Catatan Cak AT:
Selama beberapa pekan, satu menit adegan film You Can See Everything membuat dunia dokumenter, komedi, dan penipuan medis ramai membicarakannya. Nathan Fielder, komedian absurd, kembali mempermainkan batas antara kenyataan dan rekayasa.
Fielder menatap mata biru Elizabeth Holmes. Wajah Holmes-Fielder berjarak beberapa sentimeter. Keduanya nyaris tak berkedip. Lalu Fielder bertanya,“Are you being real right now?” Benarkah kau sedang sungguh-sungguh sekarang?
Pertanyaan itu terdengar sederhana. Tapi di hadapan Holmes, seorang terpidana penipuan yang pernah menjanjikan revolusi pemeriksaan darah melalui perusahaan Theranos ia menjelma menjadi pintu menuju labirin yang membuat penonton sulit membedakan kejujuran, akting, dan siasat.
Film dokumenter You Can See Everything garapan Nathan Fielder dan Lance Oppenheim memanfaatkan pertanyaan itu untuk membawa penonton memasuki permainan psikologis yang jauh lebih rumit daripada dugaan mereka.
Film berdurasi tiga jam ini mengundang rasa ingin tahu sekaligus kegelisahan. Siapa sebenarnya yang sedang mengamati siapa? Apakah kamera merekam kehidupan apa adanya, atau justru membantu para tokohnya menyusun citra baru?
Dan ketika seseorang mengaku ingin memperlihatkan seluruh kehidupannya kepada publik, You Can See Everything, apakah keterbukaan itu menjamin kebenaran?
Elizabeth Holmes pernah menjadi bintang Silicon Valley. Ia mendirikan Theranos dengan janji mengubah layanan kesehatan melalui teknologi yang mampu melakukan banyak pemeriksaan darah hanya menggunakan sedikit sampel.
Investor, politisi, dan tokoh bisnis terpikat oleh ambisinya. Majalah-majalah bisnis menempatkannya sebagai ikon perempuan muda yang berani menantang industri medis.
Dengan rambut pirang, suara berat yang khas, dan gaya bicara penuh keyakinan, Holmes membangun citra seorang inovator yang siap mengubah dunia.
Namun, penyelidikan mengungkap jurang besar antara janji perusahaan dan kemampuan teknologinya. Theranos tidak mampu memenuhi banyak klaim yang dipromosikan kepada publik. Perusahaan itu runtuh, dan Holmes menghadapi proses pidana.
Pada 2022, pengadilan federal Amerika Serikat menyatakannya bersalah atas empat dakwaan terkait penipuan terhadap investor. Pengadilan menjatuhkan hukuman penjara 135 bulan pada November tahun yang sama.
Kisahnya menjadi salah satu skandal paling terkenal dalam sejarah industri teknologi modern: sebuah perusahaan yang menjual masa depan, tetapi gagal membuktikan bahwa masa depan itu benar-benar bekerja.
Di sinilah You Can See Everything menemukan bahan bakar dramatisnya. Pada 2023, ketika Holmes sudah menghadapi hukuman penjara, ia dan suaminya, Billy Evans, mengundang tim film untuk merekam kehidupan keluarga mereka bersama dua anak kecil.
Evans menyatakan bahwa cara terbaik agar publik mengenal Holmes ialah memberikan akses seluas mungkin ke kehidupan sehari-hari mereka.
Pernyataan itu terdengar meyakinkan. Namun, ketika seseorang yang pernah terlibat dalam skandal besar menawarkan akses tanpa batas, penonton wajar bertanya: akses untuk memahami kenyataan atau akses untuk mengendalikan cerita?
Pilihan Holmes dan Evans terhadap dua pembuat film itu terasa ganjil sekaligus menggoda.
Lance Oppenheim dikenal melalui gaya dokumenternya yang menampilkan keanehan kehidupan biasa dengan komposisi gambar yang mencolok, bingkai rapat, dan gerakan kamera yang perlahan mendekati wajah.
Fielder, sementara itu, membangun reputasi melalui komedi yang menguji kecanggungan sosial, manipulasi, dan batas kenyataan. Serial HBO _The Rehearsal_ memperlihatkan bagaimana ia menggunakan simulasi dan latihan berlapis untuk menelusuri perilaku manusia.
Ia gemar menciptakan situasi yang membuat orang bertanya apakah mereka sedang menjalani pengalaman nyata atau memainkan peran dalam skenario yang telah disusun.
Bayangkan seorang terdakwa penipuan mengundang pembuat film yang terkenal karena mengungkap kejanggalan perilaku manusia. Bayangkan pula pembuat film itu membawa kamera ke rumah sang terdakwa, merekam percakapan keluarga, dan mengajukan pertanyaan yang mungkin tak ingin dijawab tuan rumah.
Pertemuan itu seperti mengundang rubah untuk mengawasi kandang ayam, lalu berharap laporan pengawasannya dapat memulihkan reputasi pemilik kandang. Sejak awal, ketegangan sudah bersemayam di dalam pilihan para tokoh.
Kekuatan film ini terletak pada cara Oppenheim dan Fielder mengolah ketegangan tersebut. Mereka merekamnya seperti film thriller, memberi suasana dramatik melalui musik, lalu menahan kamera cukup lama untuk membuat setiap ekspresi terasa mencurigakan.
Tatapan Holmes dapat menunjukkan keramahan, tetapi juga memancing pertanyaan tentang apa yang ia sembunyikan. Jawaban Evans dapat terdengar lugas, tetapi penonton tetap mencari celah antara kata-katanya dan gerak tubuhnya.
Kamera tidak memberikan sertifikat kebenaran. Ia justru memperbesar ketidakpastian.
