Ini 12 mata-mata Soviet yang membocorkan informasi rahasia mengenai kebijakan pemerintahan, strategi militer, teknologi persenjataan, serta aktivitas intelijen negara-negara Barat dan sekutunya. (AI/BP)

Uni Soviet memiliki jaringan intelijen internasional yang beroperasi di berbagai negara selama abad ke-20.

Dalam menjalankan misinya, sejumlah agen Soviet menggunakan identitas palsu dan menyusup ke lembaga pemerintahan, organisasi militer, serta pusat penelitian.

Beberapa di antaranya bahkan berhasil mempertahankan penyamaran selama bertahun-tahun sebelum identitas mereka terbongkar.

Berikut 12 mata-mata Soviet paling terkenal sepanjang sejarah beserta operasi spionase yang membuat nama mereka tercatat dalam sejarah intelijen dunia.

1. Richard Sorge (1895–1944)

Richard Sorge merupakan salah satu agen intelijen militer Soviet paling terkenal selama Perang Dunia II.

Dia bekerja untuk Direktorat Intelijen Utama Tentara Merah (GRU) dan menggunakan nama samaran Ramsay ketika menjalankan operasi di Asia Timur.

Lahir di Baku pada 4 Oktober 1895 dari ayah berkebangsaan Jerman dan ibu berkebangsaan Rusia, Sorge tumbuh dengan latar belakang budaya Jerman.

Dia bergabung dengan Partai Komunis Jerman pada 1920-an dan direkrut oleh intelijen militer Soviet.

Sorge mengawali aktivitas intelijennya di Shanghai, China, sebelum mendapatkan penugasan ke Jepang pada 1933.

Di Tokyo, dia menyamar sebagai koresponden surat kabar Jerman Frankfurter Zeitung.

Pekerjaan jurnalistik tersebut memberinya kesempatan membangun hubungan dengan kalangan diplomatik dan politik Jerman di Jepang.

Salah satu sumber informasinya adalah Hotsumi Ozaki, jurnalis Jepang yang memiliki akses ke lingkungan pemerintahan Perdana Menteri Fumimaro Konoe.

Ozaki membantu memperoleh informasi mengenai kebijakan pemerintah Jepang, hubungan internasional, dan perkembangan strategi militer negara tersebut.

Sorge juga memiliki hubungan dekat dengan sejumlah pejabat Kedutaan Besar Jerman di Tokyo.

Kedekatan itu memberinya akses terhadap informasi mengenai kebijakan Jerman dan hubungan diplomatik Berlin dengan Jepang.

Pada 1941, Sorge mengirimkan informasi penting kepada Moskow mengenai rencana Jepang.

Jaringan intelijennya melaporkan bahwa Jepang tidak berencana melancarkan serangan besar terhadap Uni Soviet dalam waktu dekat dan lebih memprioritaskan ekspansi ke selatan.

Informasi tersebut menjadi salah satu bahan pertimbangan strategis pemerintah Soviet ketika menghadapi ancaman Jerman di front barat.

Pada 18 Oktober 1941, aparat Jepang menangkap Sorge dan sejumlah anggota jaringannya.

Pemerintah Jepang kemudian mengadilinya atas aktivitas spionase.

Sorge dijatuhi hukuman mati dan dieksekusi pada 7 November 1944.

Pada 1964, pemerintah Uni Soviet secara resmi menganugerahinya gelar Pahlawan Uni Soviet.

2. Leopold Trepper (1904–1982)

Leopold Trepper merupakan perwira intelijen Soviet yang dikenal sebagai salah satu tokoh utama jaringan spionase Red Orchestra (Rote Kapelle) di Eropa selama Perang Dunia II.

Dia menggunakan nama samaran Le Grand Chef dan bertugas membangun serta mengoordinasikan jaringan agen yang mengumpulkan informasi mengenai Jerman Nazi.

Trepper lahir di Nowy Targ, wilayah yang saat itu berada di Austria-Hongaria dan sekarang termasuk Polandia.

Dia aktif dalam gerakan komunis sejak muda, kemudian terlibat dalam aktivitas bawah tanah di Palestina dan Prancis.

