10 Peristiwa yang Nyaris Memicu Perang Dunia III
Sepanjang sejarah modern, sejumlah krisis internasional pernah meningkatkan risiko perang antara negara-negara besar.
Beberapa insiden bahkan memperlihatkan bagaimana informasi yang keliru dan keputusan dalam situasi penuh tekanan dapat memperburuk krisis.
Berikut 10 peristiwa yang nyaris memicu Perang Dunia III.
1. Krisis Suez 1956: Ancaman Intervensi Uni Soviet
Krisis Suez bermula setelah Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser menasionalisasi Terusan Suez pada Juli 1956.
Terusan tersebut merupakan jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Laut Tengah dengan Laut Merah.
Inggris dan Prancis menentang kebijakan tersebut, sedangkan Israel memiliki kepentingan militer dan politik dalam konfliknya dengan Mesir.
Pada 29 Oktober 1956, Israel menyerang Semenanjung Sinai.
Inggris dan Prancis kemudian melancarkan operasi militer terhadap Mesir.
Ketiganya telah menyusun rencana intervensi yang berkaitan dengan konflik di sekitar Terusan Suez.
Uni Soviet mengecam serangan tersebut dan mengeluarkan ancaman tindakan militer terhadap Inggris, Prancis, dan Israel.
Amerika Serikat juga menentang operasi militer sekutunya itu dan menekan mereka agar menghentikan serangan.
Inggris, Prancis, dan Israel akhirnya menghentikan operasi serta menarik pasukan mereka.
2. Konfrontasi Tank di Checkpoint Charlie pada 1961
Pada Oktober 1961, Berlin menjadi lokasi konfrontasi langsung antara Amerika Serikat dan Uni Soviet.
Ketegangan meningkat setelah terjadi perselisihan mengenai hak personel AS untuk melintasi perbatasan Berlin Timur.
Pada 27 Oktober, tank AS dan Soviet ditempatkan saling berhadapan di Checkpoint Charlie, titik penyeberangan antara Berlin Barat dan Berlin Timur.
Kendaraan lapis baja kedua pihak berada dalam jarak dekat, sehingga bentrokan langsung menjadi risiko yang harus dihadapi.
Konfrontasi berlangsung selama beberapa jam. Pada 28 Oktober, tank Soviet mulai mundur, diikuti tank AS.
Penarikan tersebut membantu meredakan ketegangan sehingga tidak ada pertempuran langsung.
3. Krisis Rudal Kuba 1962
Krisis Rudal Kuba berlangsung pada 16–28 Oktober 1962 dan menjadi salah satu konfrontasi paling berbahaya dalam sejarah Perang Dingin.
Pemerintah AS mengetahui bahwa Uni Soviet sedang menempatkan rudal nuklir di Kuba, yang berada dekat dengan wilayah AS.
Presiden John F. Kennedy mengumumkan karantina laut terhadap Kuba untuk mencegah masuknya persenjataan ofensif tambahan.
Pemerintah AS juga mempertimbangkan sejumlah opsi militer, termasuk serangan udara terhadap instalasi rudal dan invasi ke Kuba.
Pemimpin Soviet Nikita Khrushchev menghadapi tekanan untuk mempertahankan kepentingan negaranya sekaligus menghindari perang langsung dengan AS.
Situasi semakin berbahaya karena kedua negara memiliki persenjataan nuklir dan serangan militer berpotensi memicu pembalasan.
Krisis berakhir melalui negosiasi. Uni Soviet menyetujui penarikan rudal dari Kuba, sementara AS memberikan jaminan tidak akan menginvasi negara tersebut.
Dalam kesepakatan terpisah yang dirahasiakan saat itu, pemerintahan Kennedy juga menyetujui penarikan rudal Jupiter AS dari Turki, yang dilaksanakan beberapa bulan kemudian.
4. Insiden Kapal Selam Soviet B-59 pada 1962
Pada 27 Oktober 1962, ketika Krisis Rudal Kuba mencapai titik genting, kapal selam Soviet B-59 berada di perairan dekat Kuba.
Kapal tersebut kehilangan kontak dengan Moskow selama beberapa hari.
Sementara itu, kapal-kapal Angkatan Laut AS menjatuhkan granat latihan untuk memaksanya muncul ke permukaan.