Penonton yang mengenal karya Fielder tentu mengharapkan perubahan arah yang tak terduga. Komedian itu membangun cerita melalui situasi yang awalnya tampak biasa, kemudian berkembang menjadi eksperimen sosial yang semakin ganjil.
Dalam film ini, metode tersebut menemukan lawan yang sepadan. Holmes telah lama membangun citra publik melalui pengendalian informasi, penampilan, dan narasi perusahaan. Ia memahami pentingnya meyakinkan orang lain.
Sementara Fielder memahami pentingnya mempertanyakan keyakinan yang telanjur terbentuk. Keduanya memasuki arena dengan kemampuan masing-masing untuk mengatur persepsi.
Namun, penonton perlu membedakan kecakapan mengatur persepsi dari kemampuan membuktikan kebenaran. Seseorang dapat terlihat tenang ketika berbohong, sementara orang yang berkata jujur bisa tampak gugup.
Tatapan mata, intonasi, dan bahasa tubuh tidak menyediakan alat ukur yang andal untuk menentukan kebohongan secara mandiri.
Karena itu, daya tarik film ini tidak bergantung pada kemampuan penonton menebak siapa yang berbohong dari satu gerakan alis. Film ini lebih kuat ketika memperlihatkan betapa mudahnya manusia membangun kesimpulan dari potongan perilaku yang terbatas.
Skandal Theranos juga membuka persoalan yang melampaui karakter Holmes. Mengapa begitu banyak investor dan tokoh berpengaruh mempercayai perusahaan itu? Mengapa janji teknologi yang terdengar revolusioner memperoleh tempat begitu besar sebelum perusahaan membuktikan kemampuan produknya?
Jawabannya berkaitan dengan budaya yang memuja pendiri perusahaan, pertumbuhan cepat, dan narasi tentang masa depan.
Dalam ekosistem seperti itu, orang dapat menganggap keraguan sebagai tanda bahwa seseorang kurang visioner. Padahal, dalam bidang kesehatan, satu klaim yang keliru dapat memengaruhi keputusan medis dan membahayakan pasien.
Kasus Theranos memperlihatkan bagaimana pesona pribadi dan reputasi dapat mengalahkan pemeriksaan bukti. Holmes mampu membangun hubungan dengan investor dan tokoh berpengaruh, sementara teknologi perusahaannya gagal memenuhi berbagai klaim yang dipasarkan.
Kisah ini sejalan dengan masalah yang kerap muncul dalam tata kelola perusahaan: ketika pengawasan lemah, konflik kepentingan tersembunyi, dan pemimpin terlalu kuat mengendalikan informasi, organisasi mudah kehilangan kemampuan untuk mengoreksi kesalahannya sendiri. Keyakinan seorang pendiri akhirnya menggantikan pengujian yang seharusnya menjadi dasar keputusan.
Film Fielder dan Oppenheim menarik karena membawa persoalan tersebut ke ruang domestik. Penonton tidak hanya melihat nama perusahaan, dokumen hukum, atau pernyataan resmi. Mereka menyaksikan kehidupan keluarga, percakapan sehari-hari, dan upaya para tokoh mengelola kesan.
Perpindahan ruang itu mengubah skandal bisnis menjadi pertanyaan tentang manusia. Apakah seseorang bisa memisahkan dirinya dari kebohongan yang pernah ia lakukan? Apakah keluarga dapat menjadi tempat perlindungan dari penghakiman publik? Dan apakah kamera yang terus merekam sanggup menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut?
Di titik ini, film dokumenter menunjukkan paradoksnya sendiri. Semakin banyak penonton melihat Holmes, semakin besar pula bahan yang mereka gunakan untuk menafsirkan dirinya.
Namun, banyaknya gambar tidak otomatis menghasilkan pemahaman yang utuh. Kamera dapat merekam wajahnya selama berjam-jam, tetapi tidak bisa langsung membuka seluruh isi pikirannya. Penonton mungkin memperoleh akses yang belum pernah mereka bayangkan, sementara kepastian tentang kebenaran tetap menjauh. Kita melihat semakin banyak, tetapi belum tentu memahami semakin dalam.
Judul You Can See Everything pun terasa ironis. Kita bisa melihat semuanya, setidaknya begitulah janji judulnya. Namun, penglihatan memiliki batas.
Kita melihat perilaku, mendengar pengakuan, dan menilai konsistensi cerita. Untuk menetapkan fakta, kita tetap membutuhkan bukti yang dapat diperiksa, dokumen yang dapat diuji, dan proses hukum yang mengikuti aturan.
Film dapat membantu kita memahami kompleksitas manusia, tetapi tidak menggantikan pekerjaan pengadilan atau investigasi jurnalistik.
Karya ini juga menantang etika dokumenter. Ketika pembuat film membiarkan kamera merekam kehidupan seseorang yang sedang menghadapi krisis reputasi, mereka harus mempertimbangkan hubungan kuasa antara pembuat gambar dan subjeknya.
Siapa yang mengendalikan penyuntingan? Siapa yang menentukan konteks? Apakah keterbukaan subjek sungguh-sungguh sukarela, atau ia berharap memperoleh keuntungan reputasional?
Pertanyaan itu semakin penting ketika subjek memiliki kepentingan untuk membentuk ulang pandangan publik terhadap dirinya.
Fielder sendiri bukan pengamat yang sepenuhnya netral. Ia hadir sebagai tokoh dalam film, mengajukan pertanyaan, menciptakan ketegangan, dan memengaruhi suasana.
Justru keterlibatannya membuat film ini menarik. Ia tidak berpura-pura bahwa kamera hanya menjadi jendela bening menuju kenyataan. Kamera merupakan bagian dari situasi yang direkam.
Kehadiran pembuat film mengubah perilaku orang yang mereka rekam, lalu perubahan itu menjadi bagian dari cerita.