Setelah kembali ke Uni Soviet, dia mendapatkan penugasan untuk membangun jaringan intelijen di Eropa Barat.

Pada 1938, dia mulai mengembangkan jaringan yang melibatkan sejumlah sumber informasi di berbagai negara.

Jaringannya berkembang di Belgia, Prancis, Belanda, dan Jerman.

Operasi tersebut menggunakan komunikasi radio rahasia untuk mengirimkan laporan kepada pusat intelijen Soviet.

Anggota Red Orchestra berasal dari berbagai latar belakang.

Sebagian memiliki hubungan dengan lembaga pemerintahan, militer, dan industri Jerman.

Akses mereka memungkinkan jaringan tersebut memperoleh informasi mengenai persiapan militer Nazi, kebijakan pemerintahan, dan perkembangan perang.

Jerman mulai membongkar jaringan tersebut setelah aktivitas komunikasi radionya terdeteksi oleh unit kontraintelijen.

Trepper ditangkap Gestapo di Paris pada November 1942.

Selama berada dalam tahanan, dia berpura-pura bekerja sama dengan aparat Jerman.

Pada Januari 1943, dia berhasil mengirimkan peringatan kepada salah satu agen yang masih bebas mengenai penangkapan anggota jaringan dan operasi penyesatan Jerman.

Pada September 1943, Trepper berhasil melarikan diri.

Dia bersembunyi di sejumlah tempat di Prancis hingga pasukan Sekutu tiba pada 1944.

Pada November tahun yang sama, dia kembali ke Moskow.

Kepulangannya tidak langsung diikuti kehidupan bebas.

Pemerintah Soviet menangkapnya dan menahannya selama sekitar sepuluh tahun di penjara Lubyanka dan sejumlah fasilitas penahanan lainnya.

Dia dibebaskan pada 1954 dan kembali ke Polandia.

Pada 1974, Trepper pindah ke Israel dan menetap di sana hingga meninggal pada 1982.

3. Elizabeth Bentley (1908–1963)

Elizabeth Bentley merupakan warga Amerika Serikat yang bekerja untuk jaringan intelijen Soviet sebagai kurir, penghubung, dan pengelola sumber informasi.

Aktivitasnya berlangsung ketika Uni Soviet berusaha memperoleh informasi dari lingkungan pemerintahan AS selama Perang Dunia II.

Bentley lahir pada 1 Januari 1908 di New Milford, Connecticut.

Dia menempuh pendidikan di Vassar College dan bergabung dengan Partai Komunis AS pada 1930-an.

Pada 1938, Bentley diperkenalkan kepada Jacob Golos, seorang tokoh jaringan intelijen Soviet di AS.

Golos merekrutnya untuk membantu mengumpulkan dan meneruskan informasi dari sejumlah sumber yang memiliki akses ke lembaga pemerintahan.

Bentley bekerja sebagai asisten sekaligus kurir Golos.

Dia membantu mengatur pertemuan, mengumpulkan dokumen, dan meneruskan informasi kepada pihak yang menangani jaringan tersebut.

Setelah Golos meninggal pada November 1943, Bentley mengambil alih sejumlah tanggung jawab dalam pengelolaan jaringan sumber informasi yang sebelumnya berada di bawah kendali Golos.

Pada 1945, Bentley memutuskan hubungannya dengan jaringan tersebut dan mengungkap aktivitasnya kepada FBI.

Pada 7 November 1945, dia mendatangi kantor FBI di New York dan mulai memberikan keterangan mengenai pekerjaannya sebagai kurir dua jaringan spionase di Washington.

Dalam pemeriksaan berikutnya, Bentley menyebutkan sejumlah individu yang menurut keterangannya memberikan informasi kepada Soviet.

Pengakuannya membantu FBI mengembangkan penyelidikan terhadap dugaan aktivitas spionase di berbagai lembaga pemerintahan AS.

Bentley kemudian memberikan kesaksian di hadapan House Un-American Activities Committee pada 1948.

Dia meninggal pada 3 Desember 1963 di usia 55 tahun.

4. Klaus Fuchs (1911–1988)

Klaus Fuchs merupakan fisikawan kelahiran Jerman yang membocorkan informasi rahasia mengenai pengembangan senjata nuklir kepada intelijen Soviet.

