Pada awal 1950-an, pemerintah Amerika Serikat membutuhkan informasi mengenai perkembangan persenjataan nuklir, pangkalan militer, dan kemampuan strategis Uni Soviet.
Persaingan senjata nuklir dan perkembangan teknologi rudal membuat Washington membutuhkan data yang lebih akurat tentang instalasi militer lawannya.
Informasi tersebut diperlukan untuk membantu menilai potensi ancaman terhadap keamanan nasional AS.
Pengintaian udara menjadi salah satu cara untuk memperoleh informasi tersebut.
Namun, pesawat pengintai yang sudah digunakan, termasuk RB-47 dan RB-57D, terancam oleh sistem pertahanan udara Soviet.
AS membutuhkan pesawat yang dapat beroperasi pada ketinggian ekstrem agar lebih sulit dijangkau oleh pesawat pencegat dan persenjataan lawan.
Pada 1954, Presiden Dwight D. Eisenhower menyetujui pengembangan pesawat pengintai yang dapat beroperasi di ketinggian ekstrem.
Setahun kemudian, Eisenhower mengusulkan konsep Open Skies dalam pertemuan internasional di Jenewa.
Gagasan itu memungkinkan AS dan Uni Soviet melakukan pengawasan udara timbal balik untuk membantu memverifikasi aktivitas militer.
Pemimpin Soviet Nikita Khrushchev menolak usulan tersebut.
Lockheed Merancang U-2 melalui Proyek Rahasia CIA
CIA menggandeng Lockheed, perusahaan penerbangan Amerika Serikat, untuk merancang dan membangun pesawat pengintai itu.
Pekerjaan dilakukan oleh Skunk Works, unit pengembangan rahasia Lockheed yang dipimpin insinyur Clarence Leonard “Kelly” Johnson.
Rancangan awal pesawat itu dikenal sebagai CL-282.
Desainnya memiliki badan pesawat relatif ringan, sayap panjang dan ramping, serta mesin jet.
Konfigurasi tersebut dirancang untuk menghasilkan daya angkat yang memadai ketika pesawat terbang di udara yang sangat tipis pada ketinggian ekstrem.
Pada tahap awal, Angkatan Udara Amerika Serikat menolak rancangan CL-282.
Namun, desain itu mendapat dukungan Direktur CIA Allen Dulles dan Presiden Eisenhower.
Pemerintah AS kemudian menyetujui pengembangan pesawat untuk dioperasikan dalam program pengintaian yang dikelola CIA.
Pada 24 November 1954, Eisenhower menyetujui pengembangan produksi 30 pesawat U-2.
Program tersebut menggunakan nama sandi Aquatone.
Adapun sebutan U-2 menggunakan huruf “U” yang merujuk pada utility, istilah yang membantu menyamarkan fungsi sebenarnya dari pesawat tersebut.
Pengembangan berlangsung cepat. U-2 menjalani penerbangan uji pertamanya pada 1955, sekitar delapan bulan setelah kontrak pengembangan dimulai.
Kecepatan pengerjaan ini mencerminkan kebutuhan AS untuk segera memperoleh kemampuan pengintaian pada ketinggian ekstrem.
Teknologi Pesawat U-2 Memungkinkan Pengintaian dari Ketinggian Ekstrem
Pesawat mata-mata U-2 dirancang untuk terbang pada ketinggian sekitar 70.000 kaki atau 21 kilometer di atas permukaan laut.
Pada ketinggian tersebut, udara jauh lebih tipis dibandingkan di dekat permukaan bumi sehingga pesawat membutuhkan rancangan aerodinamika khusus.
U-2 memiliki sayap panjang dan ramping yang menghasilkan daya angkat tinggi.
Desain ini memungkinkan pesawat mempertahankan penerbangan pada ketinggian ekstrem menggunakan mesin jet.
Penampilannya menyerupai pesawat layang bermesin, meskipun fungsi utamanya adalah mengumpulkan informasi intelijen.
Salah satu perangkat terpenting U-2 adalah kamera pengintai khusus.
Kamera tersebut dirancang untuk mengambil foto terperinci dari instalasi militer dan fasilitas strategis yang berada jauh di bawah pesawat.
Foto udara yang dihasilkan kemudian dapat dianalisis untuk mengidentifikasi fasilitas dan menilai aktivitas militer.
Ketinggian terbang U-2 menjadi keunggulan penting pada awal operasinya.
Namun, U-2 tetap dapat dideteksi radar dan tidak kebal terhadap serangan.
Pengoperasian U-2 juga menuntut keterampilan pilot yang tinggi.
Pada ketinggian ekstrem, rentang kecepatan aman pesawat relatif sempit.
Pilot harus menjaga kecepatan dan posisi pesawat dengan cermat, termasuk saat akan mendarat.
Operasi Rahasia U-2 di Wilayah Uni Soviet
Pada 1956, U-2 mulai menjalankan misi pengintaian operasional.
CIA mengatur penempatan pesawat dan personel untuk mendukung penerbangan rahasia, termasuk dari pangkalan di luar AS.
Kerahasiaan program menjadi penting karena penerbangan tanpa izin di wilayah negara lain dapat memicu persoalan diplomatik.
Menurut catatan sejarah CIA, U-2 menjalankan misi operasional di wilayah Eropa Timur pada 20 Juni 1956.
Pada 4 Juli 1956, pesawat tersebut terbang di atas wilayah Uni Soviet, termasuk Moskow dan Leningrad, yang kini dikenal sebagai St. Petersburg.