Awak B-59 menghadapi kondisi yang sulit. Suhu di dalam kapal meningkat, sistem pendingin udara mengalami masalah, dan daya baterai menurun.
Karena tidak mengetahui secara pasti perkembangan krisis, awak kapal juga tidak dapat memastikan apakah perang telah dimulai.
B-59 membawa torpedo berujung hulu ledak nuklir. Menurut kesaksian yang kemudian diteliti, komandan kapal Valentin Savitsky mempertimbangkan penggunaan torpedo tersebut.
Vasili Arkhipov, kepala staf brigade kapal selam yang berada di kapal, menentang eskalasi dan mendukung pilihan untuk muncul ke permukaan.
Kapal selam itu akhirnya muncul tanpa meluncurkan torpedo nuklir.
5. Perang Yom Kippur dan Siaga Militer Amerika Serikat pada 1973
Pada 6 Oktober 1973, Mesir dan Suriah menyerang Israel.
Perang Yom Kippur berkembang di tengah persaingan Amerika Serikat dan Uni Soviet, yang mendukung pihak-pihak berbeda di kawasan tersebut.
AS meningkatkan dukungan militernya kepada Israel, sedangkan Uni Soviet memasok bantuan kepada Mesir dan Suriah.
Ketika pertempuran berlangsung dan upaya gencatan senjata menghadapi kesulitan, Moskow mengusulkan kemungkinan pengiriman pasukan AS dan Soviet bersama-sama ke Mesir untuk memastikan pelaksanaan gencatan senjata.
Pemerintahan Presiden Richard Nixon memandang situasi tersebut sebagai persoalan keamanan serius.
Pada 25 Oktober 1973, AS meningkatkan status kesiagaan militernya menjadi DEFCON 3, yang menandakan peningkatan kesiapan menghadapi kemungkinan keadaan darurat.
Langkah tersebut tidak berarti AS telah memutuskan untuk melancarkan serangan nuklir.
Krisis mereda melalui diplomasi dan pelaksanaan gencatan senjata.
6. Alarm Serangan Rudal Palsu di NORAD pada 1979
Pada 9 November 1979, sistem komputer di North American Aerospace Defense Command (NORAD), pusat komando pertahanan udara Amerika Serikat dan Kanada, menampilkan data simulasi serangan rudal Soviet.
Data latihan tersebut secara tidak sengaja masuk ke sistem operasional dan diteruskan ke sejumlah pusat komando militer.
Peringatan itu menimbulkan kekhawatiran karena sistem pertahanan harus mampu membedakan simulasi, gangguan teknis, dan serangan nyata.
Dalam konteks Perang Dingin, kesalahan identifikasi berpotensi memengaruhi keputusan militer dalam waktu singkat.
Dokumen pemerintah AS mencatat bahwa pusat-pusat komando segera memeriksa informasi tersebut.
Data dari sistem lain tidak mengonfirmasi adanya serangan, sehingga alarm itu dikenali sebagai alarm palsu.
Tidak ada unit strategis bersenjata nuklir yang meningkatkan kesiagaan sebagai akibat insiden tersebut.
7. Alarm Palsu Sistem Peringatan Nuklir Soviet pada 1983
Pada 26 September 1983, sistem satelit peringatan dini Soviet melaporkan adanya peluncuran rudal balistik dari AS.
Letnan Kolonel Stanislav Petrov sedang bertugas di pusat komando Serpukhov-15 ketika peringatan tersebut muncul.
Sistem kemudian melaporkan beberapa peluncuran tambahan.
Petrov harus menilai apakah informasi itu menunjukkan serangan nyata.
Dia meragukan laporan tersebut karena sistem baru itu belum sepenuhnya dapat diandalkan dan pola serangan yang dilaporkan dinilainya tidak meyakinkan.
Radar darat juga belum mengonfirmasi peluncuran tersebut.
Petrov melaporkan bahwa peringatan itu merupakan alarm palsu.
Pemeriksaan selanjutnya menunjukkan bahwa sistem telah salah mengidentifikasi pantulan sinar matahari pada awan sebagai tanda peluncuran rudal.
Insiden tersebut terjadi beberapa minggu setelah Uni Soviet menembak jatuh pesawat penumpang Korean Air Lines 007 pada 1 September 1983.