Kasusnya menjadi salah satu skandal spionase paling penting yang berkaitan dengan Manhattan Project, program pengembangan bom atom AS.

Fuchs lahir pada 29 Desember 1911 di Rüsselsheim, Jerman.

Di bergabung dengan Partai Komunis Jerman ketika masih muda.

Setelah Partai Nazi berkuasa pada 1933, Fuchs meninggalkan Jerman dan pindah ke Inggris untuk melanjutkan karier akademisnya di bidang fisika.

Ketika Perang Dunia II berlangsung, Fuchs memperoleh posisi dalam program penelitian senjata nuklir Inggris yang dikenal sebagai Tube Alloys.

Pada akhir 1941, dia menghubungi seorang tokoh komunis Jerman bernama Jürgen Kuczynski untuk menawarkan informasi mengenai penelitian nuklir tersebut kepada Uni Soviet.

Melalui jaringan tersebut, Fuchs kemudian dihubungkan dengan agen GRU bernama Ursula Beurton, yang menggunakan nama samaran Sonya.

Fuchs menggunakan nama kode Rest dalam komunikasi intelijen.

Pada 1943, Fuchs bergabung dengan tim ilmuwan Inggris yang bekerja di Manhattan Project, Amerika Serikat.

Dia memiliki akses terhadap penelitian dan perhitungan teknis yang berkaitan dengan desain bom atom.

Informasi yang diperolehnya disampaikan kepada intelijen Soviet melalui sejumlah jalur komunikasi rahasia.

Keterlibatannya mulai terungkap melalui proyek VENONA, program rahasia AS dan Inggris untuk memecahkan komunikasi intelijen Soviet yang berhasil disadap.

Analisis pesan-pesan tersebut membantu penyelidik mengidentifikasi Fuchs sebagai sumber informasi rahasia dari proyek nuklir.

Pada Februari 1950, setelah menjalani pemeriksaan oleh MI5, Fuchs mengakui aktivitas spionasenya.

Dia dijatuhi hukuman penjara 14 tahun berdasarkan Undang-Undang Rahasia Resmi Inggris.

Fuchs dibebaskan pada 1959 setelah menjalani sekitar sembilan tahun masa hukuman.

Dia pindah ke Jerman Timur dan melanjutkan kariernya dalam bidang penelitian nuklir.

Dia meninggal pada 28 Januari 1988.

5. Kim Philby (1912–1988)

Kim Philby merupakan salah satu mata-mata Soviet paling terkenal karena berhasil menyusup ke Secret Intelligence Service (SIS), badan intelijen luar negeri Inggris yang lebih dikenal sebagai MI6.

Dia merupakan anggota Cambridge Five, jaringan agen Soviet yang direkrut dari lingkungan Universitas Cambridge pada 1930-an.

Philby lahir di Ambala, India Britania, pada 1 Januari 1912.

Dia menempuh pendidikan di Universitas Cambridge dan mulai memiliki hubungan dengan gerakan komunis ketika masih menjadi mahasiswa.

Pada 1930-an, Philby direkrut oleh intelijen Soviet.

Dia kemudian membangun karier sebagai jurnalis dan meliput Perang Saudara Spanyol sebelum bergabung dengan MI6 pada 1940.

Kariernya berkembang pesat selama Perang Dunia II.

Philby memperoleh posisi penting dalam bagian MI6 yang menangani operasi melawan Uni Soviet.

Pada akhir perang, dia memimpin bagian kontraintelijen yang bertanggung jawab terhadap aktivitas Soviet dan komunis.

Pada 1949, Philby mendapatkan penugasan sebagai kepala stasiun MI6 di Washington, Amerika Serikat.

Jabatan tersebut memberinya akses terhadap informasi rahasia mengenai kerja sama intelijen Inggris dan AS, termasuk operasi yang melibatkan badan intelijen kedua negara.

Philby memanfaatkan akses tersebut untuk memberikan informasi kepada Soviet.

Dia membocorkan identitas sejumlah sumber intelijen Barat, informasi mengenai operasi rahasia, dan perkembangan penyelidikan terhadap jaringan mata-mata Soviet.

