengisi ulang baterainya.

Ketika daya baterai menurun, kemampuan kapal untuk terus beroperasi di bawah laut menjadi terbatas.

Kondisi awak juga semakin berat selama operasi.

Kesaksian para peserta menyebutkan suhu tinggi, ventilasi yang buruk, keterbatasan air minum, serta gangguan peralatan.

Tekanan fisik ini terjadi ketika awak harus menghadapi ketidakpastian mengenai tindakan kapal-kapal AS dan perkembangan Krisis Rudal Kuba.

Kronologi Insiden B-59 pada 27 Oktober 1962

Pada 27 Oktober 1962, B-59 berada di kawasan Laut Sargasso ketika Angkatan Laut Amerika Serikat melakukan operasi antikapal selam.

USS Beale dan kapal-kapal lain yang beroperasi di sekitar kapal induk USS Randolph terlibat dalam upaya mendeteksi serta memaksa kapal selam Soviet muncul ke permukaan.

Baterai B-59 yang terkuras meningkatkan kebutuhan kapal untuk muncul dan mengisi ulang daya.

Sementara itu, komunikasi dengan komando Soviet sangat terbatas.

Awak kapal tidak memiliki informasi lengkap mengenai perkembangan diplomatik maupun maksud operasi AS.

USS Beale Menjatuhkan Granat Isyarat

Untuk memaksa kapal selam muncul, kapal perang AS menggunakan peledak isyarat.

Catatan harian USS Beale mencatat bahwa lima granat tangan dijatuhkan pada pukul 16.59 tanggal 27 Oktober.

Menurut kesaksian perwira USS Beale, John W. Peterson, awak kapal menggunakan tabung karton untuk menunda pecahnya tabung granat hingga berada di bawah air.

Peledak tersebut dimaksudkan sebagai isyarat agar kapal selam muncul, bukan sebagai serangan untuk menghancurkan B-59.

Namun, awak Soviet tidak mengetahui maksud tindakan tersebut secara pasti.

Dari dalam kapal selam, ledakan terdengar dan terasa sangat mengancam.

Vadim Orlov, perwira intelijen sinyal yang berada di B-59, kemudian menggambarkan pengalaman itu seperti berada di dalam drum minyak yang dihantam palu godam.

Kondisi kapal yang panas, kelelahan awak, dan keterbatasan komunikasi memperburuk situasi.

Awak B-59 harus menafsirkan ledakan tersebut tanpa kepastian apakah AS sedang memberikan isyarat atau memulai serangan.

Valentin Savitsky Mempertimbangkan Penggunaan Torpedo Nuklir

Komandan B-59, Valentin Savitsky, dilaporkan mengira kapalnya sedang diserang dan perang mungkin telah dimulai.

Sejumlah rekonstruksi berdasarkan wawancara dengan veteran Soviet menyebutkan bahwa dia memerintahkan persiapan torpedo nuklir dan mempertimbangkan penggunaannya.

Situasi tersebut sangat berbahaya karena B-59 membawa torpedo nuklir yang dirancang untuk menyerang sasaran laut.

Jika senjata itu digunakan terhadap kapal perang AS, serangan tersebut berpotensi menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar dan memicu pembalasan militer.

Awak B-59 tidak memiliki komunikasi yang memadai untuk mengetahui perkembangan diplomatik antara Washington dan Moskow.

Ledakan di sekitar kapal, tekanan fisik, serta ketidakpastian mengenai maksud AS meningkatkan risiko salah tafsir.

Vasili Arkhipov dan Perannya dalam Insiden B-59

Vasili Arkhipov merupakan kepala staf Brigade Kapal Selam ke-69 dan salah satu perwira senior yang berada di B-59 ketika insiden terjadi.

Dia bukan komandan kapal, tetapi kedudukannya membuat pandangannya penting dalam menghadapi situasi tersebut.

Menurut rekonstruksi yang diterbitkan National Security Archive, Arkhipov membantu menenangkan Savitsky dan mendorongnya memahami tindakan AS sebagai isyarat agar kapal selam muncul ke permukaan.

B-59 akhirnya memberikan isyarat balasan kepada kapal-kapal AS.

Salah satu sumber mengenai pengalaman Arkhipov adalah presentasinya pada 14 Oktober 1997 dalam konferensi yang memperingati 35 tahun Krisis Rudal Kuba.

National Security Archive menerbitkan versi bahasa Inggris dari kesaksiannya pada 3 Oktober 2022.

Arkhipov menggambarkan kebingungan yang dialami Savitsky ketika menghadapi cahaya lampu sorot dan suara ledakan di sekitar kapal.

Namun, kesaksiannya tidak menguraikan secara lengkap peran pribadinya dalam proses pengambilan keputusan mengenai torpedo nuklir.

Rekonstruksi yang lebih terperinci juga mengandalkan wawancara dengan veteran lain, termasuk Vadim Orlov dan personel Angkatan Laut Soviet.

B-59 Tidak Meluncurkan Torpedo Nuklir

Catatan harian USS Beale mencatat bahwa B-59 muncul ke permukaan pada pukul 20.50 tanggal 27 Oktober 1962.

Kapal selam tersebut kemudian berada di bawah pengawasan kapal-kapal AS.

Tidak ada torpedo nuklir yang diluncurkan selama insiden B-59.

Pihak AS juga tidak mengetahui bahwa kapal selam tersebut membawa senjata nuklir ketika melakukan operasi antikapal selam.

Jika torpedo nuklir digunakan terhadap gugus kapal perang AS, serangan itu berpotensi memicu pembalasan dan eskalasi militer.

Bagaimana Krisis Rudal Kuba Berakhir?

Pada 28 Oktober 1962, pemimpin Soviet Nikita Khrushchev mengumumkan bahwa Uni Soviet akan membongkar dan menarik rudal-rudalnya dari Kuba.

Pengumuman tersebut menjadi titik penting dalam penyelesaian krisis.

Penyelesaian Krisis Rudal Kuba melibatkan perundingan diplomatik dan keputusan politik kedua negara.

Persoalan keamanan Kuba dan penempatan rudal AS di Turki juga menjadi bagian dari konteks diplomatik yang lebih luas.

Insiden kapal selam B-59 tidak mengakhiri krisis secara langsung.

Peristiwa ini merupakan salah satu episode berbahaya selama konfrontasi, ketika tindakan militer yang dimaksudkan sebagai isyarat dapat ditafsirkan sebagai ancaman oleh pihak yang tidak memiliki informasi memadai. [BP]

Follow channel WhatsApp Koran Suluh Indonesia dan dapatkan pemberitahuan tentang lebih banyak artikel menarik dan mendalam.
https://whatsapp.com/channel/0029VbByPYj3WHTNpxLmO93I