Hubungan Soviet–Amerika saat itu sedang tegang, tetapi Soviet tidak melancarkan serangan nuklir sebagai respons terhadap alarm tersebut.
8. Able Archer 83: Latihan NATO yang Dicurigai Soviet
Pada 2–11 November 1983, NATO menyelenggarakan Able Archer 83, latihan komando yang menguji prosedur komunikasi dan pengambilan keputusan dalam skenario eskalasi konflik, termasuk kemungkinan penggunaan senjata nuklir.
Latihan berlangsung ketika hubungan AS dan Uni Soviet memburuk.
Di bawah kepemimpinan Presiden Ronald Reagan, AS meningkatkan tekanan strategis terhadap Uni Soviet.
Di pihak Soviet, sejumlah pejabat dan unsur intelijen khawatir bahwa Barat mungkin melancarkan serangan mendadak dengan memanfaatkan latihan militer sebagai kedok.
Kekhawatiran tersebut berkaitan dengan operasi intelijen Soviet yang dikenal sebagai RYaN, program untuk mendeteksi tanda-tanda kemungkinan serangan nuklir oleh Barat.
Informasi mengenai latihan NATO dinilai mencurigakan. Sejumlah unsur militer Soviet meningkatkan kesiagaan dan memantau kegiatan NATO.
Tingkat ancaman Able Archer 83 masih menjadi bahan perdebatan akademis.
Sejumlah peneliti menekankan latihan tersebut meningkatkan risiko salah perhitungan, sedangkan penilaian intelijen AS pada 1984 menyimpulkan bahwa pimpinan Soviet tidak menganggap konflik dengan AS akan segera terjadi.
9. Insiden Roket Penelitian Norwegia pada 1995
Pada 25 Januari 1995, ilmuwan Norwegia dan AS meluncurkan roket penelitian Black Brant XII dari Andøya, Norwegia, untuk mempelajari aurora dan fenomena atmosfer terkait.
Peluncuran tersebut telah diberitahukan melalui prosedur yang berlaku, tetapi informasi itu tidak berhasil mencegah munculnya alarm di Rusia.
Lintasan dan karakteristik roket memicu kekhawatiran pada sistem radar Rusia karena pada tahap tertentu menyerupai kemungkinan ancaman rudal yang diluncurkan dari kapal selam.
Salah satu kekhawatiran yang muncul adalah kemungkinan bahwa rudal tersebut membawa hulu ledak nuklir.
Presiden Rusia Boris Yeltsin menerima perangkat komunikasi nuklir darurat yang dikenal sebagai Cheget.
Setelah data radar tambahan diperiksa, otoritas Rusia menyimpulkan bahwa roket tersebut tidak menunjukkan serangan nuklir.
Akhirnya, tidak ada serangan balasan yang diluncurkan.
10. Krisis Selat Taiwan pada 1995–1996
Krisis Selat Taiwan meningkat setelah Presiden Taiwan Lee Teng-hui mengunjungi AS pada 1995.
Pemerintah China menentang kunjungan tersebut dan memandang perkembangan hubungan Taiwan–AS sebagai persoalan serius yang berkaitan dengan kedaulatan dan reunifikasi China.
China kemudian mengadakan latihan militer dan uji coba rudal di perairan sekitar Taiwan.
Sejumlah latihan berlangsung menjelang pemilihan presiden Taiwan pada Maret 1996.
Tindakan tersebut meningkatkan ketegangan di kawasan dan menimbulkan kekhawatiran mengenai kemungkinan konflik militer.
AS merespons dengan mengerahkan dua kelompok tempur kapal induk ke kawasan tersebut.
Kehadiran militer itu memperlihatkan komitmen Washington terhadap stabilitas kawasan dan kemampuannya merespons jika konflik meningkat.
Krisis mereda tanpa perang langsung antara China dan Amerika Serikat.
Namun, peristiwa tersebut menunjukkan bagaimana sengketa Taiwan dapat melibatkan kekuatan besar dan meningkatkan risiko bentrokan militer. [BP]
Follow channel WhatsApp Koran Suluh Indonesia dan dapatkan pemberitahuan tentang lebih banyak artikel sejarah, intelijen, dan peristiwa internasional.
https://whatsapp.com/channel/0029VbByPYj3WHTNpxLmO93I