Pada 1951, Donald Maclean dan Guy Burgess melarikan diri ke Uni Soviet setelah identitas mereka mulai terancam terbongkar.

Peristiwa tersebut membuat Philby ikut dicurigai karena memiliki hubungan dekat dengan keduanya.

Dia dipanggil kembali dari Washington dan diperiksa oleh pihak Inggris.

Philby sempat membantah keterlibatannya. Namun, tekanan terhadap dirinya terus meningkat hingga dia akhirnya membelot ke Uni Soviet pada Januari 1963.

Dia menetap di Moskow, bekerja sebagai tokoh yang berkaitan dengan kegiatan intelijen Soviet, dan meninggal pada 1988.

6. Donald Maclean (1913–1983)

Donald Maclean merupakan diplomat Inggris yang menjadi anggota Cambridge Five.

Maclean lahir pada 25 Mei 1913 di Marylebone, London.

Ayahnya, Sir Donald Maclean, merupakan politikus Inggris.

Dia menempuh pendidikan di Universitas Cambridge dan direkrut oleh intelijen Soviet pada 1930-an.

Setelah menyelesaikan pendidikannya, Maclean bergabung dengan Foreign Office pada 1935.

Dia memperoleh sejumlah penugasan diplomatik yang memberinya akses terhadap informasi penting mengenai kebijakan luar negeri Inggris.

Pada masa Perang Dunia II, Maclean bekerja di Washington dan mendapatkan akses terhadap dokumen yang berkaitan dengan hubungan diplomatik Inggris, Amerika Serikat, dan Uni Soviet.

Dia juga memperoleh informasi mengenai perundingan internasional antara negara-negara Sekutu.

Salah satu informasi yang diteruskannya kepada Soviet berkaitan dengan posisi diplomatik Inggris dalam perundingan antara Winston Churchill, Franklin D. Roosevelt, dan Joseph Stalin.

Setelah perang, Maclean kembali mendapatkan penugasan diplomatik, termasuk di Kairo.

Namun, aktivitas spionasenya mulai terancam ketika penyelidikan kontraintelijen Barat mengidentifikasi sumber informasi rahasia dengan nama sandi Homer sebagai dirinya.

Pada Mei 1951, Maclean melarikan diri dari Inggris bersama Guy Burgess.

Keduanya menyeberang ke Prancis sebelum melanjutkan perjalanan melalui sejumlah negara Eropa menuju Moskow.

Maclean menghabiskan sisa hidupnya di Uni Soviet. Dia meninggal pada 1983.

7. Guy Burgess (1911–1963)

Guy Burgess merupakan anggota Cambridge Five yang memanfaatkan pekerjaan jurnalistik dan hubungannya dengan lembaga pemerintahan Inggris untuk memperoleh informasi rahasia.

Dia dikenal memiliki hubungan dekat dengan Kim Philby dan Donald Maclean.

Burgess lahir pada 16 April 1911 di Devonport, Inggris.

Dia menempuh pendidikan di Eton College dan Universitas Cambridge.

Ketika masih berada di Cambridge, dia mulai memiliki hubungan dengan gerakan komunis dan direkrut oleh intelijen Soviet.

Pada awal kariernya, Burgess bekerja sebagai jurnalis BBC.

Pekerjaan tersebut memberinya kesempatan membangun hubungan dengan berbagai tokoh politik dan pemerintahan Inggris.

Dia kemudian bergabung dengan Foreign Office dan memiliki keterlibatan dengan MI6.

Melalui pekerjaan tersebut, Burgess memperoleh akses terhadap dokumen diplomatik serta informasi yang berkaitan dengan aktivitas intelijen Inggris.

Burgess meneruskan informasi rahasia tersebut kepada Soviet selama bertahun-tahun.

Dia juga membantu hubungan antarsesama anggota Cambridge Five, termasuk Kim Philby dan Donald Maclean.

Pada 1951, Maclean berada dalam ancaman penyelidikan kontraintelijen Inggris.

Burgess ikut melarikan diri bersamanya pada 25 Mei 1951.

Keduanya meninggalkan Inggris menggunakan kapal feri menuju Prancis, lalu melanjutkan perjalanan melalui Eropa hingga tiba di Moskow.