Penerbangan itu memberikan kesempatan bagi AS untuk memperoleh foto instalasi strategis Soviet.
Informasi visual yang dikumpulkan membantu analis intelijen memeriksa fasilitas militer dan menilai perkembangan kemampuan persenjataan lawan.
Radar Soviet sebenarnya telah mendeteksi penerbangan U-2.
Kendala utama saat itu adalah pesawat tempur dan rudal pertahanan udara Soviet kesulitan menjangkaunya.
Selama periode awal operasi, ketinggian U-2 membuatnya sulit dicegat oleh sejumlah pesawat tempur dan sistem pertahanan udara yang tersedia.
Operasi di wilayah Soviet berlangsung selama beberapa tahun, hingga sebuah misi pada Mei 1960 berakhir dengan ditembak jatuhnya pesawat.
Pesawat Mata-Mata U-2 Ditembak Jatuh pada 1 Mei 1960
Pada 1 Mei 1960, Francis Gary Powers, pilot yang bekerja untuk CIA, menerbangkan U-2 dalam misi dari Pakistan menuju Norwegia.
Rutenya melintasi wilayah Uni Soviet untuk mengambil foto instalasi militer strategis.
Di dekat Sverdlovsk, yang kini bernama Yekaterinburg, sistem pertahanan udara Soviet menyerang pesawatnya menggunakan rudal permukaan-ke-udara.
Ledakan rudal merusak U-2 sehingga Powers tidak dapat melanjutkan penerbangan. Pesawat tersebut jatuh di wilayah Soviet.
Powers berhasil keluar dari pesawat dan turun menggunakan parasut, tetapi kemudian ditangkap oleh pihak Soviet.
Soviet juga memperoleh puing-puing pesawat dan peralatan pengintaian, termasuk kamera.
Bukti fisik tersebut membantu pemerintah Soviet menunjukkan bahwa penerbangan itu merupakan misi pengintaian AS.
Setelah pesawat hilang, pemerintah AS pada awalnya menjelaskan bahwa pesawat tersebut digunakan untuk penelitian cuaca dan mungkin menyimpang akibat masalah teknis.
Penjelasan itu tidak dapat dipertahankan setelah pemimpin Soviet Nikita Khrushchev mengumumkan bahwa Powers masih hidup dan pihak Soviet memiliki bukti pesawat pengintai.
Pada 11 Mei 1960, Presiden Eisenhower mengakui bahwa pemerintahannya mengetahui dan menyetujui program penerbangan pengintaian U-2.
Pengakuan tersebut membuat keberadaan program rahasia AS menjadi persoalan terbuka dalam hubungan kedua negara.
Insiden U-2 Menggagalkan KTT Paris 1960
Insiden penembakan U-2 terjadi beberapa minggu sebelum pertemuan puncak AS, Uni Soviet, Inggris, dan Prancis di Paris pada Mei 1960.
Pertemuan itu diharapkan membahas sejumlah persoalan internasional di tengah ketegangan Perang Dingin.
Khrushchev menuntut Eisenhower meminta maaf atas penerbangan pengintaian tersebut dan menjamin bahwa operasi serupa tidak akan diulangi.
Eisenhower menolak memenuhi tuntutan itu. Perselisihan tersebut menyebabkan pertemuan puncak Paris gagal melanjutkan agenda yang direncanakan.
Powers diadili di Uni Soviet dan dijatuhi hukuman tiga tahun penjara serta tujuh tahun kerja paksa.
Pada Februari 1962, dia dibebaskan melalui pertukaran tahanan dengan Rudolf Abel, perwira intelijen Soviet yang ditahan Amerika Serikat.
Pertukaran berlangsung di Jembatan Glienicke, yang menghubungkan Berlin Barat dengan wilayah Potsdam di Jerman Timur.
Insiden tersebut membuat AS menghentikan penerbangan U-2 di atas wilayah Uni Soviet.
Namun, program U-2 secara keseluruhan tetap berjalan dan pesawat tersebut masih digunakan untuk misi pengintaian lainnya.
Satelit Mata-Mata dan Perkembangan Teknologi Pengintaian AS
Setelah insiden 1960, satelit pengintai semakin berperan dalam pengumpulan informasi strategis AS.
Teknologi ini memungkinkan pengambilan citra wilayah lawan dari orbit tanpa mengirim pesawat berawak langsung ke ruang udara negara tersebut.
Citra satelit kemudian mengambil alih sebagian fungsi foto udara U-2 dalam pengawasan strategis.
Perkembangan ini mengubah cara AS mengumpulkan informasi mengenai instalasi militer dan kemampuan persenjataan Uni Soviet.
CIA dan Lockheed juga mengembangkan pesawat pengintai lain, termasuk A-12 OXCART.
Program tersebut dirancang untuk menghasilkan pesawat yang mampu terbang lebih cepat dan lebih tinggi untuk memenuhi kebutuhan pengintaian yang berkembang seiring kemajuan pertahanan udara.
U-2 sendiri tetap memiliki peran penting. Pada Oktober 1962, foto hasil penerbangan pengintaian U-2 di atas Kuba membantu pemerintah AS mengonfirmasi keberadaan instalasi rudal nuklir Soviet.
Informasi tersebut menjadi salah satu dasar penting dalam perkembangan Krisis Rudal Kuba. [BP]
Follow channel WhatsApp Koran Suluh Indonesia dan temukan lebih banyak kisah sejarah dunia, operasi intelijen, dan peristiwa penting yang jarang dibahas.