Burgess tidak pernah kembali ke Inggris. Dia meninggal di Moskow pada 1963, dalam usia 52 tahun.

8. Anthony Blunt (1907–1983)

Anthony Blunt merupakan sejarawan seni Inggris yang juga pernah bekerja untuk MI5, badan keamanan dalam negeri Inggris.

Dia menjadi salah satu anggota Cambridge Five yang memberikan informasi rahasia kepada Uni Soviet.

Blunt lahir pada 26 September 1907 di Bournemouth, Inggris.

Dia menempuh pendidikan di Universitas Cambridge dan memiliki hubungan dengan Guy Burgess.

Melalui lingkungan tersebut, dia kemudian direkrut oleh intelijen Soviet pada awal 1937.

Ketika Perang Dunia II berlangsung, Blunt bergabung dengan British Army dan bertugas dalam Intelligence Corps.

Pada 1940, dia direkrut oleh MI5. Pekerjaannya memberikan akses terhadap informasi keamanan dan intelijen yang kemudian disampaikan kepada pihak Soviet.

Setelah perang, Blunt melanjutkan karier sebagai sejarawan seni.

Dia menjadi direktur Courtauld Institute dan memperoleh jabatan Surveyor of the King’s Pictures, yang bertanggung jawab terhadap koleksi seni kerajaan Inggris.

Keterlibatannya dalam spionase Soviet mulai terungkap melalui penyelidikan terhadap jaringan Cambridge Five.

Pada April 1964, Blunt mengakui aktivitas spionasenya kepada MI5.

Sebagai imbalan atas pengakuan tersebut, pemerintah Inggris memberikan kekebalan dari penuntutan.

Selama bertahun-tahun, pemerintah Inggris merahasiakan pengakuan Blunt.

Keterlibatannya baru diumumkan secara terbuka oleh Perdana Menteri Margaret Thatcher pada November 1979.

Setelah pengungkapan tersebut, Blunt kehilangan gelar kebangsawanan yang sebelumnya diberikan kepadanya.

Dia tetap bekerja di bidang sejarah seni sebelum meninggal pada 1983.

9. John Cairncross (1913–1995)

John Cairncross merupakan pegawai pemerintahan Inggris yang menjadi anggota kelima Cambridge Five.

Dia dikenal karena memiliki akses terhadap informasi militer dan komunikasi rahasia Jerman selama Perang Dunia II.

Cairncross lahir pada 25 Juli 1913 di Lesmahagow, Skotlandia.

Dia menempuh pendidikan di Universitas Glasgow, Sorbonne, dan Universitas Cambridge.

Dia direkrut oleh intelijen Soviet pada 1936.

Kariernya di pemerintahan Inggris membawanya bekerja di sejumlah lembaga penting, termasuk Foreign Office, Treasury, Government Code and Cypher School, dan MI6.

Salah satu penugasannya yang paling penting adalah di Bletchley Park, pusat pemecahan kode Inggris selama Perang Dunia II.

Di tempat tersebut, para ahli kriptografi Inggris bekerja memecahkan komunikasi rahasia militer Jerman, termasuk pesan yang dienkripsi menggunakan mesin Enigma.

Melalui pekerjaannya, Cairncross memiliki akses terhadap informasi yang diperoleh dari hasil pemecahan kode tersebut.

Dia meneruskan sejumlah dokumen rahasia kepada intelijen Soviet.

Informasi yang diterimanya oleh pihak Soviet mencakup perkembangan militer Jerman dan komunikasi yang berkaitan dengan operasi di medan perang.

Cairncross juga dikaitkan dengan penyampaian informasi yang relevan menjelang Pertempuran Kursk pada 1943.

Setelah aktivitas Cambridge Five mulai diselidiki, Cairncross diperiksa oleh MI5.

Pada 1960-an, dia mengakui pernah memberikan informasi kepada Soviet, meskipun tidak pernah menjalani proses persidangan pidana terkait aktivitas tersebut.

Pada 1990-an, identitasnya sebagai anggota kelima Cambridge Five semakin dikenal luas.

Cairncross meninggal pada 1995.

10. Rudolf Abel (1903–1971)

Rudolf Abel merupakan nama yang dikenal luas untuk William Genrikhovich Fisher, agen ilegal Soviet yang menjalankan operasi spionase di Amerika Serikat selama Perang Dingin.

DIa bekerja menggunakan identitas palsu dan menyamar sebagai fotografer serta seniman di Brooklyn, New York.

Fisher lahir pada 11 Juli 1903 di Newcastle upon Tyne, Inggris, dari keluarga Rusia yang saat itu tinggal di luar negeri.

Dia kemudian kembali ke Rusia dan bergabung dengan kegiatan intelijen Soviet.

Sebelum menjalankan operasi di AS, Fisher telah mendapatkan pengalaman dalam pekerjaan intelijen dan komunikasi rahasia.

Pada 1948, Fisher memasuki AS melalui Kanada dengan identitas palsu Emil R. Goldfus.

Dia menjalankan tugas sebagai agen ilegal Soviet dengan mengumpulkan informasi mengenai instalasi militer, Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan rahasia teknologi atom AS.

Untuk berkomunikasi dengan pusat intelijen Soviet, Fisher menggunakan berbagai peralatan spionase, termasuk radio gelombang pendek, kamera mikrofilm, buku kode, serta benda-benda yang dimodifikasi untuk menyembunyikan pesan.

Salah satu peralatan yang ditemukan FBI adalah wadah tersembunyi di dalam baterai senter.

Identitasnya mulai terancam setelah asistennya, Reino Häyhänen, membelot dan memberikan informasi kepada FBI.

Häyhänen membantu penyelidik mengidentifikasi Fisher sebagai pejabat intelijen Soviet yang menggunakan identitas Goldfus.

Pada 21 Juni 1957, FBI menangkap Fisher di New York.

Ketika diperiksa, dia memperkenalkan dirinya menggunakan nama Rudolf Ivanovich Abel.

Nama tersebut kemudian digunakan secara luas dalam pemberitaan dan proses hukum.

Pada November 1957, pengadilan AS menjatuhkan hukuman penjara 45 tahun kepadanya atas sejumlah dakwaan spionase.

Namun, dia tidak menjalani seluruh masa hukuman karena dibebaskan melalui pertukaran tahanan pada 10 Februari 1962.

Dalam pertukaran tersebut, Abel ditukar dengan Francis Gary Powers, pilot pesawat mata-mata U-2 Amerika Serikat yang ditangkap Soviet pada 1960.

Peristiwa tersebut berlangsung di Glienicke Bridge, jembatan yang menghubungkan Berlin Barat dan Potsdam.

Kisah penangkapan dan pertukaran tahanannya kemudian menjadi inspirasi film Bridge of Spies (2015) garapan Steven Spielberg.

Fisher meninggal di Moskow pada 1971.

11. George Blake (1922–2020)

George Blake merupakan mantan perwira MI6 yang bekerja sebagai agen ganda untuk intelijen Soviet.

Selama hampir satu dekade, dia memberikan informasi rahasia mengenai operasi Inggris dan sekutunya kepada KGB.

Blake lahir pada 11 November 1922 di Rotterdam, Belanda, dengan nama George Behar.

Dia bergabung dengan dinas intelijen Inggris dan menjalani sejumlah penugasan di luar negeri.

Pada 1950, ketika bertugas di Seoul, Korea Selatan, Blake ditangkap oleh pasukan Korea Utara setelah pecahnya Perang Korea.

Dia kemudian menghabiskan sekitar tiga tahun sebagai tawanan perang.

Selama masa penahanan, Blake mengalami perubahan pandangan politik dan memutuskan bekerja untuk Uni Soviet.

Setelah dibebaskan pada 1953, dia kembali ke Inggris dan melanjutkan aktivitasnya dalam MI6 sambil memberikan informasi kepada KGB.

Salah satu informasi paling penting yang dibocorkannya berkaitan dengan Operation GOLD, operasi rahasia yang dijalankan CIA dan MI6 di Berlin.

Operasi tersebut melibatkan pembangunan terowongan dari Berlin Barat menuju wilayah Berlin Timur untuk menyadap komunikasi militer Soviet.

Pihak Soviet mengetahui proyek penyadapan itu, tetapi membiarkannya berlangsung hingga April 1956 sebelum mengungkap keberadaan terowongan tersebut.

Selain Operation GOLD, Blake juga membocorkan identitas sejumlah agen Barat yang beroperasi di Eropa Timur.

Beberapa sumber yang terbongkar akibat pengkhianatannya ditangkap dan dieksekusi.

Pada 1961, Blake ditangkap setelah informasi dari seorang pembelot Polandia membantu mengungkap aktivitasnya.

Pengadilan Inggris menjatuhkan hukuman penjara 42 tahun kepadanya.

Pada 22 Oktober 1966, Blake berhasil melarikan diri dari Wormwood Scrubs, penjara di London.

Pelariannya dibantu sejumlah orang, termasuk mantan narapidana dan aktivis perdamaian.

Setelah bersembunyi di sejumlah tempat, dia berhasil mencapai Jerman Timur dan kemudian melanjutkan perjalanan ke Moskow.

Blake menghabiskan sisa hidupnya di Rusia dan meninggal pada 26 Desember 2020 dalam usia 98 tahun.

12. Morris Cohen (1910–1995)

Morris Cohen merupakan agen intelijen Soviet asal Amerika Serikat yang menjalankan berbagai operasi rahasia bersama istrinya, Lona Cohen.

Keduanya dikenal karena keterlibatan mereka dalam jaringan spionase Portland di Inggris pada masa Perang Dingin.

Morris lahir pada 2 Juli 1910 di New York. Dia pernah terlibat dalam Perang Saudara Spanyol sebagai anggota Abraham Lincoln Brigade pada 1937.

Keterlibatannya dalam gerakan komunis membawanya ke lingkungan intelijen Soviet.

Istrinya, Lona Cohen, juga bekerja sebagai agen Soviet.

Selama Perang Dunia II, Lona berperan sebagai kurir informasi yang berkaitan dengan jaringan spionase Soviet di AS, termasuk informasi dari proyek penelitian nuklir Los Alamos.

Pada 1950, Morris dan Lona meninggalkan AS.

Keduanya menetap di Inggris menggunakan identitas palsu Peter dan Helen Kroger.

Morris menyamar sebagai pedagang buku antik, sementara rumah mereka di Ruislip, London, digunakan sebagai pusat komunikasi rahasia.

Pasangan tersebut terlibat dalam Portland Spy Ring, jaringan intelijen Soviet yang memperoleh informasi rahasia mengenai teknologi pertahanan angkatan laut Inggris.

Sumber utama informasi jaringan ini adalah Harry Houghton dan Ethel Gee, dua warga Inggris yang bekerja di Underwater Detection Establishment di Portland.

Keduanya memiliki akses terhadap dokumen rahasia mengenai teknologi pendeteksian bawah laut dan sistem pertahanan antikapal selam.

Houghton dan Gee menyerahkan dokumen serta materi rahasia kepada Gordon Lonsdale, yang sebenarnya merupakan perwira KGB bernama Konon Molody.

Lonsdale meneruskan materi tersebut kepada Morris dan Lona Cohen untuk dikirimkan ke pusat intelijen Soviet di Moskow.

Pada Januari 1961, aparat Inggris menangkap pasangan Cohen bersama sejumlah anggota Portland Spy Ring lainnya.

Penggeledahan di rumah mereka menemukan berbagai peralatan komunikasi dan perlengkapan spionase.

Morris dan Lona dijatuhi hukuman penjara 20 tahun.

Namun, keduanya dibebaskan melalui pertukaran tahanan pada 1969 dengan Gerald Brooke, seorang warga Inggris yang ditahan di Uni Soviet.

Setelah kembali ke wilayah Soviet, Morris dan Lona Cohen menjalani kehidupan mereka di Moskow.

Keduanya memperoleh gelar Pahlawan Federasi Rusia atas jasa mereka kepada negara.

Morris meninggal pada 23 Juni 1995, sedangkan Lona meninggal pada 1992. [BP]

Untuk mendapatkan lebih banyak artikel sejarah, informasi menarik, dan perkembangan berita lainnya, ikuti Channel WhatsApp Koran Suluh Indonesia.
https://whatsapp.com/channel/0029VbByPYj3WHTNpxLmO93I